Kasih sayang Allah pada manusia memang Mahaluas tak terbatas. Pada bulan ramadan Allah melipatgandakan pahala atas kebaikan yang dilakukan. Hal tersebut membuat banyak manusia ber-fastabiqul khairat di bulan ini. Manifestasinya beragam, ada yang rajin mengisi kotak amal dengan nominal lebih besar dari biasanya, memperbanyak tadarus al-qur’an, ataupun berbagi makanan sahur dan buka puasa. Selain itu, ada fenomena lain yang mungkin menarik untuk diamati yaitu salat tarawih.

Salat tarawih merupakan salat sunah di bulan ramadan yang mendapat atensi dari umat Islam. Bahkan beberapa waktu lalu, media sosial sempat dihebohkan dengan berita pelaksanaan salat tarawih di singgsana para tokoh papan atas, Times Square New York, Amerika Serikat. Penyelenggaraan acara tersebut tidaklah mudah, perlu melewati proses perizinan yang ketat, apalagi diselenggarakan oleh umat Islam yang notabene merupakan kaum minoritas dan dilaksanakan menggunakan pengeras suara.

Hal tersebut mengundang pro dan kontra, ada yang beranggapan tarawih tak pantas dilakukan di sana dan dikhawatirkan menimbulkan riya. Namun banyak juga umat islam di sana yang mendukung acara tersebut, karena meskipun minoritas mereka tetap diberi ruang untuk beribadah sekaligus mensyiarkan nilai-nilai islam. Salah satunya dengan berbagi takjil sebelum tarawih kepada semua orang yang ada di sana, bahkan bukan hanya kepada umat Islam yang berpuasa saja, karena Islam adalah rahmatan lil alamin.

Lain halnya dengan yang terjadi di Amerika Serikat, reaksi umat Islam di Indonesia atas kegiatan salat tarawih beragam. Ada yang antusias, entah lillah atau karena menginginkan jaburan dan tanda tangan pak ustaz pasca tarawihnya, itu yang terjadi pada penulis ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Ada pula yang biasa saja karena menganggap tarawih hanya sebagai salat sunah dan sekadar rutinitas di bulan ramadan.

Namun demikian, nampaknya masih lebih banyak yang antusias. Bahkan saking antusiasnya, beberapa hari lalu beredar sebuah video mengenai tiga orang laki-laki yang nekat salat tarawih di atas pagar tembok musala, sambil menjaga keseimbangannya karena tidak kebagian tempat untuk salat. Netizen menyebutnya dengan “melawan hukum newton”. Entah khusyuk atau tidak, usaha dan semangat mereka patut untuk diacungi jempol, sekaligus menjadi bahan refleksi diri sendiri, “apakah selama ini saya sudah melaksanakan salat dengan khusyuk padahal mendapat banyak kemudahan dan tidak harus salat di atas pagar tembok?”

Kejadian lainnya, terjadi di lingkungan sekitar penulis. Malam 1 ramadan antusias masyarakat untuk melaksanakan salat tarawih begitu besar. Jumlah jamaah lebih banyak dari hari biasanya, sehingga pengurus masjid menyediakan tempat tambahan berupa dua tingkat tanah lapang di belakang masjid. Visualisasinya seperti terasering, dan juga jalan tanjakan di sekitar masjid, dengan posisi jamaah harus salat dengan kemiringan beberapa derajat. Hari-hari selanjutnya, jumlah jamaah tidak sebanyak hari pertama, namun masih dapat dikatakan penuh. Perbedaannya, penulis mengamati bahwa ada beberapa tempat strategis di saf putri yang seringkali ditempati oleh orang yang sama, atau dalam istilah jawa disebut dengan “wis langganan”.

Tempat tersebut dikatakan strategis karena sejuk akan hembusan kipas angin, merupakan saf paling belakang, dekat dengan tembok dan pintu keluar, serta tidak terlalu bising dengan suara anak-anak. Sangat cocok untuk dikatakan sebagai sebuah singgasana salat tarawih. Singgasana tersebut biasanya ditempati oleh ibu-ibu paruh baya yang sering datang lebih awal ke masjid untuk melaksanakan salat qobliyah. Sebenarnya banyak juga kawula muda yang ingin menempati singgasana tersebut, namun mereka segan terhadap orang yang lebih tua. Selain segan, mereka juga kalah cepat dengan ibu-ibu paruh baya tersebut sehingga tidak bisa menempati singgsana yang ada. Jadi untuk kita para kawula muda, apakah kita sudah sesemangat ibu-ibu paruh baya? apakah kita sudah bersungguh-sungguh menghadirkan hati, raga, dan pikiran dalam menjalani bulan ramadan? semoga shaf salat tarawih ramadan kali ini tidak mengalami “kemajuan” dan kita dapat bertransformasi ke arah yang lebih baik daripada sebelumnya.

Pemuatan tulisan ini merupakan kerja sama antara UKM LPM Dinamika dengan Islamsantun.org.

Dwi Aulia Rachmadi Putri, mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah UIN Raden Mas Said Surakarta