Di bulan Ramadan ini, sudah sepatutnya kita melakukan muhasabah diri untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Ramadan selalu menjadi bulan yang dirindukan oleh umat Islam di seluruh belahan dunia. Pada bulan ini, manusia berlomba-lomba dalam kebaikan: memperkuat hablum minallah (hubungan dengan Allah) melalui ibadah dan murojaah Al-Qur’an, serta mempererat hablum minannas (hubungan antarmanusia) melalui berbagi, menyediakan hidangan berbuka, dan menjalin silaturahmi dengan sesama.

Namun, ada satu dimensi yang sering terlupakan, yaitu hablum minal ‘alam, hubungan antara manusia dan alam. Dalam Islam, konsep ini merupakan bagian dari etika tauhid ekologis yang menuntut relasi harmonis antara manusia dan lingkungan. Sayangnya, dalam konteks Indonesia kontemporer, makna ini kerap mengalami penyempitan akibat dominasi wacana pembangunan yang dipengaruhi kepentingan kapital dan oligarki.

Hari ini, Indonesia menghadapi krisis ekologis yang multidimensi: deforestasi, krisis air bersih, pencemaran udara, hingga darurat iklim. Ironisnya, kerusakan tersebut sering kali justru dilegitimasi oleh kebijakan pembangunan dan investasi berskala besar. Dalam situasi ini, agama—terutama Islam sebagai agama mayoritas—sebenarnya memiliki potensi moral dan teologis yang besar untuk hadir dan memberikan arah, salah satunya melalui penguatan kembali konsep hablum minal ‘alam.

Di sinilah muncul keganjilan yang patut direnungkan. Ketika krisis ekologis semakin parah, sebagian otoritas keagamaan justru belum menempatkan diri sebagai pembela lingkungan dan korban kerusakan ekologis. Bahkan, dalam beberapa kasus, terlihat adanya kedekatan yang problematis dengan kekuatan ekonomi-politik yang berkontribusi terhadap kerusakan tersebut. Kegelisahan inilah yang melahirkan pertanyaan mendasar: di mana peran ulama dalam memperjuangkan keadilan ekologis dalam perspektif Islam?

Bukankah Al-Qur’an adalah pedoman hidup bagi umat Islam? Jika demikian, mengapa isyarat dan pesan Al-Qur’an tentang relasi manusia dan alam sering diabaikan? Padahal, Al-Qur’an secara eksplisit menggambarkan keterkaitan erat antara manusia dan alam semesta.

Dalam Surah Al-An’am ayat 99, Allah menjelaskan bagaimana air hujan diturunkan untuk menumbuhkan berbagai jenis tumbuhan yang menghijau dan menghasilkan butir-butir yang bertumpuk. Surah Yasin ayat 80 menyebutkan bahwa Allah menjadikan api dari kayu yang hijau, sebuah isyarat tentang energi yang tersimpan dalam tumbuhan.

Surah Al-An’am ayat 95 menegaskan bahwa Allah menumbuhkan tanaman dari biji-bijian, sementara Surah Al-Mu’minun ayat 19 menggambarkan kebun-kebun kurma dan anggur sebagai sumber kehidupan. Semua ayat ini menunjukkan bahwa alam bukan sekadar latar kehidupan, tetapi bagian integral dari sistem ilahi yang menopang keberlangsungan manusia.

Selaras dengan pesan Al-Qur’an di atas, dalam pandangan Gus Baha, manusia adalah khalifah yang memiliki tanggung jawab untuk merawat alam, bukan mengeksploitasinya. Perusakan lingkungan merupakan tanda kerusakan moral, sementara menjaga alam adalah bagian dari sedekah. Ia bahkan mengingatkan bahwa bumi bukanlah entitas mati, melainkan makhluk yang dapat “merasakan” dampak perbuatan manusia. Ketika manusia berbuat maksiat, korupsi, dan eksploitasi berlebihan, bumi seakan “tersiksa”, dan bencana bisa menjadi bentuk peringatan dari Allah.

Manusia diciptakan untuk mengelola bumi dengan penuh tanggung jawab. Prinsip takhallaqu bi akhlaqillah, meneladani sifat-sifat Allah, salah satunya tercermin dalam menjaga keseimbangan dan kelestarian alam. Alam semesta telah diciptakan dalam keadaan seimbang, dan tugas manusia adalah merawat keseimbangan tersebut, bukan merusaknya.

Oleh karena itu, ini menjadi pekerjaan rumah bersama. Ramadan yang penuh berkah ini seharusnya tidak hanya diisi dengan membaca Al-Qur’an, tetapi juga mentadabburi isinya secara mendalam. Dari sana, kita diharapkan semakin memahami peran kita sebagai khalifah di muka bumi.

Kita hidup dari alam, makan dari apa yang disediakan oleh alam, tetapi sering kali manusia justru terjebak dalam sikap berlebihan dan eksploitatif. Maka sudah saatnya kita memperbaiki kembali hubungan kita, tidak hanya dengan Allah dan sesama manusia, tetapi juga dengan alam. Sebab ketika alam rusak, maka bersiaplah menghadapi teguran Allah yang, dalam berbagai bentuknya, mungkin sudah kita rasakan hari ini.

Komentar