Tiap orang ingin terus bahagia dalam menjalani kehidupan di hari-harinya. Tak terkecuali sejumlah delapan dari kelompok ibu dengan giat belajar dan mendisiplinkan dari perkara membaca dan menulis. Buku ini lahir dari rangkaian proses bersama pada pertemuan tiap hari Selasa dengan didasarkan pada janji demi janji untuk bahagia. Tak melulu pada bahasan sulit dan menyulitkan, justru masing-masing lanskap pembahasan tiap tulisan tak lain berawal dari sebuah ingatan dan pengalaman masing-masing sejauh ini. Tema bagi banyak orang bisa jadi remeh temeh, tetapi tetap perlu.

Rasanya itu berkaitan erat dengan kesadaran terhadap buku. Bagaimana tiap diri memiliki perhatian pada buku bacaan dengan berbagai jenisnya, membuka obrolan-obrolan panjang, merancang sebuah plot dan subplot tulisan, dan menyelesaikan tulisan. Aktivitas itu menggerakkan banyak organ dalam tubuh. Teringat sebuah cerita buku terkisah menjadi pengganti balok yoga. “Segera kuambil beberapa yang aku butuhkan. Kuletakkan pada bagian yang memerlukan penyokong” (hlm. 14).

Rasa keluh bukan sebatas ekspresi akan ketidakterimaan dalam situasi dan kondisi dalam hidup. Ia nyatanya memiliki beragam tafsir maupun makna. Kita mendapati pengakuan itu dalam tulisan berjudul Pada Mulanya Keluhan, Inginnya Bahagia: “Sering kita mengeluh, bersamaan itu mengharapkan sesuatu yang belum kita miliki atau alami. Keluhan sesungguhnya mengandung harapan yang disembunyikan, jika tidak lebih tepat disebut dipaksakan. Setiap diri kita pasti pernah mengeluh” (hlm. 3).

Perkara makan, tiap orang memiliki banyak ingatan, di luar percakapannya dengan piring, sendok, dan garpu. Itu adalah makanan pendamping, bagi banyak orang ketika melewatkan, terasa ada yang kurang. Adalah keberadaan kerupuk, kita mendapatkan penjelsan itu: “Orang yang belanja di warung sebelahnya lebih mudah jika ingin membawa pulang kerupuk. Bisa jadi, kerupuk memang ditakdirkan selalu berdekatan dengan sumber bahan makanan manusia” (hlm. 10).

Hal lain terkadang muncul akan aktivitas makan banyak orang, khususnya dalam situasi tertentu adalah keberadaan buah pisang. Ia tetap akrab dalam hari-hari banyak orang. Kita diajak menelusur lebih lanjut tentangnya, bagaimana macam-macam olahan buah pisang, kegunaan maupun khasiatnya, hingga kita sadar tdalam sebuah pohon pisang, tak hanya buahnya saja yang bermanfaat. Bagian lain pun ada fungsinya. “Pohon pisang bukan sekadar hidup tapi hidup dengan baik, pantang menyerah, dan berfaedah” (hlm. 35).

Dunia makanan menghamparkan sebuah kejadian-kejadian tertentu, katakanlah dalam urusan rumah tangga. Para anggota keluarga pasti memiliki kesepakatan demi kesepakatan dalam menjalin hubungan antara satu dengan lainnya. Makan bersama di sebuah rumah sebagai ruang keluarga. Beberapa waktu terakhir, perkara rumah menjadi obrolan panjang tak terkira khususnya bagi generasi milenial. Misalkan saja kita melihat berita di halaman awal Harian Kompas Edisi 1 Oktober 2021. Dalam berita berjudulkan Milenial Kian Sulit Gapai Rumah Impian, kita dapati pernyataan:

“Kehilangan kenyamanan fasilitas megapolitan menjadi harga yang harus dibayar pekerja muda Jakarta yang ingin membeli rumah sendiri.”

Alih-alih perlu membahas secara detail akan kenaikan harga dari tahun ke tahun, kita dapat pengakuan akan standar keberadaan rumah, “Rumah idaman tidaklah selalu digambarkan sebagai rumah yang besar, luas, dan mewah. Aku pun menginginkan rumah idaman, yang artinya terpikirkan dengan berbagai aspeknya, dari tampilan sampai suasananya” (hlm. 17). Dari sana, kehadiran keluarga pada kesadaran akan ruang tak lain yang diperlukan adalah merawat kasih dan sayang. Termasuk di dalamnya bagaimana menumbuhkan kesadaran pada lingkungan. Salah satunya berupa kepemilikan taman atau kebun di rumah sendiri.

Kita teringat sebuah buku bacaan populer untuk anak-anak gubahan Suryadi berujudul Selamat Belajar Putra Desa (Balai Pustaka, 1978). Kita mendapatkan sebuah penjelasan: “Wajah ibu kelihatan tersenyum-senyum sejak tadi. Sudah dapat dipastikannya bahwa besok pagi daun-daun hijau itu sudah menjadi uang. Uang pengganti keringat yang mereka cucurkan tiap hari di kebun itu. Ia berbahagia.”

Ingatan kemudian muncul akan keberadaan satu jenis transportasi, kereta api. Itu tertera pada tulisan Di Kereta “Cerita”. Pengalaman menaiki kereta membawa penulis merekam dan menceritakan tiap fase dalam kehidupan manusia. Baik itu saat anak-anak, remaja, hingga dewasa. Perjalanan kereta api mengisahkan pengalaman-pengalaman penting bagi hidup dan memberikan banyak pelajaran. Baik itu menyenangkan maupun menyedihkan. “Lewat memori indah masa kecil, itulah bekal dan tabungan perjalanan di ‘stasiun-stasiun kehidupan’ berikutnya” (hlm. 22).

Hari-hari tak kerap terbahas. Kita diingatkan bagaimana hadirnya hari Minggu dalam kehidupan banyak orang. Mereka biasanya akrab dengan waktu dan menikmati hari dimana banyak orang menyebutnya sebagai hari libur. Bagi pekerja tertentu, hari tersebut adalah kesenggangan untuk melepas lelah dan beristirahat di tengah-tengah tumpukan tugas di tempat kerja. “Minggu untuk berlibur, Masyarakat juga biasanya mengambil momen Minggu untuk melakukan berbagai hajatan (pesta)” (hlm. 29).

Oh, menyinggung urusan pesta, kita teringat barang yang identik dalam peristiwa itu. Tak lain adalah tas. Tas mengisahkan sejarah panjang akan kegunaan dan fungsi, pertarungan merek, kualitas, hingga harga di dalam pasaran. Perkara itu dalam kebudayaan masyarakat tak ayal melahirkan namanya gengsi antara satu dengan lainnya. Banyak orang ingin tampil memukau dan menarik perhatian lainnya. Kita diingatkan akan cerita lucu membuktikan tas mahal tak akan selalu menyenangkan hati. Malah merepotkan.

Cerita itu berupa: “Indah punya cerita soal itu. Dia pernah mengomel karena suatu hari dia terbang dengan membawa tas Burberry yang dibelinya di Takashimaya, Singapura. Sebab kecerobohannya, dia memasukkan botol minum yang tidak tertutup rapat ke dalam tas. Bisa ditebak, air minumnya tumpah di dalam tas dan bocor keluar membasahi pangkuannya. Lapisan dalam tas yang berwarna coklat luntur membasahi celananya yang berwarna putih. Aku tidak bisa berhenti tertawa ketika membayangkan ceritanya” (hlm. 42).

Masing-masing dari mereka mungkin tak terlihat sedang sahut-menyahut dalam tulisan dmei tulisan. Namun, nyatanya antara satu tulisan dengan lainnya saling memiliki relasi dan pertemuan. Babak demi babak terlewatkan. Ibu-ibu mengesahkan bahwa hidup tak lain kesinambungan dalam sebuah temali cerita yang perlu terus disusun, diobrolkan, diceritakan, dan dituliskan.[]

Judul  : Sejak

Penulis  : Lyly Freshty, dkk

Editor  : Bandung Mawardi

Penerbit : Bilik Literasi

Terbit  : Pertama, Oktober, 2021

Dimensi : 14 x 20 cm; viii + 48 halaman

ISBN  : 978-623-97615-52-1