Islamsantun.org. “…dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Q.S. Al-Hadid : 20 )

Kemilau kehidupan dunia sering kali melenakan manusia. Kesenangan dan kenikmatan yang ada di dalamnya tak jarang membuat mereka lupa hakekat dan tujuan hidup yang sesungguhnya. Mereka larut dan terbuai dininabobokan oleh kesenangan semu yang sering kali dianggap sebagai kebahagiaan hakiki.

Ayat yang penulis kutip di awal tulisan ini menjadi penegas tentang pernyataan tersebut. Ya, kehidupan dunia ini tak lain dan tak bukan hanyalah kesenangan yang menipu.

Muhammad ‘Ali Al-Shabuni dalam Shafwat al-Tafasir ketika menjelaskan makna ayat di atas menyatakan bahwa kehidupan dunia adalah kehidupan yang lekas sirna. Kesenangan dan kenikmatan di dalamnya mudah hilang. Kehidupan dunia menipu orang-orang yang lalai dan melenakan orang-orang bodoh.

Selanjutnya, Al-Shabuni mengutip pendapat Said bin Jubair yang menyatakan bahwa kehidupan dunia dianggap sebagai kesenangan semu, ketika ianya merusak kehidupan kita dengan menjadikan kita lalai untuk mencari bekal bagi kehidupan akhirat. Tetapi, jika kehidupan dunia ini membuat kita sadar untuk mencari rida Allah dan bekal kehidupan akhirat, maka inilah sebaik-baik kesenangan dan sebaik-baik wasilah.

Dari keterangan di atas dapat dipahami bahwa kehidupan dunia hakekatnya hanyalah kesenangan dan kenikmatan semu bagi mereka yang lalai dan terlena, yang menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan akhir, bukan persinggahan sementara untuk mencari bekal sebanyak-banyaknya bagi kehidupan akhirat.

Padahal, Nabi Muhammad Saw. melalui sabdanya pernah mengingatkan, “Dunia adalah ladang untuk kehidpan akhirat”. Artinya, bahwa kehidupan dunia adalah tempat kita untuk menanam sebanyak mungkin kebaikan agar kelak kita memanen kebahagiaan di akhirat.

Kesenangan semu ini bisa menjadi kebahagiaan sejati, ketika kita menyadari bahwa dunia dan seisinya yang fana ini adalah wasilah untuk mengantarkan kita menuju kehidupan akhirat yang abadi.

* Ruang Inspirasi, Kamis, 5 Agustus 2021.