“Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin,
maka dialah orang yang beruntung;
dan barangsiapa yang keadaan hari ini sama dengan hari kemarin,
maka dialah orang yang merugi” (Hadits).

Tanpa suara kereta waktu terus bergulir membawa kita dari milenium ke milenium, dari abad ke abad, dari tahun lalu memasuki tahun ini, dari bulan Dzulhijjah ke bulan Muharram, dari minggu kemarin ke minggu ini, dan dari hari kemarin sampai ke hari ini. Dentang kedatangan tahun baru Hijriyah bergema. Kita menjadi sadar bahwa jatah kontrak hidup kita di dunia semakin berkurang. Tentu saja menurut hitungan statistik-matematis, usia kita memang semakin bertambah. Namun dalam tilikan spiritual-psikologis, umur kita di pentas yang fana ini justru kian berkurang.

Hadis Nabi kita di atas mengingatkan kita betapa pentingnya kesadaran tentang dimensi waktu. Pertanyaannya, kapankah seseorang mampu menatap betapa berharganya nilai kehadiran sang waktu secara tepat, akurat, dan jernih? Dalam kubangan rutinitas, lazimnya kebanyakan kita lengah terhadap putaran sang waktu. Dari detik ke detik, menit ke menit, hari ke hari, hingga putaran tahun ke tahun, waktu berlalu begitu cepat tanpa kita sadari. Semuanya bergulir secara otomatis apa adanya menuju tahun berikutnya. Namun ketika momen-momen besar, seperti tahun baru hadir menyapa kita, seakan-akan kita terhenyak sadar betapa berharganya waktu dan betapa miskinnya makna yang telah kita rajut selama setahun silam.

Untuk melihat objektivitas waktu, izinkan saya meminjam analisis filosofis dua filsuf Prancis dan Jerman terkenal yaitu Henry Bergson dan Martin Heidegger. Menurut Bergson, ada dua macam waktu. Pertama, waktu kuantitatif yang berhubungan dengan ruang, waktu yang dapat diukur dan dibagi-bagi. Dalam konsep ini, waktu diklasifikasi ke dalam satuan-satuan yang homogen, seperti milenium, abad, dasawarsa, tahun, bulan, minggu, hari, jam, menit, dan detik. Inilah waktu yang berada pada tataran dimensi objektif-fisis. Dalam istilah Prancisnya, Bergson menyebutnya sebagai temps, waktu yang digunakan secara umum dalam rutinitas kehidupan kita sehari-hari. Nah, pengalaman kita saat bersentuhan dengan waktu kuantitatif ini dinamakan pengalaman fenomenal, yakni pengalaman kita yang banal dalam kebiasaan hidup sehari-hari. Pengalaman jenis ini nyaris dilakoni oleh kebanyakan manusia umumnya.

Kedua, waktu kualitatif yang tidak berhubungan dengan ruang (tempat), bersifat kontinuitas dan mengalir terus-menerus tak terbagi. Waktu jenis ini terkait dengan perasaan dan kesadaran, aspek psikologis manusia. Inilah waktu yang berada pada wilayah subjektif-psikologis. Bergson menamakan waktu ini dengan duree, yang berarti lamanya, yang digunakan untuk manusia secara pribadi-pribadi. Pengalaman kita tatkala bersentuhan dengan waktu kualitataif tersebut dinamakan pengalaman eksistensial, yakni pengalaman yang dirasakan oleh aspek mental, emosional, bahkan ranah sukma spiritual kita yang terdalam.

Mendekati penjelasan Bergson, menurut Heidegger ada dua macam waktu: waktu objektif dan waktu subjektif. Waktu objektif merupakan waktu yang digunakan oleh kronometer, alat pengukur waktu, seperti arloji, kalender dan berbagai petunjuk waktu secara umum. Sedangkan waktu subjektif adalah waktu yang dialami oleh orang perorang secara individual. Jika waktu objektif berada di luar sana yang dirasakan sama oleh manusia secara umum, maka waktu secara subjektif berada di dalam sini, yang dirasakan secara unik oleh setiap pribadi dan berbeda antara seorang dengan orang yang lain.

Waktu sehari semalam dalam pandangan mayoritas orang secara objektif berisi dua puluh empat jam, namun durasi waktu itu terasa bagaikan dua puluh empat menit bagi sepasang kekasih yang sedang berkencan di bawah payung asmara. Bagi orang-orang yang berada di tengah-tengah pesta waktu dua belas jam terasa begitu cepatnya. Tapi bagi orang yang sedang sekarat diserang penyakit kronis waktu itu sungguh-sungguh terasa sangat lama.

Fakta yang mungkin sering kita alami adalah waktu lima jam sangat berbeda antara Anda yang menunggu dengan saya yang sedang ditunggu. Waktu lima jam itu terasa sangat lama bagi Anda namun terasa biasa saja bagi saya. Padahal ukuran waktu sehari semalam, dua belas jam, atau pun lima jam itu, secara matematis tidak ada bedanya, waktu itu bergulir secara objektif di mana pun. Albert Einstein melukiskan pengalaman eksistensial ini secara kontradiktif: “Jika dua jam bersama gadis yang baik, orang merasa dua menit; namun jika dua menit duduk di atas open panas, orang merasa dua jam.”

Dalam konteks inilah, momen besar tahun baru Hijriyah yang kita rasakan tidak boleh hanya berhenti pada kesadaran jernih semata dalam melihat berjalannya roda waktu secara perlahan-lahan, melainkan harus bermuara pada pertanyaan introspektif-kontemplatif: Apakah aku telah mengukir waktu-waktuku sebelum ini dengan aneka kebajikan dan pengabdian atau justru dengan keburukan dan kedurhakaan? Apakah bentangan usia yang telah kulalui selama ini sudah aku renda dengan puspa ragam kearifan dan ketaatan atau malah aku rajut dengan berbagai kelalaian dan kemaksiatan?

Tahun baru Islam kali ini mesti menghadirkan kegelisahan eksistensial semacam itu. Mengapa demikian? Karena umur manusia merupakan modal yang setiap saat selalu berkurang dan akan sia-sia bahkan membawa celaka apabila tidak diinvestasikan dalam pengabdian kepada Dzat Yang Maha Memiliki waktu. Waktu setahun atau sebulan, kegiatan sehari atau hanya beberapa jam, bahkan satu detik nafas yang baru saja kita hembuskan tidak akan pernah kembali lagi kepada kita. Kita tidak bisa menarik kembali momen itu untuk hadir sekarang.

Itu artinya setiap waktu, umur (modal) kita senantiasa berkurang. Sudah berapa banyakkah modal (baca umur) yang kita keluarkan dalam arena kehidupan selama ini? Sepuluh tahun, dua puluh, tiga puluh, atau sudah lima puluh tahun lebih kita mengarungi lautan waktu kita? Persoalannya, apakah modal-modal yang kita keluarkan selama ini akan membawa keberuntungan (pahala) atau justru membuahkan kerugian (siksa)? Bukankah sebanyak apapun modal yang kita tanam, sejauh itu pula buah kebahagiaan atau kesengsaraan yang pasti akan kita tuai suatu saat kelak?

Dalam terang perspektif inilah, mengikuti kriteria teladan ideal kita Rasulullah Saw, tahun baru Hijriyah kali ini mengajak kita untuk menghargai kehadiran sang waktu. Kalau hari-hari kita sekarang sama dengan hari kemarin, maka kita menjadi orang yang merugi (maqfun); Namun kalau hari-hari kita sekarang lebih baik ketimbang hari kemarin, maka kita menjelma orang-orang yang beruntung (roobih). Dengan kata lain, Nabi kita berpesan: Today must be better than yesterday and tomorrow must be better than today. May God bless us. Wallahu a’lam bish showab.