Syahdan, ada dua orang wali. Wali pertama meyakini keutamaan syariat. Dia yakin hukum Allah bekerja melalui sebab akibat. Dia tahu sifat api membakar. Maka dia cerewet kepada setiap orang untuk menjauhi api. Tapi dia tahu, jika Allah mau, api akan tunduk di bawah tuannya. Itu namanya mukjizat, seperti yang dialami Nabi Ibrahim. Wali ini tahu, mukjizat berlaku terbatas. Maka dia terus ngomong ke setiap orang untuk tidak bermain api. Dia juga bicara tentang perlunya ikhtiar menjaga kesehatan. Jika berobat jika sakit. Jika ada wabah, dia menyuruh orang untuk pergi menjauh. Wali ini tahu persis takdir Allah bekerja pasti. Tapi dia juga tahu takdir Allah berada di ujung ikhtiar manusia. Suatu saat wali ini sakit. Dia ngeluh dan sambat. Orang tanya, ‘Njenengan wali, kenapa ngeluh?’ Sang wali menjawab, ‘saya mengeluh untuk menunjukkan kelemahan saya.’ Sehebat apa pun ikhtiar manusia, tetap tunduk kepada takdir-Nya.

Wali kedua sundul hakekat. Dia yakin sepenuhnya atas kodrat Allah. Tidak ada yang terjadi tanpa perkenan Allah. Ikhtiar manusia sekunder. Tidak ada daya dan upaya kecuali seizin Allah. Kehendak Allah bekerja, tanpa menunggu ikhtiar manusia. Maqam beliau sumeleh tingkat dewa. Ketika sakit, sang wali ikhlas berdamai dengan derita, tanpa keluh kesah, sedikit pun. Sakit adalah media untuk bercakap-cakap dengan Allah atau gerbang untuk sowan ke haribaan-Nya.

Dua-duanya kekasih Allah. Kata-katanya bertuah. Omonganya keramat. Perbuatannya sumbut. Dua-duanya sportif dengan pilihannya. Yang menomorsatukan syariat sambat untuk menunjukkan kelemahan manusia. Yang memprimerkan hakekat sumeleh dengan kuasa takdir-Nya.

Kita ikut mana?

Menurut saya, kebanyakan awam: saya, sampeyan—kecuali njenengan—hidup dalam hukum adat, ada di alam sebab-akibat. Maka ikutilah wali syariat. Jauhi api kalau tidak mau terbakar. Ikuti saran dokter kalau sakit. Kita mungkin pengikut wali, tetapi kita bukan wali. Kita tidak bisa pura-pura berada di maqam wali, lalu bilang ‘Tidak usah takut virus. Takutlah kepada Allah!’ Lalu dia beraktivitas normal, bikin acara, berkerumun, dan berkegiatan tetek bengek. Dia menentang prokes dan menolak mengenakan masker. Bahkan dia setengah percaya Covid-19 itu tidak ada. Kalau pun ada, dia produk rekayasa. Lalu dia ikut-ikutan menyebarkan narasi tentang teori konspirasi. Dokter dan Rumah Sakit, katanya, berkomplot meng-korona-kan orang agar bisa menagih biaya perawatan pasien ke pemerintah.

Biasanya, orang seperti ini amatiran. Ketika terjangkit virus, dia sambat. Ketika sakitnya payah, dia mencari pertolongan. Ternyata tidak bisa terlayani karena RS kewalahan. IGD penuh. Rasio keterisian bed mentok. Lalu dia marahi semua orang. Dia meracau dan mencari kambing hitam. Dia salahkan pemerintah. Dia caci maki dokter dan perawat. Dia tuduh sistem kesehatan kita bobrok. Dan lain sebagainya, dan seterusnya.

Orang seperti ini tidak sportif. Omangannya tidak sumbut, apalagi keramat. Ketika tergeletak lemah, dia geram dengan keadaan dan berupaya mencari kambing hitam. Dia lantas lupa untuk tawakkal.

Di tengah krisis kesehatan yang memburuk, tempuhlah laku syariat. Sempurnakan ikhtiar sebaik-baiknya. Jangan entengkan prokes. Batasi mobilitas sosial. Jika harus keluar rumah, untuk menyambung nafkah, patuhi prokes sebisa-bisanya. RS sudah kewalahan di mana-mana. Dokter dan nakes bersabung nyawa. Kita, yang sekarang ini masih sehat, jangan menambah beban bagi sistem kesehatan kita yang nyaris jebol. Sempurnakanlah ikhtiar, lalu tawakkal.