Islamsantun.org. Berimajinasi biasanya lekat pada dunia anak. Sebab mereka tidak dibatasi dengan pengetahuan dan ekspektasi layaknya orang dewasa. Makin dewasa kita lebih banyak dituntut untuk berpikir realistis terhadap keadaan daripada berangan-angan. Meski demikian sebenarnya tidak ada batasan apalagi larangan untuk bermimpi. Salah satunya adalah berimajinasi seputar masa depan Islam.

Melalui buku “Imajinasi Islam: Sebuah Rekonstruksi Islam Masa Depan”, Prof. Komaruddin Hidayat mengajak kita untuk membayangkan apa yang akan terjadi pada agama di hari esok. Tulisan yang tergolong tipis, 130 hlm ini bagi sebagian orang mungkin belum cukup untuk meyakinkan imajinasi Islam. Namun, bukankah imajinasi memang tidak ada yang meyakinkan? Karena yang meyakinkan adalah hal yang telah terjadi dan itu tidak dapat disebut sebagai imajinasi.

Sebagaimana disebutkan oleh penulisnya, buku ini lebih tepat disebut sebagai pengantar, karena memang masih sangat umum. Secara sistematika, buku ini terdiri dari 5 bab, yaitu Pendahuluan, Formasi Islam Awal, Dari Teks ke Konteks, Islam dan Jejaring Peradaban Kontemporer, dan Masa Depan Islam.

Sejak awal sang penulis telah memberikan catatan bahwa buku ini bukan hasil riset ilmiah yang sistematis, melainkan lebih merupakan refleksi subjektif sebagai penanda perjalanan usia. Karenanya tidak heran jika dalam beberapa bagian terdapat pengulangan ide, gagasan ataupun kutipan. Di antara kutipan yang sering diulang adalah gagasan Shahab Ahmed, Ahmed T. Kuru dan Ismail Fajri Alatas. Dengan bahasa lain, buku ini adalah refleksi dan catatan lanjutan Prof. Komar terhadap para pemikir muslim kontemporer yang gagasannya sedang “naik daun”.

Melihat ulasan dari bab ke bab tersebut, satu hal yang dapat digarisbawahi adalah bahwa Prof. Komar mengajak kita untuk melihat masa depan Islam melalui jembatan masa lalu dan masa kini. Sebab telah menjadi sunnatullah bahwa yang terjadi saat ini berkaitan dengan masa lalu, dan yang dilakukan sekarang akan berdampak pada masa depan.

Tugas kita sebagai manusia modern adalah melihat masa lalu dan masa kini untuk merancang masa depan. Beliau mengawali tulisan ini dengan menegaskan “perkembangan dan gerakan keislaman tidak berjalan menggembirakan”. Hal ini dapat dilihat manakala Islam bersanding dengan kekuatan politik negara sehingga terjadi proses penyeragaman ajaran di tengah keragaman pandangan.

Pada Bab 2, buku ini menghadirkan penjelasan gambaran Islam awal yang terbuka dan ideal. Dengan figur utama Nabi Muhammad dan kitab suci Al-Quran, beliau membawa pesan-pesan pokok ajaran Islam yaitu beriman pada Tuhan, beriman kepada Nabi Muhammad, beriman terhadap keabadian jiwa (hari kiamat), menjalani ritual, berakhlak mulia dan membangun peradaban luhur.

Meski pesan pokok tersebut universal, namun pada tataran praktiknya diejawantah dan diterjemahkan ke dalam bahasa dan budaya lokal masyarakat muslim. Hal ini tidak dapat dielakkan seiring dengan perkembangan Islam yang menyebar hingga ke penjuru dunia, jauh dari konteks lingkungan masyarakat Arab. Inilah yang dibahas pada bab 3.

Alhasil terjadilah elaborasi penafsiran terhadap ajaran Islam sehingga melahirkan apa yang disebut oleh Shahab Ahmed sebagai hermeneutical engagements. Dalam proses ini pula lahir refleksi untuk melihat mana ajaran Islam yang universal dan yang berbentuk lokalitas. Meskipun pada saat yang sama, mengutip pendapat Ismail Fajrie Alatas bahwa Islam yang universal pun sebenarnya juga adalah bagian dari respons lokalitas, sehingga secara historis-antropologis, tidak ada istilah “Islam murni” atau “Islam yang sebenarnya”.

Poin plus dari buku ini adalah penjelasan Prof. Komar seputar konteks baru yang tidak dihadapi oleh umat Islam awal, di antaranya masyarakat global, budaya digital, neurosains dan big data, dan isu lingkungan. Menjadi masyarakat global di tengah perkembangan digital adalah fenomena yang pada masa Nabi belum pernah terpikirkan. Saat itu, masyarakat Arab hidup dalam semangat kesukuan dan partikular. Sedangkan saat ini di tengah arus globalisasi, seluruh masyarakat dunia saling terhubung meskipun secara fisik berjauhan.

Fenomena modern ini juga pada akhirnya melahirkan neurosains dan big data, sehingga seluruh gerak-gerik manusia dapat direkam dalam algoritma. Tidak ada lagi yang privat di dunia digital. Bahkan meskipun agama berada dalam ruang privat, tetapi simbol dan ekspresi keagamaan pun telah menjadi konsumsi publik. Sehingga neurosains dan big data ini pada akhirnya juga mempengaruhi keberagamaan kita.

Dengan kecerdasan buatan, komputer dapat membaca psikologi penggunanya dan akan menampilkan informasi yang sesuai dengan kehendaknya. Hal ini sekaligus menjawab beberapa kasus pelaku teror yang awalnya mendapatkan informasi pengajian dari internet. Sebab internet menyajikan satu macam jenis ceramah, di tengah keragaman para penceramah yang beredar di dunia maya.

Lantas bagaimana masa depan agama? Dalam bab 4 dan 5, buku ini mencoba menerka dan menjawab pertanyaan tersebut. Prof. Komar menegaskan, “Alih-alih melihat dimensi konflik, saya lebih tertarik melihat masa depan kemanusiaan yang lebih mengedepankan agenda dan kerja sama kemanusiaan universal ketimbang konfliktual” (hlm. 68).

Semangat optimisme masa depan agama tersebut lahir dari dinamika perkembangan teknologi yang terjadi saat ini. Upaya globalisasi, setiap orang kian menyatu, berbaur, saling mengenal dan bertukar pikiran yang pada akhirnya menemukan hal-hal pokok yang dapat diperjuangkan bersama untuk membela kemanusiaan, a common word, kalimatun sawa’.

Satu contoh yang dapat dilihat misalnya kasus rasisme yang terjadi di Amerika, pada akhirnya tidak hanya dikecam oleh masyarakat di sana, tetapi juga di seluruh dunia. Kecaman sekaligus penegasan bahwa setiap orang, apapun ras dan warna kulitnya berhak hidup setara, telah menjadi gerakan global meskipun awalnya merespons kasus lokal.

Begitu juga aksi teror yang dilakukan oleh ISIS, meski mengatasnamakan “Islam”, tidak ada umat Islam yang mendukung kekerasan yang dilakukan oleh ISIS. Karenanya, jika sebagian pakar memprediksi kematian agama di masa mendatang, buku ini justru melihat ke arah yang sebaliknya.

Di tangan perkembangan teknologi, agama akan terus bertumbuh dengan prinsip keadilan, kesetaraan dan kemanusiaan. Bahwa secara iman kita boleh berbeda, namun dalam konteks sosial, kita dapat bekerja sama, berkolaborasi untuk menyongsong peradaban dunia.

Memang perkembangan teknologi di satu sisi dapat dibaca secara positif sebagai wadah untuk menghasilkan pemahaman keagamaan yang lebih terbuka dan saling berdialog dengan ajaran iman lainnya. Tetapi, di sisi lain, perkembangan ini dapat menjadi alarm juga bagi kita tatkala melihat rangkaian diskriminasi, ujaran kebencian bahkan aksi teror yang dilakukan akhir-akhir ini sebagai imbas dari disrupsi informasi.

‘Ala kulli hal, kembali lagi, imajinasi, tetaplah mimpi. Imajinasi akan menjadi valid tatkala ia telah terjadi. Karenanya tugas umat beragama saat ini adalah mewujudkan cita-cita agama yang memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan di masa yang akan datang, dan itu dimulai dari diri sendiri, hari ini, dan di sini. Wallahu a’lam bish showwab.

Oleh: Rahmatullah Al-Barawi, Santri Caknurian Urban Sufism with Komaruddin Hidayat