Muktamar Ilmu Pengetahuan III Jawa Tengah resmi dibukapada Sabtu pagi, pukul 09.00 WIB, di Auditorium UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan. Forum keilmuan yang digagasLakpesdam PWNU Jawa Tengah ini menarik perhatian luas, dengan kehadiran tokoh-tokoh penting Nahdlatul Ulama dan perwakilan berbagai institusi strategis.
Hadir dalam pembukaan antara lain Ketua PBNU H. Syafiiq Ali, Direktur Eksekutif Lakpesdam PBNU, SekretarisJenderal Kementerian Komunikasi dan Digital, Rais SyuriyahPWNU Jawa Tengah, Ketua PWNU Jawa Tengah, KetuaLakpesdam PWNU Jawa Tengah, para pimpinan lembaga dan banom PWNU Jawa Tengah, Rektor UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan, para pimpinan PCNU se-Jawa Tengah, rektor perguruan tinggi negeri dan PTKIN se-Jawa Tengah, rektor perguruan tinggi Nahdlatul Ulama, mudir Ma’had Ali, serta para pengasuh pondok pesantren se-KaresidenanPekalongan Raya. Sekitar 400 peserta dari badan otonom NU turut meramaikan Muktamar Ilmu Pengetahuan yang memasukiedisi ketiga ini.
Tahun ini, muktamar mengusung tema besar: “MeneladaniPemikiran dan Tindakan Gus Dur: Reaktualisasi Masyarakat Sipil, Kemandirian Organisasi, dan Keadilan Ekologis.” Tematersebut menjadi landasan seluruh rangkaian diskusi, perumusangagasan, dan konsensus strategis yang akan dihasilkan.
Rektor UIN KH. Abdurrahman Wahid Pekalongan, Prof. Dr. Zaenal Mustaqin, M.Ag., menyampaikan sambutan selamatdatang dan menegaskan komitmen kampusnya dalammendukung penguatan tradisi keilmuan NU. Ia menyebutmuktamar ini bukan hanya agenda rutin, tetapi wadah pentingbagi lahirnya rekomendasi-rekomendasi strategis.
“Kami sangat bahagia dapat menjadi bagian dari muktamarketiga yang diselenggarakan oleh Lakpesdam PWNU JawaTengah,” ujar Prof. Zaenal. Ia juga menekankan bahwaLakpesdam, yang dirintis oleh Gus Dur dan dilanjutkan oleh Dr. Fahmi Zainuddin—adalah lembaga kunci dalam arah gerakanintelektual NU. Kampus UIN KH. Abdurrahman Wahid, lanjutnya, siap menjadi tuan rumah kembali pada tahun-tahunmendatang dengan pelayanan yang lebih baik.
Corak Baru Muktamar
Ketua PWNU Jawa Tengah, H. Abdul Ghafur Rozin yang akrab disapa Gus Rozin, menekankan bahwa Muktamar IlmuPengetahuan tahun ini membawa warna yang berbeda. NU, katanya, perlu memperluas fokus kajian, tidak hanya pada isusosial-keagamaan dan politik yang selama ini menjadi arusutama.
“Kita mencoba keluar dari ruang lingkup kebiasaan NU,” tegasnya. Muktamar ini, menurutnya, diarahkan untukmenyentuh hajat nyata masyarakat, mulai dari teknologi, pendidikan, ekonomi kerakyatan, hingga kemandirian pangandan isu ekologis.
Ia menjelaskan bahwa inisiatif penyelenggaraan muktamarini datang dari Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah sebagaiupaya memperluas medan kajian dan gerakan NU. Fokus pada IPTEK, kata Gus Rozin, sangat penting untuk menghidupkankembali semangat civil society yang dulu diperjuangkan Gus Dur.
Menjawab Masalah Struktural Umat
Gus Rozin menyoroti banyak persoalan struktural yang dihadapi masyarakat—petani, nelayan, pelaku UMKM, sektorpertanian hingga kelautan. NU, menurutnya, harus bisamenawarkan solusi berbasis pengetahuan yang mengarah pada konsensus-konsensus baru.
Ia menegaskan bahwa muktamar ini bukan kompetisigagasan dengan forum-forum sebelumnya, melainkan pelengkapyang memperkaya perspektif NU. Meski banyak kader NU telahmenduduki jabatan penting, NU tetap harus menjaga sikap kritisdan tetap berpihak pada masyarakat kecil.
Gus Rozin kemudian mengaitkan arah diskusi muktamardengan pemikiran Gus Dur. “Pemikiran Gus Dur tidak bolehhanya dipahami di bagian akhirnya, tetapi harus dilihat proses gagasannya,” ujarnya. Gus Dur, lanjutnya, berhasilmembuktikan kekuatan masyarakat sipil ketika melawantekanan Orde Baru.
Isu lain yang ia soroti ialah terputusnya rantai kaderisasi. Menurutnya, amaliah Aswaja berjalan baik, tetapi pengetahuanmendalam tentang NU belum kuat. Karena itu, penguatankaderisasi menjadi fokus strategis.
“NU harus kembali meneladani nilai-nilai perjuangan Gus Dur serta membangun terobosan-terobosan bermakna demi kemajuan NU dan masyarakat luas,” pungkasnya.
NU Harus Hadir dengan Amal Nyata
Pengurus Syuriyah PWNU Jawa Tengah, Kiai UbaydullahShodaqoh, turut menegaskan bahwa problem-problem NU tidakcukup diselesaikan dengan kajian semata. “Tantangannya adalahkita tidak cukup menjawab tantangan, tetapi harus ada amal dan tindakan nyata,” ujarnya.
Menurutnya, pesantren tidak dapat menyelesaikan semuapersoalan sendiri; tetapi pesantren telah melahirkan banyak ahli. Karena itu, muktamar menjadi wadah penting untukmemperkuat kolaborasi dalam penyelesaian masalah-masalahumat.
Dengan berbagai pemikiran dan dorongan kuat yang munculdalam pembukaan ini, Muktamar Ilmu Pengetahuan III JawaTengah diharapkan menjadi ruang strategis bagi NU untukmerumuskan agenda baru yang relevan, progresif, dan berdampak nyata bagi masyarakat.

