Surakarta atau masyarakat lebih mengenalnya dengan kota Solo. Kota yang memiliki nuansa kebudayaan dan sejarah cukup kental. Masyarakat kota Solo sangat pandai dalam melestarikan budaya lokalnya. Kota yang memiliki beragam warisan budaya jawa kuno, mulai dari tarian, batik khas Solo. Karena batik, Kota Solo memiliki label sebagai kota “The City of Batik” selain dari “The Spirit of Java” yang menjadi julukan Kota Solo sendiri. Masyarakat Solo begitu bangga dengan hasil produksi batik-batik khas Solo yang telah dikenal mancanegara. Budaya lainnya seperti pertunjukkan wayang kulit, kulinermya yang lezat serta keraton Kota Solo.

Kota Solo termasuk ke dalam kota yang tidak pernah tidur, setiap hari baik pagi, siang maupun malam banyak masyarakat yang melakukan aktivitasnya. Dari mulai aktivitas jual beli, bisnis atau aktivitas wisata bagi para wisatawan. Sedangkan di kalangan remaja hingga dewasa di kota Solo tidak jarang banyak yang nongkrong di pinggiran jalan kota.

Biasanya, mereka nongkrong untuk sekadar kumpul, berbagi cerita bersama teman-temannya. Sampai akhirnya ada sekumpulan anak muda kota Solo yang bisa dikatakan “anak tongkrongan”. Mereka terdiri dari sepuluh orang dengan range usia yang tidak terpaut jauh. Biasanya mereka nongkrong pada malam hari sambil menyeruput segelas hot coffee latte khas salah satu café terkenal di kota Solo.

Perkenalan mereka bermula dari sebuah komunitas Solo Mengajar. Komunitas relawan yang bergerak di bidang Pendidikan anak kota Solo. Bermula dari Solo Mengajar mereka kenal kemudian mengagendakan untuk selalu bertemu setiap akhir pekan. Kalau dalam bahasa Jawa perbincangan mereka dikatakan ngalor ngidul yang artinya utara selatan. Maksudnya perbincangan mereka sudah sangat luas, menceritakan pengalaman masing-masing, dan sesekali lelucon menemani hot coffee latte mereka.

Salah satu dari mereka beberapa kali mengamati aktivitas lalu lalang masyarakat di kota Solo. Doni namanya. Dia melihat banyak orang tua juga lansia yang setiap malam masih mengais rezeki. Ada tukang becak, pemulung dan pengemis. Tidak sedikit orang tua dan lansia baik pemulung atau tukang becak yang memilih tidur di emperan toko. Setiap akan tidur orang tua dan lansia ini harus menunggu toko tutup dulu baru menggelar kardus bekas lalu berselimut sarung tipis. Pemandangan memprihatinkan yang tidak semua orang melek terhadap hal ini. Sungguh, ini mengetuk pintu hati Doni untuk memberikan sedikit rejekinya untuk orang tua dan lansia ini. Doni langsung mengajak teman-temannya untuk bertemu besok di café biasa.

Bertemunya Doni dan teman-teman selain sudah lama tidak nongkrong bareng, Doni ingin memberitahu temannya hal tersebut. Menurut Doni, daripada nongkrong dan hanya duduk-duduk sembari menyeruput hot coffee latte, ada baiknya kita memasak makanan lalu dibagikan kepada orang tua dan lansia yang ada di emperan toko tadi. Gerakan positif ini disetujui oleh teman-teman. Pada saat itu juga mereka menyusun rencana untuk gerakan positif ini. Mereka memberi nama “Menabung” kepanjangan dari menebar nasi bungkus.

Mekanisme dari gerakan ini dimulai dengan mengumpulkan uang, belanja bahan makanan, masak, membungkus dan dibagikan bersama. Semua dilakukan mereka bersama-sama. Mereka juga membagikan pamflet yang berisi nomor rekening gerakan Menabung ini di sosial media dengan maksud jika ada orang baik di luar sana yang berkeinginan menyisihkan uangnya untuk diberikan kepada yang membutuhkan.

Setiap akhir pekan mereka kumpul untuk memasak bahan makanan yang akan dibagikan malam hari kepada yang membutuhkan di sekitaran kota Solo. Respons orang-orang yang membutuhkan sangatlah baik. Mereka merasa terbantu dengan adanya gerakan Menabung yang dilakukan Doni dan teman-teman ini. Setiap kali membagikan nasi bungkus, senyum simpul dari orang-orang yang membutuhkan sangat menyadarkan Doni dan teman-teman untuk selalu bersyukur.

Salah satu teman Doni pernah berkata “berbahagialah kalian yang masih bisa memilih nanti mau makan dengan lauk apa saja. Lihat mereka yang harus makan nasi bungkus ini untuk mengganjal rasa laparnya tanpa memilih ingin lauk ini itu”. Sekarang nongkrong mereka tidak lagi di café, namun di rumah Doni. “memasak sambil ngobrol-ngobrol”, kata Doni.

Anak muda ini, semacam memberi memberi oase dalam gelombang pertongkrongan tentang anak muda di Indonesia, khususnya di Solo. Sebab, setiap pertongkrongan, anak muda itu terlewatkan bahkan mungkin tidak dianggap penting. Tetapi bagi saya, anak muda ini berada di posisi penting karena gerak dan perannya sungguh signifikan dalam kehidupan orang-orang Solo yang terpinggirkan, bernasib  tak mujur, dan kaum papa.