Selasa malam lalu, saya mengikuti acara pembukaan darusan yang diselenggarakan oleh Pengajian Pitulasan Masjid al-Aqsha Menara Kudus. Darusan Al-Qur’an ini rutin diselenggarakan setiap tahun mulai tanggal 3-27 Ramadhan mulai bakda tarawih sampai selesai. Acara ini tidak hanya berisi pembacaan Al-Qur’an dari juz ke juz secara bergantian saja, melainkan disampaikan pula pesan-pesan kebaikan oleh para ustaz dan Kiai serta tanya jawab perihal agama yang diasuh oleh para masyayikh, KH. Em. Nadjib Hassan, KH. M. Arifin Fanani, KH. M. Ulil Albab Arwani, dan KH. Hasan Fauzi.

Saya pertama kali mengikuti darusan Pitulasan Menara ini dari tahun 1980-an. Sebelumnya, pengajian ini diselenggarakan oleh Mabarot NU Kudus di tempat yang menetap, yaitu kantor percetakan Menara Kudus yang berada di sebelah selatan Menara Kudus. Entah apa penyebabnya kemudian darusan ini diambil alih oleh pengajian pitulasan Menara Kudus. Setelah diambil alih, tempat penyelenggaraannya mengalami tiga kali perubahan, pertama di rumah bapak H. Sya’roni, kedua di kantor yayasan masjid dan makam Sunan Kudus (YM3SK), dan ketiga di gedung YM3SK hingga sekarang ini.

Pada tahun 1980-an itu, Mbah Tur (sapaan akrab Simbah KH. Turaichan Adjhuri asy-Syarofi) adalah tokoh/ulama yang selalu ditunggu-tunggu fatwanya oleh pengunjung pengajian darusan. Beliau menjadi pembahas tunggal yang menjawab as-ilah (soal-soal) yang diajukan sebelumnya oleh pengunjung secara tertulis. Di dalam membahas dan menjawab persoalan-persoalan itu, Mbah Tur akan merinci ta’bir dari beberapa kitab rujukannya disertai halamannya. Sebuah tradisi yang sudah tidak ditemukan lagi di pengajian darusan Pitulasan Menara Kudus.

Pada akhir penyelenggaraan darusan (khataman), Mbah Tur akan menyampaikan intisari pesan-pesan kebaikan sejak dari awal. Beliau akan memulai pesannya itu dengan mengutip wasiat al-Imam Fudhail bin Iyadl serta sebuah ayat Qur’an, dan disampaikan dengan sangat jelas serta tegas. Suasana tiba-tiba menjadi hening karena semua pengunjung menyimak dengan penuh kesungguhan. Pesan itu berbunyi,

فعليك بطريق الهدى، ولا يضرك قلة السالكين
وإياك وترق الردى، ولا تغتر بكثرة الهالكين
وزنوا بالقسطاس المستقيم، ذلك خير واحسن تأويلا

Mbah Tur akan melanjutkan wasiat ini dengan pesan yang sangat mendalam dan berlaku sepanjang zaman, “Ojo Gumunan, Ojo Gampang Kepencut”. Jangan mudah heran atau takjub oleh kemajuan zaman, dan jangan mudah terbujuk. Kita diminta waspada terhadap tanda-tanda zaman, banyak hal-hal yang kelihatannya baik tetapi menjerumuskan dan sebaliknya. Segala sesuatu hendaknya ditimbang dengan hukum ketetapan Allah Swt.