Ramadan memanggilmu kawan, 11 bulan lamanya kita telah menunggu dan akhirnya kita bertemu lagi. Sebuah bulan yang sungguh mulia, bulan penuh berkah, dan bulan yang konon katanya pintu surga terbuka dan pintu neraka terkunci. Sahur dijalankan, puasa dikerjakan, dan sholat tarawih ditunaikan, rutinitas yang dikerjakan pada bulan ramadan singkatnya hanya seperti itu yang dapat kita lihat, akan tetapi jika kita merupakan hamba yang “beriman” dan ingin menjadi hamba yang mendapat gelar seorang yang “bertakwa” maka kita harus mengimplementasikan apa yang telah tertulis di dalam al-qur’an, tepatnya di dalam surah Al Baqarah ayat 183.

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.

Dari ayat ini disampaikan bahwa jika kita merupakan orang yang “beriman” maka diwajibkan bagi kita untuk menunaikan ibadah puasa dan tujuannya agar menjadikan kita sebagai orang yang “bertakwa”. Pesan yang disajikan oleh sang Khalik sungguh bermakna jika kita sebagai hamba-Nya ingin mencermati lebih dalam intisari dari ayat tersebut.

Pada bulan ramadan diwajibkan menunaikan ibadah puasa, namun terdapat amalan-amalan lain yang dapat dikerjakan juga selain amalan yang sedang kita kerjakan di bulan ini, antara lain seperti salat tarawih dan juga disusul dengan salat witir, berdzikir, salat tahajud, sedekah, membaca al-qur’an yang mana sangat banyak keutamaan didalamnya, pahala saat kita membaca al-qur’an di bulan ramadan ini sungguh besar bahkan berlipat ganda, dan amalan-amalan lain yang bila dikerjakan ketika bulan ramadhan maka pahalanya akan berlipat ganda juga.

Di bulan ramadan kita juga diperintahkan untuk tidak hanya menahan lapar dan dahaga akan tetapi bagaimana kita dilatih untuk menahan hawa nafsu. Terdapat variasi menahan hawa nafsu yang dapat kita latih seperti hawa nafsu saat marah, saat ghibah (membicarakan keburukan orang lain), dan bagi suami-istri yaitu nafsu untuk berhubungan badan. Di bulan ini kita ditempa sedemikian rupa untuk bagaimana menahan dan mengendalikan hawa nafsu kita oleh karenanya bulan ramadan dijuluki sebagai bulan yang mulia.

Selain menjadi bulan yang mulia, bulan ramadan juga dikenal sebagai bulan yang didalamnya terdapat ajang untuk melakukan sebuah perampokan. Bulan ramadan disebut ajang perampokan karena pada bulan ini barisan saf salat yang sepi menjadi penuh, suara lantunan al-qur’an yang merdu kembali terdengar di masjid-masjid, dan di siang hari yang panas banyak orang marah-marah menjadi sunyi karena dapat mengontrol nafsu amarahnya.

Bulan ramadan juga memberikan kesempatan bagi umat Islam untuk mengerjakan berbagai macam amalan yang dianjurkan dan pada bulan ini juga dapat digunakan untuk berlomba-lomba dalam mengerjakan semua amalan kebaikan, atau yang biasa dikenal dengan“fastabiqul khoirot”.

Berlomba-lomba dalam kebaikan adalah sah dalam Islam, terutama di bulan ini, banyak masyarakat berlomba untuk meningkatkan standar pahala mereka karena mereka sadar bahwa pada bulan ini nominal pahala yang didapat akan lebih banyak dan berlipat. Oleh karena itu, dengan berlomba dalam kebaikan maka kita akan menjadi hamba yang sangat beruntung.

Setelah kita menunggu selama 11 bulan lamanya akhirnya berhasil mendapatkan pahala yang melimpah, namun sebagai hamba yang beriman dan akan menjadi hamba yang insyaallah dikatakan “bertaqwa”, maka jangan sampai pada bulan ini kita terlena dengan hiruk-pikuk perlombaan dalam kebaikan itu sendiri, kita juga harus paham bahwa alasan kita melakukan perlombaan dalam kebaikan tidak hanya untuk mendapatkan pahala namun juga harus kita tekankan untuk mendapatkan rida dari Allah SWT. Semoga di ramadan tahun ini kita bisa melewatinya dengan mudah dan kita bisa mendapatkan titel sebagai orang yang “bertaqwa”.