Forum Kader NU Jawa Tengah ke-4 resmi digelar di Gedung Aswaja PCNU Kota Pekalongan pada Sabtu (15/11). Mengusung tema “Memperkuat Gerakkan, Meneguhkan Perkhidmatan”, kegiatan ini menjadi bagian penting dari rangkaian Muktamar Ilmu Pengetahuan ke-3 NU Jawa Tengah. Para tokoh strategis Nahdlatul Ulama hadir, mulai dari jajaran PWNU dan PCNU, para rektor PTN, PTKIN, dan PTNU, hingga para pengasuh pesantren se-Karesidenan Pekalongan Raya.

Acara dibuka dengan sambutan Ketua PCNU Kota Pekalongan, KH. Dr. Muhammad Makrus, Lc., M.Si., yang menegaskan pentingnya forum ini sebagai ruang untuk menghidupkan kembali pemikiran Gus Dur.

“Meneladani sosok Gus Dur tidak sekadar melihat beliau sebagai kiai, tetapi juga ilmuwan dan politisi yang kritis. Pemikiran-pemikiran Gus Dur harus kembali dibumikan melalui forum dan Muktamar ini,” ujarnya.

Forum Strategis Menuju Indonesia Emas dan Konsolidasi Lakpesdam

Sesi utama kemudian menghadirkan diskusi yang dipandu Ketua Lakpesdam PWNU Jawa Tengah, M. Zainal Anwar, M.Si. Ia memaparkan perjalanan Forum Kader NU yang telah berlangsung sejak Purwokerto, Semarang, Kajen, hingga kini di Pekalongan. Forum tahun ini diarahkan untuk memperkuat gerakan dan meneguhkan khidmat Lakpesdam di wilayah Jawa Tengah.

Zainal mengutarakan “kegiatan tersebut merupakan rangkaian program yang bertujuan membahas hal-hal penting sebagai masukan bagi pengambilan kebijakan dan rapat strategi Lakpesdam Jawa Tengah. Forum kader NU pertama dan kedua membahas persoalan Pendidikan 5 hari sekolah. Forum ketiga Isu-isu pesantren ramah anak dan perempuan, keempat Memperkuat Gerakan meneguhkan khidmat”

Pembicara pertama, K. Abdul Ghaffar Razin selaku Ketua PWNU Jawa Tengah, menekankan perlunya Lakpesdam menjadi majelis yang konsolidatif.

Ia menyebut bahwa NU memiliki peran sentral menyambut bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045, mengingat 60% penduduk Indonesia adalah warga NU.

Gus Rozin mengungkapkan Lakpesdam harus bersifat lebih teknikal dan membumi. Tidak hanya kajian, tetapi juga peningkatan kapasitas ekonomi dan pemberdayaan SDM. Ada 36 Lakpesdam di wilayah Jawa Tengah yang harus saling terhubung dan dikonsolidasikan,” jelasnya.

Selain itu, ia menegaskan perlunya menghidupkan kembali pemikiran Gus Dur yang berpihak pada masyarakat sipil serta menjadi energi bagi kader muda NU untuk berperan dalam ranah sosial-politik.

NU sebagai Motor Inovasi dan Transformasi

Pembicara kedua, KH. Ubaidullah Shodaqoh, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, menyoroti pentingnya perubahan progresif yang bertumpu pada pengembangan SDM.

“Perubahan positif lahir dari perguruan tinggi. NU harus melahirkan generasi progresif dan revolusioner. Ini memerlukan mental kuat, kapasitas, dan kesanggupan,” tuturnya.

Ia mendorong Lakpesdam untuk melakukan inovasi, memperkuat riset yang relevan, serta memetakan pakar NU sebagai kekuatan keilmuan yang dapat menjadi lokomotif organisasi.

Arah Baru Tekokrasi Lakpesdam PBNU

Pembicara ketiga, disampaikan oleh Asrul Rahman, Direktur Eksekutif Lakpesdam PBNU, memaparkan dinamika restrukturisasi internal yang sedang berjalan di Lakpesdam PBNU. Asrul mengutarakan, adanya kendala-kendala yang dialami oleh Lakpesdem PCNU. Hambatan tersebut karena faktor kepemimpinan dan wajah baru yang ada di Lakpesdam. Langkah saat ini yang disiapakan adalah pembuatan sistem satu pintu persuratan seperti sistem keorganisasian digital melalui aplikasi Digitalisasi Data dan Layanan NU (Digdaya). Kemudian menjalankan perumusan teknokrasi PBNU melalui rencana strategis (Renstra). Dengan dua focus ini diharapkan menjadi pondasi penting integrasi antar Lembaga NU pusat maupun daerah.

Selain itu, upaya ini diharapkan mempertegas arah gerakan Lakpesdam di level nasional hingga daerah. Dari Forum Kader NU Jawa Tengah ke-4 menjadi ruang penting untuk memperkuat peran Lakpesdam sebagai pusat pengembangan SDM, pusat kajian strategis, serta penggerak pemberdayaan warga NU. Dengan menghadirkan diskusi yang kaya perspektif dan visi kebangsaan, forum ini meneguhkan komitmen bersama dalam menyiapkan NU menghadapi tantangan Indonesia Emas 2045.

Komentar