OPINI – Kasus perundungan yang terjadi di Nusa Tenggara Barat beberapa bulan belakangan membuat mata batin kita seakan tidak percaya, terlebih karena terjadi di lingkungan pesantren. Adanya relasi kuasa dari senior kepada junior membenarkan fakta bahwa budaya senioritas memang masih ada. Tiga orang menjadi korban, bahkan satu di antaranya meninggal dunia, sementara dua lainnya mengalami cacat permanen. Peristiwa ini menjadi bukti nyata betapa kejamnya praktik perundungan. Pertanyaannya, mengapa kasus perundungan masih saja terjadi?

Kita mengenal konsep VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, dan Ambiguity). Di tengah perubahan yang serba cepat dan penuh ketidakpastian, remaja dihadapkan pada tantangan yang jauh lebih kompleks dibandingkan generasi sebelumnya. Dunia pendidikan saat ini juga menghadapi persoalan moralitas peserta didik yang semakin rumit, mulai dari kasus perundungan seperti yang penulis contohkan di atas, gangguan kesehatan mental, kecanduan gawai, hingga krisis kedisiplinan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa penanganan siswa bermasalah di sekolah tidak lagi cukup jika hanya mengandalkan pendekatan regulatif-punitif yang bersifat menghukum. Sanksi akademik atau teguran fisik sering kali hanya menekan perilaku negatif di permukaan tanpa menyentuh akar permasalahannya. Ketika disiplin ditegakkan hanya karena rasa takut terhadap hukuman, perubahan perilaku yang terjadi cenderung bersifat semu dan sementara.

Oleh karena itu, diperlukan reposisi paradigma dalam layanan Bimbingan dan Konseling (BK) di sekolah, termasuk di pesantren, yang mampu menyentuh dimensi terdalam manusia, yaitu aspek psikis dan spiritual. Setiap murid memiliki keunikan dengan berbagai kelebihan dan kekurangan serta berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda-beda. Murid yang sedang bermasalah sesungguhnya masih berada pada fase storm and stress, yaitu masa pencarian jati diri yang penuh gejolak.

Perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat menyebabkan remaja mudah kehilangan fokus, mengalami penurunan daya konsentrasi, melemahnya ketahanan mental, meningkatnya gaya hidup hedonis, serta menurunnya penghayatan terhadap nilai-nilai keagamaan. Oleh karena itu, remaja memerlukan perhatian dan penanganan yang lebih serius.

Pada masa ini, perkembangan kognitif, afektif, dan spiritual sedang bertumbuh. Apabila tidak mendapatkan stimulasi yang tepat, kondisi tersebut dapat melahirkan pribadi yang apatis atau bahkan pemberontak. Pepatah mengatakan, “Didiklah anakmu sesuai dengan zamannya.” Karena itu, dengarkan keluh kesah mereka, sentuh jiwanya, dan berikan tanggung jawab agar lahir generasi yang kuat dan tangguh.

Layanan Bimbingan dan Konseling

Artikel ini menawarkan sebuah gagasan visioner berupa integrasi nilai-nilai spiritual Islam ke dalam praktik konseling modern melalui implementasi layanan BK Qolbun Salim (hati yang bersih) untuk menangani murid bermasalah di sekolah. Konsep Qolbun Salim diadopsi sebagai pisau analisis sekaligus pisau bedah untuk mengurai problem perilaku siswa.

Esensi gagasan ini berangkat dari premis bahwa setiap tindakan menyimpang yang dilakukan seorang murid merupakan proyeksi dari kondisi batin atau hati yang sedang sakit, gelisah, maupun tidak stabil. Dengan demikian, tujuan penanganan murid bermasalah bukan sekadar mengubah perilaku yang tampak (overt behavior), melainkan melakukan transformasi batin secara holistik.

Melalui pendekatan ini, proses bimbingan dirancang untuk menuntun siswa melewati fase takhalli, yaitu pembersihan diri dari emosi dan tabiat negatif melalui teknik catharsis (pelepasan emosi) yang dipadukan dengan konsep pertobatan (taubah). Siswa diajak mengakui kesalahannya secara jujur dalam ruang konseling yang aman dan bebas dari penghakiman (unconditional positive regard).

Tahap berikutnya adalah tahalli, yaitu pengisian jiwa dengan nilai-nilai moral dan spiritual melalui penanaman karakter mulia, seperti tanggung jawab, empati, keikhlasan, dan pengendalian diri. Penguatan ini didukung dengan berbagai instrumen spiritual praktis, seperti pembiasaan refleksi diri (muhasabah), zikir sebagai sarana menenangkan jiwa, serta visualisasi masa depan yang positif.

Tahap terakhir adalah tajalli, yaitu proses menjaga konsistensi perilaku positif. Pada tahap ini, siswa menunjukkan kedisiplinan yang lebih baik, memperbaiki hubungan sosial dengan guru dan teman, serta meningkatkan motivasi belajar. Perilaku positif tersebut lahir dari kesadaran moral batiniah yang otonom, bukan semata-mata karena takut terhadap sanksi sekolah.

Implementasi layanan Bimbingan dan Konseling berbasis Qolbun Salim merupakan sebuah dekonstruksi terhadap model konseling konvensional yang cenderung sekuler dan mekanistis. Pendekatan ini menawarkan cara pandang baru yang mengintegrasikan psikologi modern dengan spiritualitas Islam untuk menyembuhkan akar perilaku menyimpang pada siswa.

Dalam perspektif Qolbun Salim, perilaku bermasalah yang ditunjukkan murid, seperti agresivitas, membolos, maupun degradasi moral, bukanlah masalah utama, melainkan gejala (symptom) dari hati yang sedang sakit atau kotor (qolbun maridh). Hati yang tertutup oleh ego, kemarahan, dan kekecewaan akan memanifestasikan dirinya dalam bentuk tindakan destruktif di lingkungan sekolah.

Oleh karena itu, intervensi yang hanya menyasar perubahan perilaku lahiriah tanpa memperbaiki kondisi batin siswa akan sulit memberikan hasil yang berkelanjutan. BK Qolbun Salim memosisikan hati sebagai episentrum seluruh navigasi emosional, spiritual, dan rasional siswa. Ketika batin siswa disembuhkan dan ditenangkan, regulasi diri serta perilaku positif akan tumbuh secara alami tanpa paksaan.

Semoga lingkungan pendidikan kita terbebas dari kasus perundungan di masa mendatang. Amin.

Komentar