Saat ini, banyak orang tua menaruh harapan besar kepada anak-anaknya. Mereka ingin anak tumbuh menjadi pribadi terpandang, sukses, dan kelak mampu menjadi tulang punggung keluarga. Fenomena ini sering kita jumpai, bahkan mungkin terjadi dalam keluarga kita sendiri.
Anak dipandang sebagai aset masa depan keluarga. Namun, di balik harapan tersebut, sering kali orang tua lebih berfokus pada hasil yang ingin dicapai, tanpa cukup memperhatikan bagaimana proses mendidik anak dengan penuh cinta, serta bagaimana menghadirkan momen-momen bermakna yang mendukung pertumbuhan emosional dan spiritual anak.
Contoh sederhana dapat kita lihat ketika orang tua menegur anak yang sulit dinasihati atau berperilaku nakal. Tidak jarang, teguran itu disertai bentakan atau cubitan. Tanpa disadari, tindakan tersebut dapat membekas dalam memori anak dan menimbulkan luka psikologis. Anak mungkin tumbuh dengan rasa takut, bahkan trauma terhadap orang tuanya.
Ketika anak melawan, orang tua sering berkata, “Kamu berdosa melawan orang tua.” Namun jarang disadari bahwa orang tua pun dapat berbuat salah kepada anak melalui pola asuh yang keliru, yang justru menjauhkan anak dari rasa aman dan kasih sayang dalam keluarga.
Dalam sebuah ceramah, Gus Baha menjelaskan alasan beliau sangat memuliakan anaknya. Menurut beliau, anak adalah generasi yang akan lebih panjang membawa kalimat tauhid la ilaha illallah.
Dalam Al-Qur’an, hubungan para nabi dengan anak-anak mereka digambarkan sebagai hubungan yang penuh kemuliaan dan kasih sayang. Hubungan antara orang tua dan anak seharusnya dibangun di atas fondasi nilai ilahi, bukan sekadar dorongan emosional atau ambisi duniawi.
Kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS menjadi teladan agung dalam hal ini. Al-Qur’an menyebutkan bagaimana Nabi Ibrahim menjadikan kalimat tauhid sebagai warisan abadi bagi keturunannya (wa ja‘alaha kalimatan baqiyatan fi ‘aqibihi).
Karena itu, Nabi Ibrahim dikenal sebagai Bapak Tauhid. Gus Baha menegaskan bahwa memenuhi kebutuhan anak dengan niat menjaga keberlanjutan tauhid adalah bagian dari ibadah. Orang tua hendaknya memberikan ruang dan kelonggaran kepada anak, agar mereka tidak merasa tertekan atau kecewa terhadap keluarga, apalagi sampai merasa kecewa terhadap ajaran Islam itu sendiri.
Dalam kitab Mizan al-Kubra disebutkan bahwa salah satu adab para nabi adalah memuliakan anak (wa min adabil anbiyai takrimul aulad). Hal ini menunjukkan bahwa memuliakan anak bukan sekadar anjuran moral, tetapi merupakan bagian dari akhlak kenabian. Dengan demikian, orang tua dan guru memiliki tanggung jawab besar untuk menghadirkan kasih sayang, penghormatan, dan pemahaman dalam proses pendidikan anak.
Pola asuh dan pendidikan yang diberikan orang tua dan guru sangat memengaruhi pembentukan karakter anak. Sudahkah kita mendengarkan perasaan mereka? Sudahkah kita memberi ruang bagi mereka untuk mengungkapkan kegelisahan? Sudahkah kita menghadirkan kehangatan di rumah dan di lingkungan pendidikan? Tanpa disadari, memaksakan standar orang dewasa kepada anak dapat melukai batin mereka dan menyebabkan jarak emosional, bahkan perlawanan.
Anak memang memiliki kewajiban untuk menghormati orang tua. Namun, anak yang tumbuh dalam lingkungan yang penuh cinta dan keharmonisan akan secara alami belajar menghargai dan membalas kebaikan orang tuanya.
Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus melakukan introspeksi diri, memperbaiki pola asuh, dan mencari pendekatan yang lebih bijak dalam mendidik anak. Mendidik anak dengan cinta bukan hanya membentuk pribadi yang kuat secara emosional, tetapi juga merupakan wujud nyata meneladani akhlak para nabi dalam membangun generasi yang beriman, berakhlak, dan penuh kasih sayang.

