Surakarta – Dedik Priyanto, jurnalis kompas TV, berbagi pengalamannya sebagai jurnalis dalam acara workshop prodi KPI dengan tema “Menjadi Praktisi Media di Era Digital”, Jumat (4/3/22). Dedik mengaku menjadi wartawan karena dorongan idealisme. Ia lantas menjelaskan dinamika jurnalisme kontemporer di Indonesia. Di era digital, menurut Dedik, semakin banyak pilihan pekerjaan bagi mahasiswa komunikasi, mulai dari jurnalis, broadcaster, youtuber, content writer hingga copy writer.

“Mahasiswa komunikasi semakin ke sini, semakin banyak dibutuhkan perannya. Banyak sekali lapangan pekerjaan baru yang relevan bagi mahasisa komunikasi, seperti jurnalis, broadcaster, youtuber, content writer hingga copy writer,” ungkap Dedik.

Dedik berpesan, jika ingin masuk industri media, kemampuan berbahasa asing perlu ditingkatkan. Selain itu digital skill juga harus terus di-upgrade. Sebab hari ini dunia bergerak sangat cepat. Dinamika industri media pun samakin menantang seiring perkembangan teknologi. Jadi, mahasiswa harus adaptif menghadapi perubahan ini.

“Kerja seorang jurnalis dalam konteks kekinian sangat berbeda dengan jurnalis pada masa silam. Dulu, jurnalis harus turun ke lapangan, kemudian menulisnya untuk dijadikan berita. Kini, kerja jurnalis sangat berbeda dan beragam. Jurnalis tidak perlu turun ke lapangan alias bisa bekerja dari rumah. Ia bisa memanfaatkan kemajuan teknologi, seperti google news, google trend, website resmi, media sosial, dan lain-lain. Untuk itu, digital skill menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar,” terangnya.

Ia juga menyampaikan bahwa jurnalis masa kini tidak hanya cukup hanya dengan bermodalkan skill menulis. Tapi, ia juga dituntut untuk lebih peka dengan peristiwa yang sedang ramai di jagat digital. Maka, kata Dedik, menulis saja tidak cukup, tapi juga harus dibekali ilmu search engine optimizer (SEO).

“Di era digital seperti ini, kerja jurnalis tidak cukup hanya dengan sekadar menulis. Jurnalis juga dituntut untuk memahami SEO. Dengan begitu, berita yang ditulis dapat bersaing dan mudah ditemukan di mesin pencari,” jelas Dedik

Dedik Priyanto punya pengalaman panjang di industri media. Ia pernah menjadi editor di islami.co, content editor di NUTIZEN Digital Media, dan banyak media yang lain. Selain itu, alumnus UIN Syarif Hidayatullah itu juga merupakan penulis buku yang produktif.

Dedik juga berpesan kepada para peserta agar terus berkarya dan mendokumentasikannya di aplikasi LinkedIn.

“Mulai sekarang teruslah berkarya. Apapun itu karyanya, bisa berupa tulisan, video, dan lain-lain. Kemudian, saran saya, unggahlah karya kalian di aplikasi LinkedIn. Sebab, aplikasi tersebut sangat populer bagi para pencari kerja. Biasanya HRD akan melihat portofolio kalian di aplikasi itu,” pungkas Dedik.