Terhitung sudah 12 hari saya menjalani puasa di Australia. Negeri yang sering dijuluki negeri kangguru ini tak pelak memberi nuansa dan pengalaman berbeda dalam menjalani ibadah puasa. Hal ini tak bisa dihindari mengingat jumlah umat Islam, terutama di Adelaide-South Australia di mana saya tinggal, terhitung minoritas. Hingga saya menulis, saya masih belum bisa memperoleh informasi jumlah umat Islam di Adelaide maupun di Australia secara keseluruhan. Sebagai gambaran, pelaksanaan sholat Jumat sejauh ini baru saya temukan hanya di sebuah common room di kompleks Flinders University. Common room merupakan ruang yang disediakan pihak kampus sebagai tempat pelaksanaan ibadah semua agama. Jamaah sholat jumat sebagian besar diisi orang asal Indonesia.

Di negeri macam Indonesia, di mana penduduknya mayoritas beragama Islam, menjalankan puasa Ramadan seperti sebuah hajatan besar. Hampir di tiap sudut kota kita bisa menemukan ucapan selamat menjalankan ibadah puasa. Tak hanya itu, hampir semua media, baik cetak maupun televisi, mengubah format acaranya dengan liputan atau tayangan bernuansa religi. Belum lagi tiap sore di sudut jalan atau perempatan, kita hampir bisa menemukan penjaja makanan kecil atau kolak untuk sekedar menjadi makanan pembuka saat maghrib tiba. Pada waktu sahur pun, suasana lebih ramai ketika sekelompok anak muda berkeliling menabuh kentongan untuk membangunkan mereka yang hendak makan sahur.

Tidak sebagaimana di Indonesia, menjalankan ibadah puasa di negeri yang bisa dikatakan menempatkan agama atau keyakinan seseorang sebagai sesuatu yang privat, menjadi begitu individual. Individualitas dalam beragama bisa dimaknai sebagai upaya menjalankan ibadah dengan lebih mengandalkan kemandirian. Waktu untuk berbuka atau sahur tidak bisa lagi mengandalkan suara adzan, tabuhan bedug atau bunyi sirine dari masjid, tetapi harus melihat jam yang ada di rumah masing-masing. Tidak ada pula penjual kolak di perempatan jalan atau orang berkumpul di pusat kota untuk menanti waktu berbuka. Istilahnya ngabuburit. Di Australia, orang menanti berbuka puasa di rumah masing-masing. Kalaupun ada buka puasa bersama, cenderung dilakukan di kampus dan dalam jumlah yang terbatas.
*
Di Indonesia, ibadah yang dilakukan, baik puasa Ramadan atau salat, seringkali mengandalkan institusi masjid untuk menerima adanya penanda waktu sholat atau waktu berbuka. Hal ini tentu tidak bisa lagi diandalkan di negeri macam Australia. Waktu untuk sholat dan ibadah yang lainnya lebih banyak mengandalkan jadwal salat yang bisa diambil dari situs islamicfinder.org. Dari situs inilah, saya menemukan penanda waktu salat, berbuka hingga sahur.

Akan tetapi, justru disinilah makna puasa, bahkan mungkin ibadah-ibadah lainnya, menjadi lebih terlihat. Ketika kita menjalankan ibadah sebagai umat mayoritas, dengan atau tanpa sengaja, kita seolah meminta pemakluman orang lain yang tidak seagama untuk menghormati apa yang sedang kita jalankan. Terkadang, upaya pemakluman ini dilakukan dengan cara kekerasan. Tentu kita ingat adanya sekelompok orang yang menyerang tempat hiburan dan meminta pemiliknya untuk menutup lokasi usaha tersebut selama bulan Ramadan. Alasannya, untuk menghormati orang yang menjalankan ibadah puasa. Hal ini menyiratkan adanya “pemaksaan” bahwa orang lain harus memahami ibadah yang kita jalankan.

Dalam konteks tersebut, rasa hormat yang dilakukan orang lain yang tidak seagama kepada umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa, misalnya, bukan lagi dilandasi pada penghormatan atas ibadah yang kita jalankan, akan tetapi karena rasa takut sebagai minoritas yang harus menghormati apa yang sedang dilakukan oleh kaum mayoritas.

Kultur mayoritas sering membuat orang menjadi egois dan kurang mempedulikan apalagi menghormati keyakinan orang yang berbeda. Memang tidak semua orang yang merasa diri sebagai mayoritas menjadi mau menang sendiri. Harus diakui pula, ada orang atau komunitas yang berada dalam payung mayoritas tapi tetap bisa menghormati bahkan melindungi kelompok lain yang minoritas. Akan tetapi pada umumnya, budaya kelompok mayoritas sering kali merasa harus menguasi dan memenangi segalanya.

Saya lalu teringat sebuah peristiwa beberapa tahun silam ketika masih menimba ilmu di Yogyakarta. Waktu itu, saya mengontrak rumah dengan beberapa teman yang sama-sama kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Mereka ada yang berasal dari Banyuwangi, Semarang dan ada pula yang dari Sunda. Nah, waktu bulan puasa, salah seorang teman saya yang berasal dari Sunda menyimpan setumpukan pamflet di kamarnya. Tanpa sengaja, ketika saya dan teman-teman yang lain berada di kamarnya dan membaca tulisan dalam pamflet tersebut, saya cukup terperangah. Tulisannya kurang lebih; Hormati Bulan Puasa. Dilarang Berjualan Makanan dan Minuman pada Waktu Siang Hari.

Tidak ada yang salah dalam pamflet tersebut. Orang sah-sah saja membuat himbauan atau nasehat. Tetapi, dalam ruang publik, orang seharusnya menghormati orang lain yang tidak seagama yang notabene tidak berpuasa dalam bulan Ramadan. Secara otomatis, mereka pun butuh makan dan minum dan kadang kala hal itu bisa terpenuhi dengan membeli di warung makan, misalnya.

Sebagai minoritas yang sedang menjalankan ibadah puasa di negeri yang mayoritas tidak beragama Islam, ada pengalaman, pelajaran dan tantangan. Saya menjadi terbiasa bersanding dengan orang yang makan dan minum di tempat umum. Ketika sedang berada di halte dan menunggu bis, misalnya, walaupun sedang berpuasa dan kebetulan cuaca di Adelaide mulai masuk musim panas, saya tidak merasa dilecehkan ketika ada orang makan dan minum.

Pun, keberagamaan saya tidak berkurang nilainya ketika orang dengan seenaknya makan dan minum ketika saya berpuasa. Boleh jadi karena mereka tidak tahu bahwa saya sedang berpuasa di mana saya tidak boleh makan dan minum pada waktu siang hari hingga saat magrib tiba. Saya pun teringat dengan ajaran agama yang intinya mengajarkan pada kita bahwa janganlah memarahi atau mengatakan sesuatu yang jelek pada orang lain karena mereka tidak tahu apa yang kita lakukan. Niscaya mereka akan melakukan hal yang lebih buruk.

Mengingat ajaran ini, saya tidak perlu repot-repot pasang pamflet untuk melarang orang berjualan makanan dan minuman pada waktu bulan Ramadan atau beramai-ramai mendatangi klub hiburan dan meminta mereka untuk menutupnya selama bulan Ramadan. Saya yakin, penghormatan mereka atas kita tidak akan muncul dengan sepenuh hati.