Judul: Si Jlitheng Dongeng Bocah Abasa Jawa

Penulis: Impian Nopitasari

Ilustrasi: Nai Rinaket

Penyelaras Bahasa: Ichwan Prasetyo

Tebal: iv + 52 halaman warna

Penerbit: Babon, 2020

ISBN: 978-6237-7212-1-5

Membaca lembar demi lembar buku dongeng ini akan membuat kita takjub dengan ilustrasinya yang sangat memukau nan indah dengan warna yang lembut dan sendu. Ilustrasi-ilustrasi tersebut sangat memanjakan visual dan tentunya akan terlihat menarik bagi anak-anak. Ilustrasi-ilustrasi yang digambar oleh Mbak Nai Rinaket mempermudah kita untuk memvisualisasikan isi cerita.

Sementara itu, dari segi tulisan, keempat dongeng yang ditulis oleh Mbak Impian Nopitasari ini digarap dengan sangat luwes dan ciamik, baik dari teknis penulisan cerita, penokohan, alur, hingga pengemasan amanat cerita.

Kehadiran buku dongeng Si Jlitheng, bagi saya, tidak hanya berpengaruh dan bermanfaat dari sisi parenting, humanisme, dan sastra. Namun, secara implisit buku ini juga menyediakan jawaban-jawaban atas kegelisahan orang-orang dewasa terkait masalah eksistensi hidupnya atau bahkan gejala-gejala quarter life crisis.

Cerita yang paling awal berjudul “Dongenge Pitik lan Bebek” bercerita tentang seekor ayam bernama Si Blorok yang mengerami keenam telurnya. Lima telurnya menetas dengan baik, akan tetapi telur keenamnya menetas menjadi sosok yang sangat berbeda dari kelima saudaranya. Sehingga, telur keenam ini dijuluki si Ala (si Jelek).

Bagaimana si Jelek (yang ternyata merupakan anak bebek, bukan anak ayam) ini menghadapi permasalahannya saat dia dijauhi oleh kelima saudaranya menginspirasi saya bagaimana seharusnya kita menghadapi orang-orang yang bersikap buruk dan diskriminatif.

Nasihat si Blorok terhadap si Ala ini terus terngiang di benak saya, “…ati becik iku luwih wigati tinimbang rupa. Hati yang baik itu lebih penting dibandingkan dengan penampilan.” (hlm 9).

Cerita yang tidak kalah menarik berjudul “Kodhok lan Bekicot” bercerita tentang Bekicot yang merasa insecure saat melihat si Katak. Bekicot hanya fokus pada berbagai kekurangan dirinya dan tak pandai bersyukur. Dia merasa tidak berguna. Sebagai orang yang sudah (atau masih?) mengalami quarter life crisis, saya merasa tertampar. Saya sering merasakan hal yang sama dengan Bekicot. Merasa selalu kurang, tak pernah cukup, dan iri pada kelebihan orang lain. Lalu, bagaimana cara Bekicot mengatasi rasa insecure-nya? Selengkapnya bisa dibaca di buku ini.

Selanjutnya, cerita berjudul “Ndara Anyar” bercerita mengenai kucing lucu berbulu putih bernama Mimi yang dipelihara oleh Bu Esthi. Mimi dititipkan ke Pak Triman dan Mbok Triman di desa karena Bu Esthi ada suatu keperluan. Mimi si kucing kota merasa kesulitan beradaptasi dengan suasana desa, terutama dari segi makanan. Cerita ini secara tersirat menginspirasi kita bahwa suatu saat kita harus keluar dari zona nyaman dan bagaimana kita harus bersikap adaptif terhadap suasana baru.

Cerita terakhir yang menjadi judul buku ini adalah Si Jlitheng. Tokoh utama dalam cerita ini adalah seekor semut hitam kecil bernama Si Jlitheng. Karena tubuhnya yang jauh dari standar semut, dia tidak diterima oleh teman-temannya.

Si Jlitheng dianggap sebagai beban karena bentuk tubuhnya yang kecil dan lemah. Dia merasa nelangsa, hingga merasa ingin mati karena merasa tidak berguna. Dia tidak memiliki semangat hidup. Hingga suatu hari, dia melihat seekor ular yang akan memangsa telur-telur burung Derkuku. Keberaniannya pun muncul. Akankah dia berhasil menolong telur-telur burung Derkuku?

Akhir kata, buku dongeng ini tidak hanya cocok dibaca oleh anak-anak. Namun, juga sangat rekomended untuk dibaca oleh orang-orang dewasa. Dengan gaya bercerita yang mengalir dan tidak menggurui, keempat kisah fabel ini mengajarkan kita tentang bagaimana menghadapi rasa sedih, rasa tidak berguna, tidak berdaya, dan lain sebagainya.