Islamsantun.org. Seorang pecinta hanyalah memiliki satu kiblat yang tak lain adalah kekasihnya sendiri. Tidak ada siapa atau apapun yang lain yang penting bagi dirinya. Dengan penuh totalitas, seluruh hidup dan nasibnya telah tersedot kepada kekasih itu sendiri.

Dalam konteks ini, kiblat itu dipahami sebagai titik tumpu yang merupakan pusat dari seluruh kesadaran sang pecinta. Juga bisa dipahami sebagai pusat energi yang melahirkan berbagai macam tindakan dari seorang pecinta.

Dalam ruang lingkup wilayah syari’at, kita umat Islam diperintahkan untuk menghadapkan diri kita ke Masjid al-Haram di Mekah sana ketika kita sedang melakukan shalat. Tidak ada kiblat yang lain. Dari belahan bumi mana saja, termasuk yang terjauh sekalipun, umat Islam wajib menghadapkan wajah mereka ke sana ketika shalat. Tidak sah shalat mereka ketika menghadap ke tempat yang lain. “Hadapkanlah wajahmu pada bagian Masjid al-Haram,” firmanNya dalam Quran surat al-Baqarah ayat 149.

Akan tetapi gamblang bagi kita bahwa sesungguhnya Islam itu tidak hanya mencakup perkara syari’at semata. Ada juga dimensi hakikat yang merupakan bagian terdalam dari ajaran Islam itu sendiri. Inilah yang digarap oleh tasawuf. Dan sufi adalah orang yang telah menyelam dengan sempurna di kedalaman samudra hakikat itu.

Di dalam ruang lingkup hakekat, fokus perhatian kita bukan terutama terhadap ibadah-ibadah itu secara lahiriah, juga bukan terhadap Masjid al-Haram sebagai kiblat, akan tetapi bagaimana kita merasakan Allah dan bergantung sepenuh hati kepada hadiratNya belaka.

Orang-orang terkasih di hadapan Allah Ta’ala dari kalangan para aulia pastilah telah menyelam ke dalam samudra hakikat itu. Mereka telah diberi kesanggupan untuk menggeser titik tumpu kiblat mereka, dari yang semula diaksentuasikan ke Masjid al-Haram sana menjadi berpusat kepada Allah Ta’ala yang melampaui seluruh ruang yang ada.

Mereka telah terbang dari keterbatasan ruang dan waktu menuju ke takterhinggaan dan kemutlakan Allah Ta’ala. Fisik mereka berada di tengah-tengah hiruk-pikuk ruang dan waktu, akan tetapi jiwa mereka telah terbebas dan merdeka dari segala kefanaan yang ada.

Di antara mereka ada yang senantiasa terhuyung-huyung karena merasakan mabuk berat kepada hadiratNya. Di antara mereka ada juga yang tercengang-cengang sambil tertawa karena merasakan bahwa Allah itu merupakan sumber dari segala humur dan berbagai tindakan yang jenaka.

Ada juga yang selalu merasakan ketakutan dan sangat hati-hati karena mereka merasakan bahwa Allah senantiasa menyaksikan dan mengawasi mereka, tidak pernah jeda sedikitpun. Ada juga yang selalu merasa awas dan waspada karena mereka betul-betul menghayati bahwa Allah adalah sumber dari segala kesadaran mereka. Dan lain sebagainya, sebagainya.

Karena begitu kuat rasa gandrung mereka kepada Allah, maka seluruh semesta yang mereka rasakan sepenuhnya berisi hadiratNya semata. Tidak ada ornamen yang lain, tidak ada pula corak yang lain. Segala keanekaragaman secara hakiki telah ditekuk menjadi satu. “Ke mana pun mereka menghadap, maka di sana mereka menyaksikan wajah Allah,” firman Allah Ta’ala dalam Qur’an surat al-Baqarah ayat 115.

Dalam konteks ini, cinta ilahiat telah menjadi fondasi bagi lahirnya makrifat. Sementara pada konteks yang lain, seringkali juga terjadi bahwa makrifat itu menjadi fondasi bagi lahirnya cinta. Keduanya senantiasa berkelindan secara solid.

Bagi Maulana Jalaluddin Rumi (1207-1273) satu hal menjadi jelas bahwa siapapun yang mengalami makrifat, pastilah mengalami cinta. Demikian pula sebaliknya. Karena keduanya secara substansial sesungguhnya tunggal adanya walaupun nuansanya berbeda.

Makrifat kita kepada Allah Ta’ala merupakan karunia yang sangat agung dalam kehidupan ini. Siapa pun yang mendapatkannya, berarti sesungguhnya telah mendapatkan segalanya. Bagaimana mungkin tidak, wong dengan makrifat itu seseorang berarti telah mendapatkan hadiratNya. Di saat itulah dia akan memandang segala sesuatu yang lain menjadi sepele. Bahkan kembali ke lumbung ketiadaan.Tidak mungkin tidak, pada saat yang bersamaan pastilah dia jatuh cinta kepada hadiratNya semata.

Hal itu jika makrifat mendahului cinta. Adapun jika cinta yang mendahului makrifat, maka starting pointnya akan menjadi lain. Yaitu, dalam konteks ini pastilah cinta lebih mendominasi sebagai sesuatu yang misteri ketimbang bisa dipahami dengan gamblang.

Cinta akan bergerak dengan sigap dan gesit. Ia akan mengantarkan siapa pun yang merasakannya untuk semakin menelusuri dan memahami Allah Ta’ala. Sehingga pada akhirnya, dengan kesungguhan dan karunia ruhani dariNya, dia akan mengarungi cakrawala kemakrifatan yang begitu mendebarkan dan membahagiakan.

Sungguh, puncak dari cinta dan makrifat itu adalah Allah Ta’ala semata. Semoga kita semua dimudahkan untuk menggapai keduanyka. Amin. Wallahu a’lamu bish-shawab.