Suatu waktu, di bulan Ramadan kemarin kalau tidak salah, dalam pertemuan rutin, saya tanya, sibuk apa sekarang mas? “Sibuk ngaji”, jawabnya singkat.
Ngaji di BC (Pesantren Bumi Cendekia)?, tanya saya lagi. “Bukan. Saya yang ngaji”, imbuh mas Imam.
Rupanya, setelah ngobrol cukup lama, diketahui, kalau mas Imam ngaji (tepatnya mengaji lagi) Tafsir al-Jalalain via daring kepada seorang guru/syekh, hingga khatam. Lalu?
“Agar saat saya mengaji untuk santri BC, tidak punya beban, karena memiliki sanad keilmuan langsung dari pengarangnya, dan juga nyambung dengan para santri di sini”, pungkasnya, sebelum akhirnya kami memulai rapat.
Itulah integritas keilmuan mas Imam Aziz, yang meski beliau senior dari segi usia, ia masih belajar dalam arti yang sebenarnya. Tidak heran, jika ia menjadi guru, mentor, dan teladan bagi lintas generasi di banyak bidang, terutama intelektualitas, aktivis, dan advokasi sosial.
Pendirian Pesantren Bumi Cendekia, yang semula diinisiasi oleh Jamaah Nahdliyin Yogyakarta (JNY; perkumpulan para aktivis sosial dengan beragam profesi), sesungguhnya atas saran “provokasi”, dari mas Imam.
Setiap akhir tahun, saya masih ingat, mas Imam selalu diundang dan menyempatkan hadir, karena yang ikut secara formal di JNY adalah mbak Rindang Farihah, istrinya. Mas Imam selalu diberi waktu khusus untuk menyampaikan apa saja.
“Perkumpulan ini baik, dan sangat baik, tapi akan lebih baik lagi kalau tidak hanya sekadar kumpul arisan setiap bulannya. Apalagi sudah berlangsung belasan tahun. Mbok yo buat apa gitu. Lihat Cak Nur (Nurcholis Madjid), meski meninggal dunia, punya “warisan” Paramadina dan lembaga pendidikan lain. Lah, kalau kita semua nanti meninggal, apa yang bisa diwariskan kepada generasi mendatang?”.
Sejak itu, kami tercenung. Dan akhirnya, dengan tekat bulat, berdirilah Yayasan Bumi Aswaja, kemudian mendirikan SMP, SMA, dan Pesantren Bumi Cendekia, yang pada tahun 2026, genap sewindu. Mas Imam, didapuk sebagai Ketua Dewan Masyayikh BC.
Walau dalam keadaan sibuk, mas Imam selalu setia menemani santri mengaji di BC. Kitab andalannya, memang Tatsir al-Jalalain.
Kini, mas Imam telah berpulang. Sugeng kondur, mas yai Mbah Dukuh. Surga, menanti. Alfatihah..

