Islamsantun.org. Memuliakan pendahulu ( orang yang lebih senior ) dan beradab kepada mereka adalah perintah Nabi Muhammad SAW sebagaimana tertuang didalam sabda Nabi:

قَالَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ-: “لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا“(رواه الترمذي )

Artinya : “Tidak termasuk dari ( golongan ) kami orang yang tidak mencintai anak kecil dan tidak menghormati ( beradab ) kepada orang yang dewasa.”

Maka menjadi kebiasaan ulama terdahulu mereka mendahulukan belajar adab daripada belajar ilmu itu sendiri.

Imam Ibnu Jauzi didalam karyanya Kitab berjudul Ghoyatun Nihayah Fi Tobaqatil Qurro’ juz 1 halaman 446 mengatakan bahwa :

الإمام عبدالله بن المبارك رحمه الله: “طلبت الأدب ثلاثين سنةً, وطلبت العلم عشرين سنةً, وكانوا يطلبون الأدب قبل العلم”
Artinya :
“Imam Abdullah bin Mubarok rahimahullah mengatakan, “Aku belajar adab 30 tahun, dan kemudian baru belajar ilmu 20 tahun. Mereka ( para ulama terdahulu ) mempelajari adab sebelum mencari ilmu.”

Sehingga menjadi seorang ulama ahli Tafsir, Hadist, Fiqih atau bidang Ilmu lainnya haruslah mengedepankan adab sebelum ilmu.

Hadratusy Syaikh Hasyim Asyari menulis didalam Kitabnya berjudul Adabul Alim wal Mutaalim halaman 10 menulis bahwa Imam Abdullah bin Mubarak pernah berkata:

نَحْـنُ إِلَى قَلِيْــلٍ مِــنَ اْلأَدَبِ أَحْوَجُ مِنَّا إِلَى كَثِيْرٍ مِنَ اْلعِلْمِ
Artinya : “Kita lebih membutuhkan adab (meskipun) sedikit dibanding ilmu (meskipun) banyak .”

Mufti Agung mazhab Syafi’i di Mekah Sayyid Ahmad Zaini Dahlan didalam Kitabnya berjudul Taqribul Ushul Li Taahilil Wusul Li Ma’rifatillahi Wa Ar Rasul halaman 155-156 menulis sebuah kisah seorang Ulama Besar ahli ru’yah ( bertemu ) Rasulullah SAW terhijab karena kurang adab.

وقال رضي الله عنه : ( انقطعت عني رؤية رسول الله صلی مدة ، فحصل لي غم بذلك ، فتوجهت بقلبي إلى شيخي ليشفع لي عنده رسول الله صلى الله عليه وسلم ، فرأيته في النوم وقد حضر عنده رسول الله صلی الله عليه وسلم ، فقال : ” هأنا ” ، فنظرت فلم أره ، فقلت : ما رأيته . فقال صلى الله عليه وسلم : « سبحان الله !! غلبت عليك الظلمة ، وكنت قد اشتغلت بقراءة جماعة في الفقه ووقع بيني وبينهم جدال في إدحاض حجج بعض العلماء ، فتركت الاشتغال بالفقه ، فرأيته صلى الله عليه وسلم ، فقلت یا رسول الله : الفقه من شريعتك ، فقال :” بلى ، ولكنه يحتاج إلى أدب بين الأئمة”

Dikisahkan bahwa Syaikh Abil Mawahib al-Syadzili ulama yang terkenal sering bertemu Rasulullah, pernah dalam waktu yang cukup lama tidak bisa melihat Rasulullah ( dalam mimpi khususnya ). Beliau bersedih, akhirnya beliau minta tolong ( didoakan ) gurunya agar kembali bisa bermimpi atau melihat Nabi Muhammad SAW.

Akhirnya beliau dalam sebuah mimpi Rasulullah SAW datang, Rasulullah berkata :”Aku disini.”
Imam Abu Mawahib Asy Syadizilipun melihatnya, tapi berkali-kali mencoba beliau tidak bisa melihat Wajah mulia Nabi Muhammad SAW, beliau berkata :”Aku tidak bisa melihat Wajah indahnya wahai Rasulullah SAW”.
Rasulullah SAW berkata : “Mahas Suci Allah, Sungguh engkau telah berada dalam kegelapan.”
Karena aku adalah orang yang sangat menyibukkan diri membaca Kitab Kitab Fiqih para ulama terdahulu, bahkan aku mengkritik keras dan mendebat sebagian dari pendapat mereka. Semenjak itu beliau memutuskan tidak lagi terlalu menyibukkan diri mendalami fiqih. Atau menghindarkan diri dari mengkritik pendapat para ulama terdahulu. Dan semenjak itulah beliau bisa kembali senantiasa bermimpi melihat Nabi Muhammad SAW.

Beliau merasa heran, mengapa terlalu menyibukkan belajar fiqh justru menjadi hijab melihat Wajah mulia Nabi Muhammad SAW. Akhirnya pada suatu ketika, disaat mimpi melihat Nabi Muhammad SAW beliau bertanya: “Ya Rasulullah, bukankah Ilmu Fiqih bagian dari syariatmu?”
Kemudian Nabi menjawab “Iya benar, namun tidak cukup dengan menguasai mendalam tapi juga butuh menjaga adab kepada para Ulama Fiqih”.

Inilah sekelumit kisah yang bisa kita ambil hikmahnya. Bahwa menjadi orang berilmu sangat mulia dan Agung, akan tetapi jika ada kurang dijaga maka akan menghadirkan kurangnya Ridho dari Allah SWT.

Semoga Allah menjadikan kita orang yang beradab dan berilmu. Mampu Memuliakan para pendahulu. Amin