Tulisan yang lincah dan bergairah memang gabungan dari banyak hal: konflik, dialog, karakter, alur. Tetapi, tulisan adalah tulisan. Ia dibangun dari kata, dijahit dengan frase, diikat lewat kalimat. Untuk membuat kata, frase, dan kalimat yang lincah sekaligus bergairah tadi, memerlukan perangkat retorika. Begitu kata orang-orang pintar. Dan inilah yang selalu ingin saya pelajari. Kadang-kadang gagal. Namanya juga usaha.

Menariknya kalimat yang amat populer ini bukan hanya karena dimuntahkan John F Kennedy dalam pidato pengukuhannya sebagai presiden 60 tahun silam. Kalimat ini memang memiliki nilai retoris dan efek tertentu. Ini disebut dengan antimetabole, salah satu perangkat dalam retorika. Polanya pengulangan frase dalam klausa; klausa pertama dibalik pada klausa kedua. Contoh lainnya kalimat ini “saya tahu apa yang saya suka, dan saya suka apa yang saya tahu.”

Selain kalimat yang populer itu, Pidato John F Kennedy juga berisi kalimat-kalimat retoris di bawah ini:

“Sekarang sangkakala memanggil kita lagi — bukan sebagai panggilan mengangkat senjata, meski senjata kita butuhkan — bukan sebagai panggilan berperang, meskipun kita sedang diperangi — tetapi panggilan untuk memikul beban perjuangan senjakala yang panjang, tahun demi tahun, Bersukacita dalam harapan, sabar dalam kesusahan—perjuangan melawan musuh bersama manusia: tirani, kemiskinan, penyakit, dan perang itu sendiri.

“Retorika yang terampil adalah teman, bukan musuh, dari kejelasan dan efektivitas. Kata Robert A. Harris dalam A Guide to Rhetorical Devices for Contemporary Writers. Dengan memanfaat teknik retorika, bukan hanya kejelasan dan efektifivitas, kalimat itu akan memberi memberi efek tertentu pada pembaca.

Perhatikan frase “bukan sebagai” yang disebut dua kali dalam pidato Kennedy. Itu teknik yang disebut dengan anaphora. Biasanya digunakan untuk menciptakan efek urgensi, nilai penting, dan klimaks. Perhatikan juga kalimat “bukan sebagai panggilan untuk mengangkat senjata, meskipun senjata yang kita butuhkan, bukan sebagai panggilan untuk berperang, meskipun kita sedang diperangi”. Kalimat pertama dan kedua dibuat sama panjang. Ini teknik isocolon. Contoh lain isocolon adalah omongan Julius Caeasr yang terkenal itu “veni, vidi, vici” (Saya datang, saya lihat , saya menang).

Anda bisa gunakan model antithesis untuk menunjukkan situasi kontras dan memberi efek bantingan. Misal “Banyak yang dipanggil, tapi sedikit yang dipilih.” Untuk memberi efek spontan dan sentuhan tersendiri, kita bisa memilih teknik asyndeton, menghilangkan konjungsi atau kata sambung. Contoh Dia jenis, liar, bintang. Bedakan dan rasakan efek jika kita tulis “Ia seorang jenis, liar dan seorang bintang”. Agar kalimat seperti memiliki tangga, pilihlah jenis klimaks. Suara itu seperti rintik hujan, kilat, petir, dan berubah jadi badai. Masih banyak lagi jenis-jenis yang bisa dipilih.

Menurut penulis Tilar J. Mazzeo dalam Writing Creative Nonfiction, teknik retorika dalam tulisan berguna untuk mengontrol tempo dialog dan mengungkapkan keadaan emosional karakter tokoh. “Semua itu dilakukan secara tak langsung,” katanya.

Kalimulya, 25 Februari 2021