Kenapa cinta lama bersemi lagi?
Karena cinta yang kau miliki enggan kau semai, jarang kau sirami.
(#LogikaCinta, 2020)

Saat ini kita ibarat bernafas dalam bejana kehidupan yang terbonsai, serba mungil, minimalis dan praktis. Banyak ruang privat yang sudah tidak punya sekat. Seakan foto selfie dengan korban kecelakaan, korban bencana, mereka yang dirundung nestapa adalah hal yang menyenangkan yang harus segera dibagi dan sebarkan. Semua terurai begitu saja tanpa segan, tanpa enggan.

Sumpah serapah, kutukan, caci maki, pujian, sini, narsis, sampai pamer kebahagiaan bagai air bah mengalir di sungai-sungai kecil yang bernama sosial media. Mejadi santapan lahap siapa saja.

Beda Maya, beda Nyata
Namun diruang lain yang bernama kehidupan nyata, kita semakin asing dengan tetangga, acuh dengan rintihan mereka, pagar rumah semakin kokoh dan indah laiknya istana. Bahkan rumah tangga tinggallah fisiknya; rumah dan tangga tanpa keluarga, keluarga yang asing dari makna.

Di sudut kamar istri cekikikan ngrumpi, asyik ghībah berjama‘ah dengan gengnya di grup WA, sambil sesekali stalking medsos mantan atau saingan, kepo apa gerangan kabar asmaranya, yang kemudian menjadi bahan segar tema ghibah lanjutan.

Di sudut lain, suami diam-diam kirim pesan mesra dengan teman masa SMAnya, sama mantanya. Lalu bersemilah cinta lama yang ujungnya prahara rumah tangga. Dan anak-anak tanpa kontrol membuka apa saja dari gawainya!

Ruang privat sudah terjajah!
Makna bertetangga, arti rumah tangga jadi terserak dalam puzzle rumit yang sulit ditemukan pasangannya.

Semoga ini hanya ketakutan dan buruk sangka saja. Semoga nyatanya semua baik-baik saja. Dan kita selalu bisa adil; meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.

Wallāhu A‘lam