Pada hakikatnya, puasa tak hanya menuntut kita untuk menahan makan dan minum dari subuh sampai magrib saja. Namun lebih dari itu, puasa menuntut kita untuk tak melakukan suatu hal yang sia-sia, baik saat pagi hari maupun malam hari. Kita dituntut untuk melakukan ibadah secara terus menerus tanpa henti, karena saaat Ramadan inilah pahala amalan kita dilipatgandakan daripada semestinya.

Kita harus senantiasa beribadah, terus beribadah sampai bulan Ramadan selesai. Namun tahukah anda, manusia itu sendiri memiliki titik jenuh?

Beberapa kaum muda pasti menghabiskan waktu jenuhnya dengan gawai. Eh tidak, mungkin mayoritas pemuda zaman sekarang ini, entah menghabiskan waktu untuk scroll beranda sosmed, ataupun bermain game.

Tentunya kita sudah tak asing lagi dengan istilah pushrank di kalangan anak muda zaman sekarang. Kegiatan yang menghabiskan waktu berjam-jam di depan gawai untuk meningkatkan ranking akun game seseorang, terkadang dimainkan secara multiplayer oleh beberapa pemuda yang sedang bermain bersama.

Kembali ke hakikat puasa tadi, kita dituntut untuk tak melakukan hal yang sia-sia, namun kita sendiri memiliki titik jenuh dalam kehidupan kita.

Sama halnya dengan tidur. Beberapa kalangan pemuda menghabiskan waktu siang hari puasa mereka untuk tidur seharian, dengan alasan tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah. Memanglah benar bahwa tidurnya orang yang berpuasa itu nilainya adalah ibadah, namun ibadahnya orang yang berpuasa itu bukanlah tidur.

Mungkin ada beberapa pemuda yang malah menghabiskan waktu malamnya untuk bermain game. Waktu siangnya untuk tidur karena begadang semalaman. Hal ini memicu dampak kemageran yang begitu sulit untuk dihilangkan. Mengingat kita sedang dalam berperang melawan hawa nafsu, akan tetapi malah bermalas-malasan dengan dalih agar puasa kita tidak batal di tengah jalan.

Padahal, kita bisa mengalihkan titik jenuh tersebut dengan kegiatan yang lebih bermanfaat seperti menulis, berkarya, atau hanya sekadar kumpul dengan teman-teman untuk membersihkan masjid, menyiapkan segala keperluan masjid, TPQ atau salat tarawih, dan bisa dengan bagi-bagi takjil kepada mereka yang lebih membutuhkan. Dengan begitu titik jenuh kita bisa teratasi bersama teman-teman selama puasa.

Namun tak selamanya pushrank berakhir dengan kesia-siaan. Kita bisa mengalihkan istilah tersebut kepada hal yang lebih bermanfaat. Misalnya membaca buku dari tiga lembar jadi puluhan lembar, menulis satu halaman menjadi satu bab, misalnya. Atau bisa kita alihkan menjadi pushrank ngaji dari iqro satu ke iqro enam, khatam Al-Qur’an dua kali dalam sebulan, sedekah yang awalnya cuma seribu terus meningkat sampai ke nominal 10 ribu, dan masih banyak lagi kegiatan positif yang dapat kita lakukan selama Ramadan.

Dengan begitu, pahala kita pun akan meningkat drastis, karena pada dasarnya pahala dapat dilipatgandakan saat bulan Ramadan ini daripada hari-hari biasa. Sungguh keren sekali, bukan? Makanya dari kalangan sahabat nabi dulu menyambut Ramadan dengan hati yang penuh dengan kegembiraan. Karena apa? Ya karena Ramadan ini bulan yang begitu spesial untuk mencari pahala yang begitu mudah untuk didapat. Mari kita ubah pola hidup kita saat bulan puasa ini.

Dengan begitu kita tidak menjadi salah satu dari beberapa manusia yang merugi saat bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah ini.