Mafia dan teroris itu bernyali. Secara berani melakukan apa saja menurut tafsiran dan ideologi wataknya. Ia bahkan rela mengorbankan barang terdekatnya (anak, istri, suami, sesama manusia, dan harta-benda) untuk mencapai tingkat apa yang ia sebut mati syahid dan kaya raya.

Teroris tujuannya cuma satu: surga. Sedang mafia: foya-foya. Surga menjadi tumpuan utama dengan mengambil jalan pintas dan mudah tapi mematikan: dor. Meledakkan diri. Sedangkan mafia memperbudak manusia yang lemah. Parsialitas atas pembacaan tafsir agama-kehidupan dan keringkihan membaca politik serta wacana dunia, menuntun para teroris dan mafia menuju ke sana: kematian-kehidupan nista.

Sering Kita Tidak Sadar

Tapi yang kadang kita tidak sadar dan kenali adalah permainan politik bisnis manusia teroris. Lydia Cacho menyebutnya bisnis perbudakan manusia teroris. Banyak yang menjadikan aksi-aksi teroris untuk mendapatkan cuan. Begitu juga sebaliknya, banyak cuan menjadi alasan pemasok para kombatan teroris dunia. Pembisnis dan kotak amal, termasuk manusia, misalnya.

Bisnis yang lebih ngeri, adalah perbudakan manusia teroris itu sendiri. Indonesia salah satu pemasok manusia teroris terbanyak se Asia. Para perempuan dijadikan tumbal meledakkan diri. Selain itu, ia dijadikan peternak dan pembibitan teroris dengan cara perkawinan. Lewat rahimnya, ia jadikan sebagai jalan jihad atas nama kejayaan agama para teroris. Para returnis menyebutnya jihad khilafah.

Bahkan bisnis-bisnis perempuan yang mapan, menjangkau itu semua. Melewati banyak simpul dalam jaringan luas mafia teroris, pengusaha, dan politisi. Jika di Timur Tengah, lahir lewat aliran kilang minyak. Di Indonesia, dari bisnis kotak amal, catering, warung nasi, dan warung partai. Dari bawah tanah inilah bisnis teroris manusia berjalan secara lengang.

Jurnalis investigasi Lydia Cacho menemukan variabel itu. Meski tidak spesifik membahas perbudakan manusia teroris, tapi analisisnya bernyali kuat menjangkau perbatasan semua itu. Dalam bukunya, Bisnis Perbudakan Seksual: Menelusuri Perdagangan Perempuan dan Anak-anak Internasional (2021), tersimak kuat dan berhasil memetakan perbudakan kontemporer abad ke-21.

Lydia Cacho secara tajam dan berani mendongkel bisnis bejat itu. Ia menemukan perdagangan manusia global yang melintas dari benua ke benua, dari negara ke negara, salah satunya dari Meksiko ke Turki. Dari Thailand ke Israel. Dari Jepang ke Spanyol.

Bisnis perbudakan manusia teroris ternyata beriringan dengan bisnis wisata hiburan malam, pornografi, penyelundupan narkoba, organ tubuh, pencucian uang, dan bisnis senjata. Dari perangkat “cuan” itulah, baik dalam negeri maju, berkembang, justru memperkuat jaringan kriminal teroris dan penjualan manusia. Cuan jadi jalan tempuh bisnis perbudakan manusia-manusia menjadi teroris di satu sisi dan untuk memperkaya di sisi lainnya. Moral mati di haribaannya.

Ikatan penting yang menyatukan keduanya adalah pencarian kesenangan: ada yang menciptakan pasar perbudakan manusia, sebagian yang melindungi, mempromosikan, menyuapi, dan yang lain memperbaharui permintaan bahan baku (hal 2). Menjual kekerasan dan perlindungan adalah bisnisnya; mendapatkan dan menawarkan uang, kenikmatan, dan kekuasaan adalah tujuan dasarnya.

Bahkan dalam setahun, yang tercatat di 175 negera, ada 1,39 juta orang di seluruh dunia, sebagian besar perempuan dan anak perempuan, menjadi sasaran perbudakan seksual. Mereka diperjualbelikan sebagai bahan baku sebuah industri, sebagai limbah sosial, sebagai piala persembahan (hal 3).

Jalan gangster, mafia, dan kartel ini kentara beriringan dengan perjanjian antara negara dan penjahat terorganisasi. Ia merupakan bisnis ilegal yang bermotif ekonomi yang kedua belah pihak saling berpartisipasi. Kejahatan yang paling kentara yang mereka lakukan pada abad 21 ini adalah jual beli senjata, obat-obatan, dan manusia. Jadi tidak heran di antara satu negara saling merasa dan harus adu paling kuat. Perang menjadi tampuk yang membayangi di depan matanya.

Tak ada satu pun sejarah manusia (negara/mafia) di mana seks dan kejahatan-kecurangan tidak hadir. Dari sini terlihat, kehidupan dan kekuasaan ekonomi politik (negara) membutuhkan kesenangan seksual untuk bisa eksis. Mereka masuk dalam apa yang disebut shadow economy, yang tak membayar pajak langsung kepada pemerintah yang sah baik, tetapi jalan negoisasi berjalan guna mempertahankan diri.

Dari fenomena itu, tersingkap jelas kelemahan kapitalisme global dan disparitas yang dipicu sejumlah aturan ekonomi yang diberlakukan oleh negara-negara paling berkuasa. Dan, sipil menjadi tumbalnya. Kejahatan menjadi barang murah dan normal saja. Bahkan ia menjadi proses kebudayaan yang makin menguat. Mengerikan, bukan?

Sasaran Bisnis dan Jihad Terorisme Global

Sasarannya bisnis ini jelas. Ia mencari sebuah kepasarahan budaya-negara di mana keduanya berada di jurang kapitalistik dan ekspolitatif. Seperti dikatakan di atas, akses kenikmatan seksual digunakan sebagai alat kohesi dan negoisasi di kalangan martir, militer, kelompok bisnis, sampai perdangan seks menjadi bisnis yang paling menguntungkan di muka bumi ini dibandingkan perdagangan senjata dan narkotika. Di sini, perempuan dihargai sebagai objek dan bukan sebagai manusia, dan bahkan perempuan yang ikut dalam jaringan kriminal memproduksi pola-pola penghinaan dan kebencian terhadap perempuan itu sendiri. Ia disebut Lydia sebagai “bumerang feminisme”.

Sasarannya bisnis perbudakan seksual ini perempuan, anak-anak muda, dan manusia dewasa. Kita menyebutnya generasi milenial. Kendati segala bentuk perdagangan yang terjadi berakar pada pembaharuan ekonomi, perdangan seksual menumbuhkan, menciptakan kembali, dan memperkuat budaya yang menormalisasi perbudakan dengan menganggapnya sebagai jawaban yang bisa dimaklumi terhadap kemiskinan dan karena terbelakangnya akses pendidikan bagi perempuan dan jutaan anak-anak.

Di Indonesia sendiri, generasi milenial ini sedang mau diserbu oleh organisasi teroris atau orang yang sedang menjalani jihad teroristik. Formasinya jelas. Para teroris ini melihat bagaimana kelemahan perempuan, anak-anak muda, dan manusia dewasa ini yang makin tebal. Generasi ini memiliki daya kuat dan keinginan belajar agama tinggi. Tapi mengalami krisis identitas. Kondisi ini ditambah meningkatnya populasi agama dan kaum muda/perkotaan yang menjalankan ritus belajar agama di digital. Kesalehan dicari melalui perangkat digital. Kemudian oleh para teroris, ruang (kelemahan) itu dimanfaatkannya sebagai jalan perekrutan. Dogma teroris menjadi makanan sehari-hari. Ternak anak sebagai generasi teroris terjadi.

Penelusuran dan Manusia Teroris Indonesia

Para generasi ini tidak mampu memiliki kemampuan untuk menangkap informasi yang utuh terkait dengan propaganda dan indoktrinasi yang dilakukan oleh kelompok pembisnis dan terorisme. Sehingga krisis akal sehat itu tidak mampu melihat di baliknya. Bahkan menganggap bahwa kekerasan teroris seperti ISIS dan al-Qaeda, merupakan jalan keluar atau solusi dalam menyelesaikan permasalahan agama, sosial dan negara Indonesia.

Masa transisi krisis identitas kalangan pemuda terjerembab ke jalan gelap itu. Ia mengalami apa yang disebut Quintan Wiktorowicz (2005) sebagai cognitive opening (pembukaan kognitif), sebuah proses mikro-sosiologis yang mendekatkan mereka pada penerimaan terhadap gagasan baru yang lebih radikal. Alasan-alasan seperti itulah yang menyebabkan mereka sangat rentan terhadap pengaruh dan ajakan kelompok kekerasan dan terorisme (Merdeka.com 7/4/2021).

Contohnya dari beberapa aksi terorisme terkini. Misalnya, kelompok Jamaah Islamiyah membentuk tim Askari yang terdiri dari 5-10 orang sebagai tim penyerang yang beranggotakan anak-anak muda atau kaum millenial yang dalam hal ini juga melakukan aksi bom bunuh diri seperti yang bisa kita lihat pada kasus bom J.W. Marriot (18 tahun), Ritz Charlton (27 tahun), Bom Bali (20-23 tahun), hingga kasus terkini yang terjadi di Makassar dan Mabes Polri (Merdeka.com 7/4/2021).

Fenomena itu menjadi tumbal perbudakan dan terorisme terjadi pada golongan pemuda karena kondisi psikologi, ajaran agama, cakrawala-wacana, politik, dan kesejahteraan yang belum stabil. Kemiskinan mereka dijadikan tumbal bisnis perbudakan manusia oleh para kartel dan para teroris. Tak dapat sangkal bahwa kemiskinan bukan cuma menjadi ladang subur, melainkan mesin untuk menabur bibit-bibit perbudakan di dunia. Keterlibatan pemerintah dengan demikian juga tak bisa disangkal.

Seperti Steve Harper, promotor industri seks paling terkenal di dunia, mengatakan, “mereka keliru, kita berada di sini bukan demi orang per orang, tetapi untuk menghasilkan uang.” “This is all about money, not people”. Di depan slogan itu, perempuan dan negara lenyap bersamaan dengan lenyapnya surga, kemanusiaan, dan martabatnya sebuah negara.

Dari buku ini, kita sangat membutuhkan feminis seperti Lydia Cacho. Yang berani menyingkap kekusutan negara dan lintasan genealogi bisnis perbudakan manusia tingkat global. Bukan yang sering menyalahkan perempuan yang tidak cerdas, cadaran, dan memasang tembok damarkasi serta permusuhan sesama perempuan itu sendiri. Menjadi bumerang feminisme.

Lihat lagi di sini I