“Setiap pikiran, perkataan, dan tindakan manusia, mesti meninggalkan jejak. Jejak-jejak itu bertebaran membentuk suatu gugusan-gugusan ‘jiwa’. Mereka abadi dan selalu memiliki jalan untuk tersambung kembali kepada pemiliknya. Betapa pun sang pemilik terlah hancur dan musnah secara materi. Itulah yang menjelaskan, mengapa dalam horizon waktu tertentu, kita tetap bisa terkoneksi dengan gugusan ‘jiwa-jiwa’ dari masa lalu. Tak terhingga banyaknya pikiran, ucapan, dan tindakan orang-orang dari masa lalu yang hadir kepada kita, atau kita yang mendatanginya. Wallahu A’lam” (Prof. Dr. Maftukhin, M. Ag, Rektor IAIN Tulungagung).

Dari sudut pandang al-Qur`an, dalam hemat saya renungan Pak Rektor kali ini kelihatannya sejalan dengan surat Qaf ayat 16-18: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Yaitu) ketika dua orang malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” Apa yang dikatakan Pak Rektor sebagai “pikiran, perkataan, dan tindakan” nampaknya sejalan dengan apa yang dikatakan ayat sebagai “apa yang dibisikkan oleh hati.”

Kata Pak Rektor, setiap pikiran, perkataan, dan tindakan manusia, mesti meninggalkan jejak. Kata al-Qur`an, apa-apa yang dibisikkan oleh hati manusia, yang kemudian terejewantah dalam bentuk pikiran, perkataan, dan tindakan, semua diketahui-Nya. Hemat saya, “meninggalkan jejak” itu sama dengan “diketahui-Nya”. Semua pengetahuan-Nya tentang apa saja pasti tercatat (terekam). Catatan atau rekaman itu yang dimaksud Pak Rektor sebagai jejak. Intinya, apa pun yang keluar dari kita, baik berupa pikiran, perkataan, maupun tindakan, satu pun tidak ada yang sirna. Semua meninggalkan jejak, semua tercatat, dan semua diketahui-Nya.

Hanya saja, Pak Rektor melihat hal ini dari sudut pandang jiwa-ruhani, sedang saya coba memandangnya lewat kacamata tafsir (al-Qur`an). Jejak-jejak dari pikiran, perkataan, dan tindakan manusia itu, menurut Pak Rektor mengkristal jadi gugusan-gugusan jiwa. Artinya, akumulasi dari jejak-jejak itu kemudian menjelma menjadi sesuatu yang “hidup”, lalu terhubung kembali dengan pemiliknya.

Al-Qur`an lewat surat Qaf ayat 16-18 yang saya kutip di atas memang tidak mengatakan demikian. Sejauh yang dapat saya tarik dari ayat-ayat itu adalah bahwa setiap bisikan hati yang berbuah pikiran, perkataan dan tindakan, satu pun tak ada yang luput dari pengetahuan dan catatan-Nya. Saatnya nanti semua akan ditunjukkan dan saat itu tak ada seorang pun yang dapat mengingkari catatan itu.

Terus terang, saya tidak punya kapasitas untuk menjelaskan soal ketidaksirnaan pikiran, perkataan dan perbuatan ini lebih dari yang saya pahami dari surat Qaf ayat 16-18 tersebut. Kendati begitu, saya percaya di luar pendekatan tafsir al-Qur`an, masalah ini juga dapat didekati dengan pendekatan-pendektan lain. Pendekaatan-pendekatan baru itu bukan untuk menegasikan pemahaman keagamaan konvesional tentang pikiran, perkataan, dan tindakan manusia, melainkan justru untuk memperluas dan memperkaya yang sudah ada.

Dan demikian adanya, sejumlah temuan ilmiah serta beberapa kemajuan teknologi justru kini dapat membantu memahami beberapa keyakinan keagamaan. Beberapa keyakinan keagamaan yang dulunya dianggap dogma murni, kini dengan bantuan temuan ilmiah dan kemajuan iptek, keyakinan itu tak lagi dipandang sebagai dogma kaku melainkan fakta ilmiah-historis yang mudah diterima akal dan dipahami nalar.

Adapun tentang gugusan-gugusan ‘jiwa’ yang, kata Pak Rektor, abadi dan selalu memiliki jalan untuk tersambung kembali kepada pemiliknya, saya tidak dapat memahaminya lebih dari bahwa: apa-apa yang pernah kita pikirkan, pernah kita katakan dan pernah kita perbuat, kapan pun di masa datang dapat “hadir” kembali menyapa kita dalam bentuk kenangan, atau keinginan mengulangi untuk hal-hal yang baik, atau penyesalan untuk hal-hal yang buruk.

Terus terang, di antara renungan-renungan Pak Rektor selama Ramadhan tahun ini, renungan ini paling berat bagi untuk mensyarahinya. Nyatanya, sebelum ini pun apa yang saya lakukan bukan mensyarahi renungan Pak Rektor, melainkan tak lebih dari memaparkan buah-buah pikiran saya tentang renungan Pak Rektor.

Tak ada kepastian bahwa paparan saya itu sesuai dengan keinginan Pak Rektor. Hanya saja kekhawatiran ketidaksesuaian paparan saya dengan kehendak Pak Rektor untuk renungan kali ini begitu kental saya rasakan! Masih tersisa harapan: betapa pun melencengnya paparan saya dari apa yang dikehendaki Pak Rektor, kiranya beliau tidak sampai membuang paparan itu. Melainkan menempatkannya sebagai lapisan makna terluar dan terdangkal dari banyak lapisan makna yang lebih dalam dan matang.