TOKOH – Sejarah intelektual Islam tidak hanya dipahat oleh pena para lelaki. Di antara lipatan sejarah modern Mesir, bersemayam jejak langkah seorang perempuan teguh yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk keilmuan, sastra, dan penafsiran Al-Qur’an.

Ia adalah Prof. Dr. ‘Āishah ‘Abd al-Raḥmān (1913–1998), seorang mufassir perempuan kontemporer yang lebih karib disapa dengan nama penanya: Bint al-Shāṭi’.[1]

Penggunaan nama samaran ini bukanlah sekadar pilihan estetis dalam berliterasi, melainkan sebuah bentuk perlawanan sunyi, sebuah taktik emansipatoris seorang perempuan muda dalam mendobrak dinding-dinding patriarki pada zamannya.

Antara Tradisi Konservatif dan Gelora Literasi

Lahir di kota pelabuhan Dimyat (kadang disebut atau dikenal juga dengan daerah Dumyath/Damietta) di Delta Sungai Nil pada 6 November 1913, ‘Āishah kecil hingga remaja tumbuh dalam lingkungan keluarga yang sangat agamis.

Kakek dari garis ibunya, Shaykh Ibrāhīm ad-Damhūjī al-Kabīr, merupakan ulama besar Al-Azhar. Di bawah asuhan ketat sang ayah, Shaykh Muḥammad ‘Alī ‘Abd al-Raḥmān, ‘Āishah kecil telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an di usianya yang sangat belia.

Namun, ruang geraknya amat terbatas. Sang ayah berpandangan konservatif bahwa tempat terbaik bagi perempuan hingga remaja adalah di dalam rumah. Pendidikan di luar rumah dianggap tabu. Ketika gelora intelektual ‘Āishah membuncah dan dorongannya untuk belajar tidak lagi bisa dibendung, benturan tradisi pun terjadi.

Guna menyalurkan pemikiran dan keberanian tulisan-tulisannya ke media massa terkemuka seperti majalah al-Nahḍah al-Nisā’iyyah dan harian al-Ahrām, ‘Āishah memilih bersembunyi di balik nama pena Bint al-Shāṭi’.

Nama yang boleh berarti ‘Anak Perempuan Tepian Sungai’ itu ia ambil dari kenangannya tumbuh di tepi Sungai Nil, sekaligus sebagai benteng perlindungan dari kemarahan sang ayah. Nama samaran tersebut menjadi ruang aman bagi ‘Āishah untuk bersuara tanpa harus memutus ikatan kekeluargaan.

Melalui dukungan tersembunyi dari ibunya, Farīdah, serta pembelaan dari kakek dan guru ayahnya, ‘Āishah akhirnya berhasil melangkah keluar rumah untuk mengejar pendidikan formal.

Menembus Barikade Akademis

Langkah ‘Āishah menembus barikade tradisi membawanya meraih pencapaian luar biasa. Pada tahun 1936, ia menyelesaikan gelar sarjananya di Jurusan Sastra Arab Universitas Kairo, dilanjutkan dengan gelar Magister pada 1941, hingga meraih gelar Ph.D. dengan predikat pujian (cumlaude) pada tahun 1950.

Pencapaian ini menjadikannya salah satu perempuan pertama yang mengajar sebagai profesor di perguruan tinggi terkemuka, seperti Universitas ‘Ain Shams di Kairo, Universitas Qarawiyyin di Maroko, hingga Universitas Umm Durman di Sudan.

Kehadiran Bint al-Shāṭi’ di panggung akademis Timur Tengah membuktikan bahwasanya perempuan memiliki kapasitas intelektual yang setara untuk berdiri sejajar dengan laki-laki dalam mengawal perkembangan disiplin ilmu Islam.

Al-Tafsīr al-Bayānī: Magnum Opus dan Metode Penafsiran

Di Universitas Kairo, ‘Āishah bertemu dengan Amīn al-Khūlī, dosen sekaligus pakar studi Al-Qur’an yang kemudian menjadi suami dan pendamping intelektualnya. Dipengaruhi oleh gagasan al-Khūlī, Bint al-Shāṭi’ menegaskan bahwa Al-Qur’an pertama-tama harus dipahami sebagai karya sastra agung (al-Aṣālah al-Adabiyyah) melalui pendekatan kebahasaan yang mendalam.

Dari perpaduan ketekunan dan metodologi ini, lahirlah karya terbesarnya (magnum opus): Al-Tafsīr al-Bayānī li al-Qur’ān al-Karīm. Meskipun hanya mencakup 14 surah pendek dalam dua jilid, karya ini menjadi monumen penting dalam hermeneutika Al-Qur’an kontemporer.

Prinsip-prinsip metodis yang ia usung meliputi:

Al-Qur’an Menjelaskan Diri Sendiri (Al-Qur’ān yufassir ba’ḍuhū ba’ḍan): Melacak makna suatu kata atau ayat dengan mengaitkannya pada ayat-ayat lain dalam Al-Qur’an.

Penolakan Sinonimitas (Mutarādif): Bint al-Shāṭi’ berkeyakinan teguh bahwa tidak ada kata yang persis sama maknanya dalam Al-Qur’an. Setiap pemilihan kata memiliki presisi makna dan dampak psikologis-sosial yang unik.

Objektivitas Teks: Menolak pengaruh penafsiran saintifik yang dipaksakan (al-tafsīr al-’ilmī) maupun cerita-cerita Isrā’īliyyāt yang tidak bersumber dari keutuhan teks Al-Qur’an itu sendiri.

Teladan Emansipasi Hakiki

Kisah Bint al-Shāṭi’ memberikan pelajaran berharga tentang hakikat emansipasi. Ia tidak memilih jalur konfrontasi yang merusak, melainkan mentransformasikan tekanan psikologis dan pembatasan sosial menjadi energi kreatif-konstruktif. Nama pena Bint al-Shāṭi’ yang mulanya dipakai sebagai pelindung, pada akhirnya tumbuh menjadi simbol keberanian, kedalaman ilmu, dan ketangguhan intelektual perempuan.

Hingga akhir hayatnya pada 1 Desember 1998, Bint al-Shāṭi’ telah melahirkan lebih dari 40 karya ilmiah, biografi keluarga Nabi, cerpen, dan kajian sastra. Warisannya menegaskan sebuah pesan abadi bahwa pembatasan fisik dan keterkungkungan zaman tidak akan pernah bisa memadamkan cahaya ilmu dan kedalaman pikir seorang perempuan yang berjuang demi peradaban.

Kita butuh lebih banyak Bint al-Shāṭi’ baru hari ini. Menuliskan nama-nama perempuan emansipator dalam sejarah menjadikan kita tahu bahwa perempuan tak pernah berada di punggung atau belakang laki-laki dalam membangun peradaban dan keilmuan, melainkan di sebelahnya, setara, sepadan.

Akhir Hayat Sang Mufassir Perempuan

Bint al-Shāṭi’ dikabarkan tutup usia pada usia ke-85 tahun akibat serangan jantung mendadak, pada Selasa, 1 Desember 1998. Kepergiannya memadamkan satu denyut nadi keilmuan, tetapi warisan pemikirannya tetap memancar abadi dalam panggung sains dan hermeneutika Islam.

Detik-detik akhir hidupnya bahkan masih ia persembahkan untuk menulis; sebuah artikel reflektif tentang Ali bin Abi Thalib Karrama Allāh Wajhah di harian Al-Ahram menjadi goresan tinta terakhir yang terbit hanya beberapa bulan sebelum ia menghembuskan napas pamungkas.

Wafatnya Bint al-Shāṭi’ meninggalkan peninggalan intelektual yang tak ternilai. Lebih dari sekadar susunan ribuan lembar karya tafsir, sejarah, dan sastra, ia mewariskan sebuah rute keberanian bahwa seorang perempuan mampu menembus tradisi tanpa kehilangan akar spiritualitasnya, serta sanggup menegakkan argumen keilmuan tanpa harus meruntuhkan rasa hormatnya pada nilai-nilai tradisi.

Kini, nama Bint al-Shāṭi’ bukan lagi sekadar nama samaran untuk menghindari prasangka sosial, melainkan telah menjelma menjadi epitaf keagungan ilmu dan ketangguhan jiwa. Tepi Sungai Nil yang pernah menyaksikan seorang gadis kecil bermimpi dan merenung dalam diam, kini menjadi saksi abadi bahwa jejak pena seorang perempuan mampu mengalir melintasi zaman, memberi kehidupan dan inspirasi bagi generasi yang terus berjuang menegakkan keadilan serta kesetaraan.

[1] Secara harfiah dalam bahasa Arab, nama Bint ash-Shati’ (بنت الشاطئ) memiliki arti “Putri Tepi Pantai” atau “Anak Perempuan Pesisir”.