Nama Ibn Taymiyyah hampir selalu muncul dalam diskursus teologi, hukum, dan polemik akidah. Namun, ada satu dimensi penting yang sering luput; pendidikan. Inilah celah yang kemudian dengan serius diisi oleh Mājid ‘Arsān al Kaylānī melalui disertasinya, Ibn Taymiya on Education (1981) yang kemudian diterbitkan dalam bahasa Arab dengan judul al-Fikr al-Tarbawī ‘inda Ibn Taymiyyah (1986).

Al-Kaylānī tidak sekadar mengumpulkan kutipan pendapat Ibn Taymiyyah tentang pendidikan. Ia melakukan sesuatu yang lebih mendasar; merekonstruksi filsafat pendidikan Ibn Taymiyyah dari dalam kerangka teologi, epistemologi, dan kritik sosialnya. Hasilnya bukan potret normatif, tetapi gambaran pemikir pendidikan yang tegas, kritis, dan kontekstual.

Pendidikan sebagai Proyek Peradaban

Titik pijak al-Kaylānī dalam karyanya ini jelas; krisis pendidikan dunia Islam modern tidak bisa diselesaikan hanya dengan impor model Barat atau replikasi epistemik masa lalu. Tradisi perlu dibaca ulang secara kritis. Dalam kerangka ini, Ibn Taymiyyah penting bukan karena ia ‘salafi’, tetapi karena ia mempraktikkan kritik radikal terhadap stagnasi intelektual pada masanya.
Menurut al-Kaylānī, pendidikan bagi Ibn Taymiyyah bukan aktivitas netral.

Ia adalah instrumen pembentukan manusia, masyarakat, dan arah peradaban. Karena itu, pendidikan selalu terkait dengan tiga hal; tauhid sebagai fondasi orientasi hidup; ilmu sebagai sarana pembentukan akal dan amal; maṣlaḥah sosial sebagai tujuan nyata.

Ilmu tidak boleh berhenti pada hafalan atau status simbolik. Ilmu harus berbuah pada tindakan yang memperbaiki individu dan masyarakat. Inilah sebabnya mengapa Ibn Taymiyyah terus mengaitkan pendidikan dengan keadilan, amar ma‘ruf nahi munkar, dan tanggung jawab sosial.

Kritik terhadap Genealogi Pendidikan Islam

Salah satu kontribusi al-Kaylānī melalui karya ini adalah penempatan Ibn Taymiyyah dalam sejarah perkembangan pemikiran pendidikan Islam. Ia menunjukkan bahwa kemunduran pendidikan bukan semata akibat faktor eksternal, tetapi juga hasil dari pembekuan internal.

Ibn Taymiyyah hidup dalam konteks pendidikan yang telah terfragmentasi ke dalam madzhab ideologis; kalam, filsafat, tasawuf, dan fikih. Masing-masing membangun otoritasnya sendiri, sering kali dengan logika eksklusif. Pendidikan pun berubah dari ruang pencarian kebenaran menjadi arena reproduksi loyalitas mazhab.

  • Kritik Ibn Taymiyyah diarahkan pada prinsip konformitas (taqlīd jamā‘ī); ketaatan intelektual kolektif yang membunuh daya kritis. Dalam konteks pendidikan, taqlīd ini melahirkan kurikulum yang beku, metode pengajaran yang dogmatis, dan relasi guru–murid yang hierarkis tanpa ruang dialog.

Filsafat dan Tujuan Pendidikan

Al-Kaylānī menegaskan bahwa filsafat pendidikan Ibn Taymiyyah berangkat dari pemahaman tentang fiṭrah manusia. Manusia diciptakan dengan potensi rasional, moral, dan spiritual yang harus dikembangkan secara seimbang. Pendidikan bertugas menjaga dan mengarahkan fiṭrah, bukan merusaknya melalui spekulasi kosong atau asketisme ekstrem.

Tujuan pendidikan, dengan demikian, bukan sekadar menghasilkan muslim yang alim, tetapi manusia beriman yang berilmu dan bertanggung jawab. Ilmu yang tidak membimbing pada amal dan etika sosial dipandang cacat secara pedagogis.

Di sini tampak perbedaan Ibn Taymiyyah dengan sebagian filsuf dan mutakallim. Ia tidak menolak akal, tetapi menolak absolutisasi akal yang terlepas dari wahyu dan realitas sosial. Pendidikan harus membentuk nalar yang bekerja dalam batas-batas tanggung jawab moral.

Dalam soal kurikulum, Ibn Taymiyyah bersikap tegas sekaligus fleksibel. Al-Kaylānī menunjukkan bahwa ia membedakan antara; ilmu inti (‘ulūm maqṣūdah li-żātihā), terutama al-Qur’an, Sunnah, dan ilmu yang membentuk pandangan hidup; ilmu instrumental dan vokasional, seperti kedokteran, matematika, pertanian, dan keterampilan teknis.

Ilmu vokasional tidak dinomorduakan, tetapi ditempatkan sebagai farḍ kifāyah; harus dikuasai sejauh dibutuhkan masyarakat. Di sini terlihat pragmatisme Ibn Taymiyyah. Pendidikan harus responsif terhadap kebutuhan ruang dan waktu, tanpa kehilangan orientasi etisnya.

Dalam pedagogi, Ibn Taymiyyah menolak pendekatan tunggal. Ia menekankan diferensiasi metode sesuai kapasitas peserta didik, sebagaimana prinsip Qur’ani; ḥikmah, mau‘iẓah ḥasanah, dan mujādalah. Pendidikan bukan proses indoktrinasi, tetapi interaksi pedagogis yang hidup.

Soal bahasa, al-Kaylānī menyoroti kesadaran Ibn Taymiyyah akan fungsi bahasa sebagai alat transmisi ilmu. Penguasaan bahasa bukan tujuan estetis, melainkan sarana memahami teks, realitas, dan komunikasi sosial. Dalam konteks modern, gagasan ini relevan untuk membaca ulang perdebatan tentang bahasa asing, sains, dan globalisasi pendidikan.

Etika Guru dan Murid: Melawan Kultus Otoritas

Menurut pembacaan sederhana saya, bagian paling kuat dari kajian al-Kaylānī adalah etika pendidikan. Ibn Taymiyyah menolak kultus guru dan sektarianisme akademik. Guru tidak boleh memaksa murid mengikuti dirinya dalam segala hal, tidak boleh menjadikan murid alat reproduksi mazhab atau kelompok.

Mengajar boleh diberi upah, tetapi ilmu tidak boleh dimonopoli. Menyembunyikan ilmu dianggap sebagai kezaliman. Relasi pendidikan harus dibangun atas dasar kejujuran intelektual, tanggung jawab moral, dan orientasi pada kebaikan publik.

Dalam konteks pendidikan modern yang sering terjebak pada birokratisasi dan komodifikasi ilmu, etika ini terasa sangat aktual.

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah menganggap Ibn Taymiyyah anti-perubahan. Al-Kaylānī menunjukkan sebaliknya. Ibn Taymiyyah menolak bid‘ah bukan karena alergi inovasi, tetapi karena penolakan terhadap praktik yang merusak tujuan agama dan akal sehat.

Ia justru mengkritik klaim finalitas tradisi. Baginya, kembali kepada al-Qur’an dan Sunnah bukan berarti mundur ke masa lalu, tetapi memulai kembali dengan fondasi yang sehat. Pendidikan harus terbuka terhadap pengalaman baru, selama diuji dengan neraca maṣlaḥah, etika, dan tujuan syariat.

Ibn Taymiyyah tidak segan mengkritik pendidikan kalam yang spekulatif, filsafat yang elitis, sufisme yang eskapis, dan sektarianisme Syi‘ah yang politis. Kritik ini bukan sekadar teologis, tetapi pedagogis; semua pendekatan itu dinilai gagal membentuk manusia yang utuh dan bertanggung jawab sosial.

Al-Kaylānī dengan jujur mencatat bahwa kritik ini sering bersifat keras dan polemis, lahir dari konteks konflik ideologis yang tajam. Namun justru di situlah nilai historisnya, pendidikan tidak pernah steril dari pertarungan ide dan kekuasaan.

Bab akhir dari karya al-Kaylānī menunjukkan bahwa pengaruh pendidikan Ibn Taymiyyah tidak berhenti pada murid-muridnya, seperti Ibn Qayyim al-Jawziyyah, tetapi terus hidup dalam gerakan pembaruan modern.

Sayangnya, warisan ini sering direduksi menjadi slogan ideologis, bukan dibaca sebagai kerangka pendidikan kritis. Jika dibaca secara utuh, pemikiran pendidikan Ibn Taymiyyah menawarkan tiga pelajaran penting bagi hari ini.

Pertama, pendidikan harus berbasis etika dan tanggung jawab sosial, bukan sekadar kompetensi teknis; Kedua, tradisi perlu dihormati, tetapi tidak disakralkan dengan fanatisme buta; Ketiga, ilmu harus membebaskan manusia dari kebodohan, ketakutan, dan ketidakadilan; bukan memperkuatnya.

Majid ‘Arsān al-Kaylānī tidak menampilkan Ibn Taymiyyah sebagai ikon polemik, tetapi sebagai pemikir pendidikan yang radikal, kontekstual, dan berani melawan stagnasi intelektual.

Membaca Ibn Taymiyyah dari sudut pendidikan berarti membaca proyek pembentukan manusia dan masyarakat, bukan sekadar daftar fatwa atau slogan agama belaka. Di tengah krisis pendidikan kontemporer; baik di dunia Islam maupun global, warisan ini layak dibaca ulang; bukan untuk ditiru apa adanya, tetapi untuk dipikirkan secara kritis dan produktif.

Wallāh A‘lam bi al-Ṣawāb

Komentar