TOKOH — Seorang teman, alumni Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan, pernah menceritakan kepada saya kesannya terhadap almarhum Pak Kiai Dian Nafi’.

Kini, teman tersebut menjadi pengusaha pengecoran besi dan logam di wilayah Soloraya. Usahanya berkembang cukup pesat. Bahkan, proyek-proyek yang dikerjakannya telah menjangkau hingga Tanah Papua.

Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, ia bercerita tentang pengalamannya ketika hendak boyong dari Pondok Windan. Saat itu, ia matur kepada Pak Kiai, “Kula badhe pamit wangsul. Badhe ndherek neruske usahanipun Bapak ing bidang pengecoran besi/logam.” Saya akan pulang, Kiai. Saya ingin ikut meneruskan usaha Bapak di bidang pengecoran besi dan logam.

Mendengar keinginan itu, Pak Kiai tidak serta-merta memberikan nasihat panjang di pondok. Beliau justru mengajak santri tersebut berjalan-jalan menuju sebuah warung soto yang cukup nyaman untuk berbincang.

Di sana, Pak Kiai bercerita panjang lebar tentang pendidikan di Finlandia, negara yang pada masa itu banyak dikenal memiliki salah satu sistem pendidikan terbaik di dunia.

Dari pembicaraan tentang pendidikan, percakapan kemudian mengarah pada kehidupan dan masa depan sang santri. Di luar dugaan, Pak Kiai justru menganjurkan agar ia tidak langsung membantu usaha Bapaknya. “Belajarlah dulu kepada orang lain,” kira-kira demikian pesan yang disampaikan beliau.

Pesan itu bukan sekadar nasihat. Pak Kiai bahkan menyodorkan beberapa nama mentor bisnis yang menurut beliau sesuai dengan karakter dan kebutuhan santri tersebut.

Sang santri pun benar-benar mengikuti saran Pak Kiai. Ia kemudian belajar kepada seorang mentor bisnis yang bergerak di bidang pertanian dan peternakan—bidang yang sama sekali berbeda dengan bisnis keluarganya di bidang pengecoran besi dan logam.

Ia menjalani proses itu dengan tekun: belajar, mengamati, membantu, membangun relasi, dan menyerap pengalaman. Hingga akhirnya, ia dipercaya menjadi salah satu orang kepercayaan sang mentor.

Setelah merasa cukup dengan proses belajar yang dijalaninya, ia kembali kepada keluarganya dan turut membesarkan bisnis pengecoran besi dan logam yang telah dirintis Bapaknya.

Bengkelnya memang sama, tetapi cara pandangnya sudah berbeda. Jaringannya semakin luas, keterampilannya bertambah, relasinya berkembang, dan ia mampu menjangkau pasar yang berbeda dari pasar yang selama ini digarap keluarganya. Pada akhirnya, bisnis keluarga itu pun ikut berkembang.

Ia kemudian mengatakan sesuatu yang menurut saya sangat menarik:

“Kalau saya saat itu langsung fokus membantu Bapak, mungkin saya sekadar melanjutkan bisnis yang sudah ada. Dengan saya belajar kepada orang lain terlebih dahulu, saya memiliki relasi baru, keterampilan baru, dan itu sangat berguna dalam bisnis saya saat ini.”

Bahkan, hubungan dengan sang mentor bisnis tidak berhenti setelah masa belajarnya selesai. Relasi itu kemudian berkembang menjadi kemitraan bisnis. Mereka saling melengkapi, saling menguatkan, dan sama-sama mendapatkan manfaat.

Dari cerita sederhana ini, saya kembali memahami satu hal tentang Pak Kiai Dian Nafi’.

Beliau tidak sekadar mendidik santri agar menjadi pintar. Beliau mendidik santri agar menjadi manusia yang mampu membaca kehidupan.

Beliau tidak selalu memberikan jawaban secara langsung. Kadang-kadang, beliau justru menunjukkan jalan agar santri menemukan jawabannya sendiri.

Beliau juga tidak hanya mengajarkan ilmu di ruang kelas atau masjid. Beliau memperkenalkan dunia, membuka jaringan, menghadirkan mentor, dan mendorong santri untuk mengalami sendiri proses belajar dalam kehidupan nyata.

Mungkin, itulah salah satu makna Pondok Windan sebagai pesantren pengembangan masyarakat. Santri tidak dipersiapkan hanya untuk menjadi “orang pondokan”, tetapi juga dipersiapkan untuk kembali ke tengah masyarakat dengan membawa ilmu, pengalaman, jejaring, dan semangat kebermanfaatan.

Kisah seorang alumni ini menjadi salah satu bukti kecil dari cara pendidikan semacam itu bekerja. Sebuah nasihat sederhana ternyata dapat mengubah cara seseorang memandang masa depan. Alih-alih tergesa-gesa meneruskan apa yang sudah diwariskan keluarga, ia terlebih dahulu belajar kepada orang lain. Dari sana, ia mendapatkan pengalaman, jaringan, keterampilan, sekaligus cara pandang baru yang kemudian menjadi bekal untuk mengembangkan usaha keluarganya.

Terima kasih, Pak Kiai.

Terima kasih telah mengajarkan bahwa sebelum meneruskan sesuatu, seseorang terkadang perlu pergi sejenak untuk belajar dari orang lain.

Sebab, dengan belajar, kita tidak hanya mendapatkan ilmu. Kita juga mendapatkan cara pandang, pengalaman, keberanian, dan relasi yang kelak mungkin justru menjadi bekal untuk mengembangkan apa yang telah diwariskan keluarga.

Matur nuwun, Pak Kiai Dian Nafi’.
Matur nuwun, Pak Yan.

Nasihat dan ketelatenan Panjenengan dalam mendampingi para santri terus hidup dalam cerita dan perjalanan mereka.