Surabaya — Kegiatan bedah buku anak It’s Okay to Cry digelar sebagai bagian dari upaya mendorong literasi yang tidak hanya berfokus pada kemampuan membaca, tetapi juga pada kesehatan emosi anak. Acara ini mempertemukan pegiat literasi, orang tua, pendidik, serta komunitas dalam ruang dialog yang hangat dan reflektif.
Direktur Mutiara Rindang, Kuswanto, menegaskan bahwa budaya melarang anak menangis masih kuat di masyarakat, padahal menangis merupakan mekanisme alami untuk melepaskan beban emosi.
“Menangis adalah proses fisiologis yang dipengaruhi emosi. Jika anak dilarang menangis, justru emosi terpendam. Ketika anak diizinkan menangis, kondisi emosionalnya menjadi lebih rileks,” jelasnya.
Ia juga menyoroti bahwa dalam praktiknya, anak cenderung bisa menerima pembahasan emosi secara terbuka, sementara orang dewasa sering merasa tidak nyaman karena tekanan sosial dan pandangan lingkungan.
Menurut Kuswanto, buku seperti It’s Okay to Cry dapat menjadi jembatan percakapan antara anak dan orang dewasa karena menghadirkan rujukan yang objektif, bukan sekadar nasihat.
Sementara itu, Diah Pitaloka dari tim Mizan Store menjelaskan bahwa buku-buku terbitan Mizan telah melalui proses kurasi yang ketat.
“Mulai dari naskah, ilustrasi, hingga nilai yang disampaikan, semuanya dipastikan aman, relevan, dan bertanggung jawab bagi anak dan keluarga,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa isu emosi anak merupakan isu sensitif yang membutuhkan pendekatan tepat, sehingga buku harus disajikan dengan bahasa ramah anak dan visual yang menenangkan.
Praktisi pendidikan dan pegiat literasi, Makrus Sahlan, menegaskan bahwa literasi anak perlu dibaca secara kontekstual.
“Membaca bukan hanya soal teks, tapi juga memahami diri dan emosi. Buku yang terkurasi dengan baik membuat dialog antara anak dan orang tua lebih jujur dan berdampak,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, para narasumber berharap gerakan literasi anak ke depan semakin inklusif, menyentuh aspek emosional, dan mampu membangun ruang aman bagi anak untuk mengenali serta mengekspresikan perasaannya sejak dini. (Aguswedi).

