Islamsantun.org. Komentar lain atas ulasan Prof. Abad Badruzaman atas buku “Rekonstruksi Islam Historis.” Dalam 3 hari terakhir ini saya posting komentar saya atas ulasan beliau di facebook, tapi dimulai dari yang paling akhir. Terbalik ya, mestinya dari yg paling awal.

“Terima kasih, Abah, atas refleksinya yg mendalam. Saya akan merespons pertanyaan terakhir: “Tapi, apakah sumber-sumber pra-Islam atau sumber non-Muslim yang sezaman dengan al-Qur`an itu benar-benar sepi dari kontradisi dan bebas dari intrepretasi sejarah keselamatan (salvation history)?” Ada dua hal perlu dibedakan, karena punya implikasi berbeda dalam membicarakan al-Qur’an. Pertama, “sumber-sumber pra-Islam” dan, kedua, “sumber non-Muslim yang sezaman dengan al-Qur’an.”

Kenapa sumber2 itu perlu didudukkan secara benar, karena al-Qur’an berinteraksi dengan yang pertama, tapi tidak dengan yg kedua. Nah, diskursus tentang tafsir al-Qur’an bil-Quran (menafsirkan al-Quran dgn al-Qur’an) dan interaksinya dengan literatur Bible (pra-Islam) terkait dgn yang pertama, tdk dgn yg kedua.

Pertanyaan soal ada-tdknya kontradiksi dan interpretasi sejarah keselamatan memang relevan, tapi pertanyaan lanjutannya: Dalam konteks apa itu relevan? Semua sumber, baik yg pra maupun pasca al-Qur’an, bahkan al-Quran sendiri, mengandung dua hal itu: kontradiksi dan visi sejarah keselamatannya sendiri. Karenanya, pertanyaannya menjadi: Dlm konteks apa adanya kontradiksi dan interpretasi sejarah keselamatan itu relevan dibicarakan.

Dalam endorsement saya terhadap buku Abah yang saya puji secara tulus itu, konteksnya adalah situasi historis kelahiran al-Qur’an, yg dalam literatur klasik disebut “asbab al-nuzul”. Nah, jika konteksnya adalah nuzul al-Qur’an atau konteks historis al-Qur’an, maka sumber pertama (pra-Islam) tidak bisa digunakan untuk melihat bagaimana al-Qur’an muncul. Sebab, sumber-sumber itu sudah ada sebelum al-Qur’an muncul. Jadi, bukan kesaksian atas kemunculan al-Qur’an. Ini berarti, soal kontradiksi atau interpretasi sejarah keselamatan sumber pra-Islam dlm konteks sejarah al-Quran tidak relevan. Alasannya sederhana, kita tidak hendak menguji historisitas sumber2 pra-Islam untuk melacak konteks historis al-Quran.

Lalu, apa kegunaan sumber2 pra-Islam dalam konteks historis kemunculan al-Quran? Kegunaannya terletak pada bagaimana al-Quran berinteraksi dengan sumber-sumber tersebut. Sekitar 2/3 isi al-Qur’an itu terkait hal-hal yang sudah terdapat dalam sumber-sumber pra-Islam: Bible dan literatur pasca Bible. Nah, melihat intensitas dan ekstensitas interaksi al-Quran dgn literatur Bible memberikan isyarat bahwa al-Quran lahir dalam iklim kultural yang sama dengan Bible.

Dengan kata lain, mengetahui Bible dan literatur pasca Bible membantu kita memahami kenapa al-Quran mengatakan apa yang dikatakanya, dan mengapa dikatakan sedemikian rupa. Dalam bedah buku “Rekonstruksi Islam Historis” beberapa waktu lalu, saya menceritakan contoh istri Ibrahim, Sarah, yang digambarkan dlm al-Qur’an tertawa sebelum diberitahukan kepadanya kabar gembira tentang akan kelahiran anaknya, Ishaq. Jadi, urutannya itu: tertawa dahulu, kemudian dikabarkan berita gembira akan lahir anaknya. Urutan dalam Bible berbeda: diberitahu kabar gembira dahulu, kemudian Sarah tertawa.

Nah, para mufassirun klasik (terutama) yang tdk mengetahui sumber Bible kesulitan memahami keterkaitan antara tertawa dan kabar gembira. Mestinya, kan, Sarah tertawa karena dia menyangsikan akan punya anak, sebab usianya yg sudah lanjut atau memang sudah bisa punya anak. Jadi, tertawa itu sebagai reaksi atas kabar gembira. Karena itu, para mufassirun kesulitan memahami kata “dhahikat”. Ada memahami kata itu sebagai “menstruasi.” Tiba-tiba Sarah datang bulan, pertama dia bisa hamil. Padahal, ya, dhahikat itu artinya “dia (perempuan) tertawa.”

Kalau kita membayangkan audiens al-Qur’an sudah mengetahui kisah Bible, urutan al-Quran itu mudah dipahami. Audiens awal al-Quran yang familiar dgn Bible tidak akan bingung dengan urutan “tertawa” dan “kabar gembira”, karena “tertawa” yang muncul duluan bisa juga sebagai reaksi atas “kabar gembira”. Jadi, mereka yang mengetahui kisah Bible akan memahami bahwa Sarah tertawa KETIKA mendengar kabar gembira itu.

Itu yang saya maksud, bahwa al-Quran lahir dalam iklim kultural yang sama dengan Bible. Melihat interaksi al-Quran dengan Bible memberikan gambaran terang tentang iklim kultural tersebut. Hal itu juga berarti, dalam konteks mengetahui iklim kultural tersebut, pertanyaan ada-tidaknya kontradiksi atau bagaimana model sejarah keselamatan sumber pra-Islam menjadi tidak relevan.

Nah, sekarang sumber kedua: sumber2 non-Muslim yang sezaman dengan al-Qur’an. Seperti saya katakan di atas, al-Quran tidak berinteraksi dengan sumber2 ini karena alasan yang jelas: sumber-sumber ini muncul setelah al-Quran. Ketika kita bertanya “Apakah sumber non-Muslim bisa digunakan untuk melacak konteks historis al-Quran?” di situlah pertanyaan ada-tidaknya kontraksi dalam sumber2 itu menjadi relevan. Sebab, sumber-sumber tersebut perlu diuji nilai historisnya. Memang, seperti Abah sebutkan, sumber-sumber itu ditulis cukup awal, tapi apakah bebas dari kontradiksi dan interpretasi sejarah keselamatannya?

Pertanayaan terakhir itu relevan di sini. Yakni, ketika kita menguji nilai historis sebuah sumber. Dan saya sudah panjang-lebar menjelaskan problem dalam sumber-sumber non-Muslim, sebagaimana juga sumber-sumber Muslim sendiri, untuk merekonstruksi kemunculan Islam, dan saya kira tak perlu diulang di sini.

Bab dalam buku “Rekonstruksi Islam Historis” yang relevan dengan pembahasan “asbab al-nuzul” ialah bab ke-5 “Menyingkap Konteks Historis al-Qur’an melalui Tafsir.” Bab ini memang dimaksudkan untuk menjawab apakah tafsir dapat dijadikan sumber untuk mengungkap konteks historis al-Qur’an. Skeptisisme saya terhadap nilai historis asbab al-nuzul dapat dilihat lebih jelas dalam bab itu.”

Baca komentar sebelumnya di sini I