Islamsantun.org. Penyakit remaja masa kini yang menyerang psikis mereka adalah ketidakmampuan lepas dari gawai, hal ini disebabkan oleh keadaan seseorang yang ketergantungan oleh gadget sehingga menjadikan diri gelisah berkepanjangan. Kecanduan ini diawali dengan tersedianya berbagai aplikasi sebagai sarana penunjang aktivitas kehidupan yang lebih cepat, mudah dan terjangkau. Kemudahan untuk berkomunikasi berupa pesan tulis, suara, video call, bermain game online hingga layanan perbankan bisa didapatkan hanya dalam satu genggaman. fenomena itu dinamakan nomophobia (no mobile phone phobia)

Perkembangan teknologi bagaikan dua mata pisau, yakni apabila digunakan sesuai peruntukannya maka pengguna lebih produktif dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Tetapi, akan menimbulkan dampak negatif ketika teknologi tersebut disalahgunakan.

Dunia pendidikan juga dihadapkan dengan tantangan besar terhadap perkembangan teknologi dengan berbagai persoalannya, salah satunya adalah nomophobia dikalangan peserta didik. Ciri-cirinya yang dialami oleh peserta didik yang paling kentara menurut scribd.com, yakni badmood saat tidak ada sinyal, panik ketika gadget tidak dalam genggaman, gemar swafoto, update status media sosial hingga sedih yang berlebihan apabila gawai rusak atau tidak berfungsi. Perubahan psikis tersebut sangat mudah diidentifikasi oleh guru terhadap peserta didiknya menjadikan bukti bahwa penyakit remaja masa kini menyerang mereka.

Penulis sebagai guru bahasa Indonesia memeiliki cara untuk menanggulanginya, yakni memberikan pelatihan secara terstruktur berupa penulisan cerita pendek yang dibuat oleh peserta didik. Kegiatan ini diperuntukkan untuk anak kelas XI SMA se-derajat, dikarenakan kesiapan peserta didik dalam berimajinasi dan membuat cerita lebih matang. Secara garis besar stimulus yang diberikan adalah membaca sebanyak-banyaknya bahan pendukung penulisan (cerpen,teenlit, novel atau bacaan sastra lainnya) dan menulis.

Gambaran kegiatan ini dilakukan selama tiga bulan atau 36 jam tatap muka (6 jam per minggu), dua minggu pertama peserta didik diwajibkan membaca bahan bacaan pendukung kepenulisan. Dilanjutkan dengan pembahasan trik dan cara menulis cerita pendek yang menyenangkan bagi peserta didik yang dilaksanakan pada minggu ketiga dan keempat.

Konsultasi kepenulisan baik yang berhubungan denganunsur intrinsik maupun ekstrinsik cerpen dilaksanakan pada dua bulan selanjutnya, interaksi antara guru dan peserta didik baik secara tatap muka dalam kelas maupun di luar kelas diharapakan menjalin ikatan emosional. Pembahasan berkutat kepada penentuan tema, judul, alur, latar, tokoh penokohan, hingga amanat cerita dibahas secara intens. Tujuan dari kegiatan ini adalah mempersiapkan secara matang dan menyeluruh terhadap semua peserta didik yang belum pernah melakukan kegiatan kepenulisan.

Berdasarkan gambaran singkat tersebut, diharapkan intensitas penggunaan gawai peserta didik berkurang. Kesibukan membaca hingga mencari inspirasi untuk dituangkan ke dalam cerita pendek akan mengurangi penggunaan gawai dalam kesehariannya, semual menggunakan gawai dalam sehari kisaran 8 jam akan berkurang minimal 25 persen yakni menjadi 6 jam dalam sehari. Kreativitas seorang guru bahasa Indonesia sangat diharapkan guna menanggulangi nomophobia dan meningkatkan gerakan literasi baik membaca maupun menulis di kalangan peserta didik.

Menjadi ujung tombak program literasi peserta didik yang diemban oleh guru bahasa Indonesia menjadikan warna baru dalam proses kegiatan belajar mengajar, kelak mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi mata pelajaran yang ditunggu-tunggu dan mengasyikkan. Seperti pepatah bahasa Jawa “wong Jowo ilang Jowo ne”, yang bermakna kehilangan jati diri kebangsaan hingga kebahasaan. Semoga bahasa Indonesia tidak mengalami seperti itu.

M. Fadlulloh Arrozaq, guru bahasa Indonesia, Mahasiswa Magister Pendidikan Bahasa Indonesi Universitas Islam Malang