Anis Febriana Sita Hidayati

Sejak diputuskan oleh Kementerian Agama penetapan 1 Ramadan yakni jatuh pada hari Selasa, 13 April 2021 tahun ini tidak jauh berbeda dengan Ramadan 2020. Yang membuat sama yaitu tetap jaga jarak, dan tidak dapat mudik karena virus Korona tetap menghantui Ramadan kali ini.

Dilansir dari CNN Indonesia (17/04), Covid-19 bertambah hampir lima ribuan kasus dengan demikian korona di Indonesia mencapai satu juta lebih pasien positif Covid-19. Namun, yang membedakan Ramadan tahun ini, dengan tahun lalu adalah vaksin sudah mulai diedarkan ke masyarakat. Sehingga, banyak warga yang mulai percaya diri bahwa Covid-19 pasti bisa musnahkan. Disisi lain, banyak masyarakat yang masih skeptis dalam hal vaksinasi. Mereka banyak yang masih ragu akan proteksi dari vaksin yang sudah diedarkan ke pihak atau kalangan tertentu.

Menurut Ahli epidemiologi dari Universitas Indonesia (UI), Tri Yunis Miko Wahyono menyatakan bahwa pengendalian Covid-19 yakni ada dua kunci bagi Indonesia. Kedua kunci tersebut adalah dengan melakukan Tes sebanyak mungkin dan melakukan karantina mandiri dengan baik dan benar.

Sehingga Ramadan tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun lalu 2020, di mana masyarakat mau tidak mau mengimani slogan penting yang sering didengar ketika pandemi yakni tetap stay safe, jaga jarak dan jangan lupa selalu mencuci tangan. Namun, tak banyak masyarakat yang masih persuasif dalam hal membeli baju lebaran. Banyaknya warga yang masih melestarikan budaya beli baju untuk lebaran sudah menjadi Life Cycle (daur hidup atau kebiasaan) yang wajib ada di hari kemenangan (lebaran).

Menurut Dewi mahasiswi Management Bisnis IAIN Surakarta bahwa hal yang wajar untuk masyarakat Indonesia terkait ritual beli baju lebaran, karena sifat gengsi dan tingginya style masyarakat sehingga rasa untuk beli barang baru, haram ditinggalkan. Selain itu, banyak juga yang acuh dengan membeli baju di pasar atau mall pusat perbelanjaan, karena kerumunan yang menjadi ujung tombak merebaknya virus korona. Di sisi lain, ada banyak sekali aplikasi online yang menyediakan baju lebaran dengan menawarkan diskon selangit. Hal ini yang menjadi penyebab rasa ingin membeli baju semakin tinggi.

Izzatun mahasiswi Ilmu Alquran dan Tafsir IAIN Surakarta mengatakan bahwa prinsip atau hak setiap orang berbeda. Saya pribadi menyatakan bahwa  membeli baju untuk lebaran tidak lah wajib, baju lebaran yang tdahulu masih bisa digunakan.

Dengan kata lain baju yang masih bagus dan tentunya tetap sopan masih dapat digunakan lagi. Sedangkan Menurut Wakil Ketua Lembaga Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama, memakai baju lebaran tidak wajib, tetapi Mubah. Syafiq memberi saran agar umat Islam tentunya di Indonesia lebih mengutamakan memperbaruhi diri dan hati untuk kembali bersih setelah menjalankan ibadah puasa dari pada harus berdesak-deskan untuk membeli baju baru.

Hadis yang diriwayatkan Bukhori menyatakan bahwa, Nabi Muhammad SAW ketika Hari Raya Idul Fitri menggunakan baju terbaiknya. Dengan demikian pakaian terbaik bukan berarti baju baru. Ditambah lagi masa oandemi yang belum sirna di negara kita Indonesia, tentunya bukan menjadi hal yang wajib untuk mengenakan baju baru. Sehingga dapat kita memakai baju lebaran tidak perlu yang baru, namun baju lama yang masih bagus dapat digunakan kembali. Adapun yang perlu kita utamakan di masa pandemi yakni tetap berusaha menjaga protokol kesehatan, stay safe, jaga jarak, selalu mencuci tangan dan pastinya hindari hal yang berbau kerumunan.

Bergiat di LPM Dinamika IAIN Surakarta