Islamsantun.org. Di kalangan sejarawan, sumber-sumber pra-Islam kerap digunakan untuk melihat apakah kata “Arab” merujuk pada kelompok etnik tertentu di awal kemunculan Islam. Penelitian seputar tema ini sudah cukup luas. Sumber-sumber itu meliputi Suriah kuno (Assyria: 800-600 sebelum masehi), Yunani klasik (600 SM – 100 M), dan sumber2 pra-Islam (abad 1-7 M).

Riset mutakhir oleh Hoyland dan Webb mempersoalkan bahwa etnik grup Arab sudah bisa diidentifikasi sebelum Islam. Kata derivatif yang mirip “Arab” memang ditemukan dalam sumber2 itu, tapi tidak merujuk pada ethnonym atau grup etnik. Dari sumber Assyria, misalnnya, disebutkan pada thn 853 SM, Raja Syalmaneser III berperang melawan orang “Arba-a” dari gurun selatan Damaskus dipimpin oleh Jindibu.

Kata “Arba-a” secara salah kaprah diterjemahkan Arab, seolah-olah kata itu merujuk pada etnik grup Arab. Padahal, kata itu tdk digunakan sebagai istilah utk mengidentifikasi diri. Jadi, Arba-a tidak bisa digunakan sebagai asal-mula etnik ke-Arab-an. Orang-orang Assyrian menggunakan kata Arba-a itu untuk melabeli tipe masyarakat tertentu di gurun.

Kata “Arba-a” itu mirip dgn kognat kata Semitik ‘araba, yang berarti “padang rumput yg luas,” atau kata Assyrian untuk “barat” (erebu) atau “ladang” (erbu). Orang yang tanpa sanak famili disebut “arbu” atau “arbatu”.

Sumber-sumber Assyrian itu sudah diteliti dgn sangat jeli oleh Robin dan Dousse, dan mereka berkesimpulan bahwa “Arba-a” yang digunakan oleh Raja Syalmaneser III itu adalah sebutan utk orang-orang nomad, mereka yg berada di luar kontrol kekuasaannya. Pasca zaman Syalmaneser III, sekitar 1-2 abad setelahnya, ditemukan istilah “aribi” dan “araba” untuk melabeli orang2 nomad di wilayah yang sekarang bagian dari Suriah, Yordania dan Irak.

Belakangan ditemukan beragam istilah lain digunakan, yakni “urbi”, “arbaya”, “aribi”, “aruba”, “adibi’il” dan lainnya. Penelitian ttg kemunculan istilah2 itu melibatkan bagaimana istilah itu digunakan, kepada siapa, dalam konteks apa, dan apa ada perubahan dari masa ke masa. Jadi, tdk cukup diamati secara filologis: Asal ada kata yg mirip kognat “Arab” kemudian disimpulkan sudah ada etnik Arab sebelum Islam. Perlu pengamatan historis yg cermat.

Dari sumber Yunani, Herodotus dan para penulis Helenistik menggambarkan daerah Mesopotamia dan bagian Nil sebagai Arabia, yakni Αραβια, dan penduduknya disebut Αραβιή. Deskripsi dalam literatur Yunani ini membentuk cara pandang byk sarjana modern dalam mengidentifikasi siapa itu orang-orang Arab. Generalisasi Helenistik mengaburkan kenyataan bahwa wilayah yang disebut Arab atau Arabia itu sangat beragam.

Yang juga dilupakan oleh beberapa sarjana modern ialah: Apakah orang-orang yang disebut Arab itu mengidentifikasi diri mereka sebagai “Arab”. Di sini menjadi penting meneliti sumber-sumber pra-Islam dari wilayah yg dikenal “wilayah Arab,” termasuk syair-syair Jahiliyah. Dari berbagai inskripsi yang ditemukan di Yaman, yg bahkan sebagian bisa dilacak hingga abad ke7-6 SM, tidak bnyk disebut kata ‘rb (Arab). Menurut Webb, hanya ditemukan dua inskripsi yg memuat kata itu. Yg bnyk ditemukan ialah a‘rab.

Saya kira, Christian Robin adalah sarjana yg paling mendalami inskripsi2 dari wilayah Arab selatan itu. Dan dia menemukan dari abad pertama 1 SM hingga abad ke-5 M istilah2 berikut: ʿrb (ʿarab), ʿrby (ʿarabī) dan ʾʿrb (aʿrab – atau ʾʿrb plural dari ʿrb. Bagaimana membaca data ini?

Webb mengajukan pembacaan berikut: Pertama, inskripsi itu tdk ditulis dalam bahasa Arab, dan beberap abad lebih awal dari contoh inskripsi yg berbahasa Arab. Kedua, istilah2 yg berbunyi seperti Arab itu digunakan untuk melabeli kelompok2 nomad dari berbagai wilayah berbeda, termasuk mereka yg sekarang tdk digolongkan Arab, misalnya wilayah Persia. Ketiga, karena itu, istilah2 lbh merujuk pada kelompok suku, penghuna gurun atau pegunungan, atau orang2 Badui.

Kenyataan bahwa, seperti ditunjukkan Robin, kata a’rab lbh sering digunakan dlm berbagai inskripsi itu menguatkan hipotesis Webb, yang saya dukung. Perlu kita sadari, ʾʿrb/aʿrāb itu sebenarnya mirip dgn kata “Arba-a” dalam bahasa Assyrian seperti sudah saya jelaskan. Al-Qur’an sendiri menyebut kata a’rab, tetapi bukan ‘arab sebagai ethnonym.

Semoga ini membantu menjelaskan hipotesis “identitas agama penakluk” yg saya diskusikan dalam bab 10 buku “Rekonstruksi Islam Historis.” Saya berharap teman2 membaca bab itu, bab favorit saya. Terima kasih