Islamsantun.org. Bahwa yang terjadi dan berlangsung menvirusi dunia ini melimpah. Virus ini menyebar dan menyasar kepada siapa saja tak pandang otoritas sosial. Virus ini mengintip siapa yang lemah dan dilemahkan.

Selama berdirinya Republik Indonesia, virus dahsyat ini telah bertranformasi. Beranak pinak dari berbagai arah. Ia kadang-kadang menjelma dan telah menjadi budaya dan kebudayaan. Tak pernah pamit minta izin tetapi berlangsung tanpa dosa. Seperti virus Covid-19, sangar dan dahsyat.

Lima Virus Menurut Haedar Nashir

Ketua Muhammadiyah Haedar Nashir merumuskan virus ini menjadi lima bagian dalam webinar guru Muhammadiyah (24/7/2021). Virus yang pelan-pelan menjangkiti dan merusak ketahanan Indonesia sebagai sebuah negara dan bangsa.

Pertama, agnostisisme. Pikiran sekuler yang ingin mempertahankan pendirian bahwa ialah yang mempunyai kebenaran tertinggi. Dalam rumusan Haidar, bahwa virus agnostisisme ini kian merambah. Di antara pelbagai kasus pendidikan/kesehatan misalnya, banyak pihak menyalahkan karena agama selalu bercampuraduk dengan sains atau sains dengan agama. Maka oleh oknum tertentu, teranggap itulah letak kesalahannya.

Menurut Haidar, ini adalah bentuk laten dari cara pandang yang simplistik. Bahkan terkesan ingin menjauhkan nilai-nilai agama, Tuhan, dan lainnya. “Ini semacam alam pikiran sekuler di mana ada praktik-praktik terorisme, orang sempit beragama, lalu disebutkan bahwa agama itu adalah sumber masalah. Nah, di dunia pendidikan modern itu sudah mulai masuk,” ungkapnya.

Virus yang menularkan cara pandang yang menegasikan nilai ketuhanan dan Agama, serta mamandang agama dan umat beragama sebagai sumber masalah.

Kedua, virus ekstremisme dan radikalisme. Selain ormas dan kelompok keagamaan, virus ini berlangsung di dunia pendidikan. Menurut Haidar, banyak kurikulum di dunia pendidikan kita yang masih terpantau tidak moderat. Di pendidikan Islam saja, banyak kurikulum bahkan program pendidikannya terdapat suatu kurikulum “tersembunyi” yang mengarah ke ekstremisme. Maka jangan heran, jika anak-anak kecil dengan sangat lantang bernyanyi di pinggir jalan, “Islam-islam, yes. Kafir-kafir, no”.

Di lain hal, virus ekstremisme dan radikalisme merajalela perihal persoalan kebangsaan. Banyak pihak memandang bahwa nasionalismelah puncak dari yang utama. Sedang keagamaan nomor sekian. Bagi Haidar, itu adalah virus ekstremisme, karena pandangan itu lahir dari kacamata free will.

Mengkotak-kotakkan sesuatu, atas sebuah alasan nasionalisme, adalah pemikiran ekstrem yang jauh membahayakan. Menurut Haidar, itulah virus ekstremisme radikalisme di/karena politik, misalkan separatisme atau ideologi komunisme, liberalisme, agama, kedaerahan, dan pandangan lainnya yang intoleran.

Menghilangkan Kemanusiaan

Ketiga, virus kekerasan. Praktik perundungan dan segala bentuk kekerasan dari ringan hingga sampai dianggap lumrah. Ini sebenarnya yang terjadi sangat akut di Indonesia. Dalam proses dakwah keagamaan, sering terjadi pelecehan seksual. Mulai dari pandangan ketubuhan perempuan dengan anggapan bahwa perempuan gemuk tidak bakal masuk surga, atau perempuan tidak berhijab akan tergoreng di api neraka, dan lainnya.

Di antara kekerasan lainnya, kekerasan di dunia pendidikan, yang dilakukan seorang pengajar atau pembelajar. Di hari-hari ini banyak terjadi kasus macam ini. Sebagai contoh, seseorang melakukan peretasan terhadap akun milik grub mahasiswa. Atau, mengatakan kata-kata yang tidak beradab terhadap mahasiswa dan sebaliknya.

Keempat, virus pelecehan seksual. Praktik kekerasan seksual yang merendahkan martabat manusia. Di dunia pendidikan hal begini menjadi makanan rutin. Karena telah rutin, banyak pihak yang menolerir kekerasan seksual ini. Bahkan di kampus-kampus terbaik di Indonesia. Baik yang berstempel keislaman atau umum.

Alasan mentoleransinya, adalah alasan nama baik kampus dan orangnya. Banyak kasus pelecahan seksual baik berkirim gambar atau berkirim video tidak senonoh terhadap mahasiswa, atau pengajar melakukan meminta pertemuan dengan mahasiswinya dengan modus, proposal skripsi harus dianterin ke kosnya, dalam waktu malam hari, dll. Ngeri bukan?

Menurut Haidar, meskipun kasus ini terbilang kecil (karena banyak yang bungkap, karena meski ngaku pasti mangkrak kasusnya), tapi tetap mencoreng dunia pendidikan dan integritas akhlak. Bahasa Haidar, kasus seorang di atas telah merusak kultur pendidikan dan martabat kemanusiaan.

Kelima, virus pembodohan. Menyebarkan informasi dan hal-hal yang tidak selayaknya dan membuat orang menjadi kehilangan akhlak. Ini terjadi dan berlangsung di hari-hari kita saat ini. Dalam penanganan virus Covid-19 saja, misalnya, masih banyak pejabat yang melakukan pembodohan dengan mengatakan virus itu tidak bakal masuk ke Indonesia, karena Indonesia negaranya panas, dan rakyatnya makanannya nasi kucing.

Bahkan di tengah Covid melonjak, masih saja wakil kepala negara, mempromosikan wisata untuk dihadiri masyarakatnya. Bahkan pejabat lain, melakukan korupsi dari uang-uang rakyat untuk bantuan sosial rakyat. Iniliah sikap dan pembodohan akut dari bangsa ini.

Jika virus ini tidak tertangani sejak dini, bakal berkembang biak menjadi virus mengancurkan dan mematikan yang lain. Secara teoritis, memang tidak membahayakan pada dunia politik, tetapi sangat berbahaya pada perkembangan kehidupan umat manusia. Karena selain menjadi virus, ia juga menjadi nafas panjang umat manusia yang setiap saat mengenaskan.

Selengkapnya baca di I