Sabtu 06 September 2025 saya berangkat ke masjid Pathok Negoro Mlangi sekitar jam 09.30 untuk menghadiri Maulid Nabi Muhammad saw. Masjid di bagian aula sudah penuh. Begitu juga di bagian halaman yang di bagi menjadi tiga panggung, kanan, tengah dan kiri. Saya dipersilakan oleh panitia untuk menempati panggung bagian tengah yang hanya tersisa satu atau dua space untuk orang dewasa.
Alunan dan lantunan selawat menggema diiikuti oleh sebagian besar jemaah. Menurut Gus Zamzami, salah satu panitia acara ini, yang dibaca adalah selawat Syaraful Anam. Di beberapa kesempatan, terlihat alunan tabuhan rebana dibarengi dengan tepuk tangan berirama oleh para hadirin. Hal ini untuk menunjukkan kebahagiaan atas kelahiran baginda Nabi Muhammad saw.
Yang menarik dari pembacaan maulid Nabi ini adalah metode membacanya. Tidak seperti di daerah lain yang membacanya dengan suara merdu dan dilagukan sebagaimana tradisi hadrah al-Banjari di wilayah Jawa misalnya, pembacaan selawat maulid Nabi di Mlangi dibaca dengan teknik suara vocal dalam dan melengking tinggi. Warga Mlangi menyebutnya dengan tradisi Gladen. Para pembacanya disebut Dalang. Tidak semua warga bisa membaca dengan teknik ini karena butuh latihan khusus dan ada perkumpulannya. Bahkan warga asli Mlangi yang ada di samping saya menyatakan kalau ia juga kurang paham apa yang sedang dibaca karena dibaca dengan teknik suara dalam dan melengking. Biasanya para pemuda asli Mlangi yang masih memegang tradisi gladen ini.
Sebagai warga pendatang, dan meskipun cukup lama tinggal di desa Mlangi, saya belum bisa memahami apa yang dibaca kecuali hanya sebagian kecil saja, misalnya di bagian akhir ada bacaan
صلى الله ربنا على النور المبين أحمد المصطفى سيد المرسلين وعلى أله وصحبه أجمعين
Dalam acara maulid Nabi ini, semua warga Mlangi membuat hadiah berupa berkat yang bervariasi berdasarkan kemampuannya. Untuk kalangan Kiai dan tokoh setempat biasanya mendapatkan hadiah yang cukup besar berupa makanan, uang, kulkas, majicom, kipas angin dan yang lainnya sebagai wujud terima kasih masyarakat karena keberadaan mereka sebagai soko guru bagi warga Mlangi.
Gus Mustafid selaku pengasuh Pesantren Aswaja Nusantara Mlangi dan Pengurus Harian Takmir seksi PHBI menyatakan bahwa tradisi ini adalah bagian dari warisan leluhur Mlangi dalam hal ini Kiai Nur Iman Mlangi yang mengawinkan antara tradisi dan nilai-nilai agama sekaligus di mana ada pembacaan selawat Nabi dikemas dengan tradisi gladen, sedekah berupa hadiah berkat dan ditutup dengan tarian Kojan (tarian khas Mlangi) di malam harinya. Gus Mustafid melanjutkan bahwa tradisi luhur ini selain diharapkan untuk merekatkan hubungan antar warga juga dapat melestarikan warisan kasepuhan Mlangi yang dilandasi dengan nilai-nilai Islami.
Kiai Mabarun, pengasuh pesantren Al-Miftah Mlangi dalam salah satu kesempatan menghimbau para warga Mlangi agar mensukseskan acara ini dengan memberikan dukungan baik materi, tenaga dan pikiran dalam rangka mengharapkan syafaat Nabi Muhammad saw sebab menurutnya kegiatan ini adalah bagian dari kecintaan kepada Nabi Muhammad saw.
Acara yang dihadiri sekitar 2000-2500 warga Mlangi dan sekitarnya ini berlangsung dengan khidmat dari pagi jam 07.30 dan selesai sekitar jam 14.00

