Islamsantun.org – Lagi-lagi Khalid Basalamah membuat pernyataan bermasalah. Ia menyakiti banyak hati orang-orang Indonesia. Mengapa menyakiti, karena apa yang telah dicintai dan dijaga hidup-mati, justru disuruh musnahkan. Nenek moyang Indonesia berusaha semaksimal mungkin berdakwah melalui wayang, dan kini ia malah disuruh musnahkan. Apa enggak sakit?

Berikut pernyataan Khalid Basalamah ketika ditanya jemaahnya perihal strategi dakwah yang menggunakan wayang sebagai medium.

“Kalau memang itu peninggalan nenek moyang kita, mungkin kita bisa kenang dulu, oh ini tradisinya orang dulu seperti ini. Tapi kan bukan berarti harus dilakukan, sementara dalam Islam dilarang. Kita sudah Muslim, harusnya kita tinggalkan, kalau punya (wayang) lebih baik dimusnahkan, lebih baik dihilangkan,”” kata Khalid dalam ceramahnya.

Posisi Wayang

Posisi wayang dalam Islam memang tidak ada. Di dalam Hadis dan Al-Qur’an memang wayang tidak ditemui dan tidak pernah disebut. Tapi, mungkinkah kehidupan ini bisa berjalan jika yang kita lakukan harus menerapkan apa yang ada, dan yang tidak disebut secara eksplisit dalam Al-Qur’an? Jika iya, Saya ragu kehidupan umat Islam akan berjalan pesat seperti sekarang ini.

Misalnya, Al-Qur’an dan Hadis tidak pernah menyebut pesawat, youtube, dan metaverse. Lalu kemudian, apakah ketiganya itu harus dibuang dan dimusnahkan karena tidak disebut di dalam Al-Qur’an? Tidak juga, kan?

Jika ada pendakwah yang mengatakan “iya”, artinya Islam tidak progresif dan tidak menerima dan tidak bersyukur atas pemberian Tuhan yang Agung. Bahkan menyalahi hukum alam Tuhan. Islam bisa dianggap tidak ramah pada perkembangan zaman. Dengan demikian, Islam tidak bakalan maju dan akan selalu terbekalang, bahkan tertindas, seperti negara Palestina.

Di mana pun, dan barang apa pun yang ada di dunia ini, sesungguhnya hanyalah barang-benda tak bernyawa, dan seringkali hanya tergeletak begitu saja. Namun, barang-benda itu hakikatnya bebas nilai. Dan kita-kita (manusia) inilah yang memberinya nilai, baik memberi nilai yang baik (positif) atau nilai yang buruk (negatif).

Apakah youtube yang kini dipakai ustaz Khalid Basalamah untuk mengedarkan nilai-nilai Islam di banyak ceramahnya kepada umat Islam termasuk benda buruk karena tidak disebut di dalam Al-Qur’an, dan karena itu wajib dimusnahkan?  Tentu saja tidak. Karena barang-benda apa pun di dunia ini, jika digunakan untuk menyampaikan pesan-pesan kebaikan, justru akan berbuah kebaikan. Nabi dan Walisongo telah membuktikan ini.

Hal itulah sama seperti wayang. Jika wayang dipergunakan sebagai medium untuk berdakwah, maka wayang tidak bisa diklaim sebagai benda dan tradisi yang negatif. Bahkan malahan, kebanyakan orang-orang kini, mengetahui bagaimana baik dan buruknya dunia, sering mendapat dari gembaran pementasan wayang.

Namun demikian, wayang, youtube, hp dan sebagainya, bisa buruk karena dipergunakan untuk hal-hal yang buruk. Wayang sama seperti youtube dan hp, jika benda-benda itu digunakan mempropagandakan untuk membumihanguskan tradisi yang baik dan sudah mapan di dalam tradisi masyarakat Nusantara, yang salah bukan benda tersebut, melainkan pendakwahnya, yaitu ustaznya. Moral terbentuk karena pewayang dan penceramah, bukan dari benda mati yang tidak bernyawa: wayang.

Hari ini banyak orang bereaksi keras terhadap ceramah Khalid Basalamah. Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Eks Keresidenan Banyumas, Jawa Tengah, misalnya, berencana melaporkan Ustaz Khalid Basalamah terkait ceramah soal wayang. Bambang Barata Aji selaku Koordinator Wilayah Pepadi Eks Keresidenan Banyumas, mengaku pihaknya biasa saja ketika ada pernyataan wayang haram. Namun, ia keberatan jika wayang perlu dimusnahkan. Bambang menjelaskan bahwa wayang merupakan tradisi yang turun temurun di Indonesia. Riwayatnya panjang dan mempengaruhi budaya masyarakat. Bambang memberi kesempatan kepada Khalid untuk meminta maaf waktu 14×24 jam atau maksimal pada 1 Maret mendatang sebelum melapor ke polisi. Jika tidak, dia berencana membawa ke ranah hukum dengan melaporkan ke Bareskrim Polri. Dan Khlid akhirnya minta maaf.

Setelah Ini Apa?

Setelah melihat bagaimana konsep cara membaca akulturasi budaya oleh Khalid, kita mungkin juga bisa membaca kembali tradisi lain yang mengakar di kehidupan kita. Jangan sampai, penyebaran agama yang menggunakan tradisi harian kita sejak dahulu, kemudian diharamkan karena tidak sesuai, atau tidak disebut di dalam Al-Qur’an. Seni kerakyatan sesungguhnya sering menjadi epos untuk menjadikan budaya-seni-pendidikan-keagamaan kita lentur dan mengandung nilai yang sangat baik.

Jika bisa, tradisi apa pun selagi bisa digunakan untuk berdakwah dan menyebarkan pesan-pesan yang baik, tidak perlu dihukumi haram. Dakwah sesungguhnya bisa dijelaskan melalui sifat-sikap kebijaksanaan, sehingga melahirkan hasil tradisi yang bijaksana pula. Dakwah hukumnya memberi nasihat yang baik, yang sesuai konteks dan tradisi masyarakat, sehingga tidak menyinggung dan menyakiti hati masyarakat yang didakwahi tersebut. Dan semua ini, telah Rasul lakukan. Dan berhasil!