Bulan Ramadan dikenal pula dengan sebutan syahrul Quran. Sebab, pada bulan ini Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad. Dalil naqli jelas menyebutkan hal itu dalam Surat Al-Baqarah ayat 185.

Hanya saja, istilah nuzul atau turun bagi sebagian kalangan sulit untuk dipahami. Saya beberapa kali ditanya oleh kawan Kristiani seputar hal ini. Apa yang dimaksud dengan kata “turun”? Bagaimana proses turunnya? Ataukah Al-Quran langsung turun menjadi sebuah kitab utuh seperti yang kita terima saat ini? Jawaban singkatnya tentu tidak.

Sebenarnya pertanyaan tersebut muncul bukanlah tanpa konteks. Sebab, dalam horizon umat Kristiani, kalam (logos) Tuhan itu nuzul menjadi pribadi Isa atau Yesus. Karenanya dalam hal ini, ada perbedaan teologis, yang satu nuzul menjadi manusia, yang lainnya nuzul menjadi kitab suci. Yang seringkali luput digarisbawahi adalah bahwa proses turunnya Al-Quran itu tidak singkat, ujug-ujug jadi kitab suci seperti yang kita miliki saat ini.

Kalau kita merujuk pada makna asal kata “turun”, berarti bergerak ke arah bawah; bergerak ke tempat yang lebih rendah daripada tempat semula, demikian ulasan KBBI.

Berdasarkan definisi tersebut, dalam penurunan Al-Quran, berarti ada upaya Allah yang Mahatinggi turun menyapa manusia di bumi. Sampai di sini, sebenarnya dapat dipahami bahwa dalam proses pewahyuan Al-Quran, Allah Swt. hendak membumikan ajaran-Nya agar dapat dipahami oleh manusia.

Kembali ke pertanyaan awal, jika tidak turun dalam satu waktu, lantas bagaimana proses pewahyuan Al-Quran? Kalau kita membuka literatur ulumul Quran, ditemukan penjelasan dari para ulama yang mencoba membagi proses turunnya Al-Quran dalam dua tahapan.

Tahap pertama yaitu tahap ketika Al-Quran turun secara utuh, jumlatan wahidah, dari lauh al-mahfuz atau al-sama’ al-‘ulya menuju al-sama’ al-dunya (langit dunia) pada malam Ramadan atau peristiwanya disebut lailatul qadar. Pendapat ini misalnya diutarakan oleh Ibn Abbas melalui jalur ‘Ikrimah dan Hakim bin Jubair. Imam Thabari ketika menafsirkan Surat al-Qadr banyak mengutip pendapat Ibn Abbas ini. Nah, dalam konteks ini, memang tidak ada bukti empiris. Karenanya ini adalah domain tashdiq bil qalb, iman sepenuhnya dalam hati.

Namun, ada tahapan kedua yang perlu diperhatikan oleh umat Islam sehingga dalam membaca Al-Quran tidak kehilangan konteksnya, yaitu proses turunnya Al-Quran secara munajjaman, bertahap. Jumhur ulama menyebutkan wahyu pertama yang turun kepada Nabi Muhammad adalah Surat Al-‘Alaq ayat 1-5. Kemudian berlanjut terus, wahyu Al-Quran turun setahap demi setahap, melalui perantara Malaikat Jibril, hingga kurang lebih 23 tahun lamanya.

Yap, jangka waktu ini sekaligus merupakan masa dakwah Nabi Muhammad. Melalui pembacaan seperti ini, Abid Al-Jabiri dan Izzat Darwazah mencoba membaca Al-Quran secara tartib nuzuli, sesuai urutan turunnya, bukan tartib mushafi sebagaimana urutan yang kita terima saat ini.

Pada proses yang kedua ini kita akan melihat bahwa ada korelasi yang sejajar antara wahyu Al-Quran yang turun dengan dakwah Kanjeng Nabi Muhammad. Ketika beliau mengalami tantangan, ancaman, maka wahyu Allah seputar kisah-kisah perjuangan Nabi terdahulu turun untuk meneguhkan dan memberi semangat kepada Nabi Muhammad, bahwa beliau tidak sendiri. Ada Ibrahim, Musa, Isa dan seabrek nabi yang juga dikucilkan oleh umatnya.

Ketika terjadi ketimpangan sosial, perempuan diceraikan tanpa ada alasan yang jelas, kecurangan dalam menakar timbangan, turun sejumlah ayat yang merespons hal tersebut.

Intinya ayat Al-Quran yang hadir menyapa umat adalah hasil dari realitas masalah yang dihadapi kala itu. Kesadaran sejarah ini yang mungkin seringkali luput oleh kita, pembaca modern. Ketika kita membaca Al-Quran, boleh jadi kita tidak mempunyai gambaran soal masyarakat Arab kala itu. Meminjam istilah Imam Gazali, pemahaman kita dalam membaca Al-Quran masih berkutat pada pengetahuan kognitif, ‘irfanan ‘ilmiyyan.

Berbeda halnya dengan para sahabat dan generasi awal yang menjadi saksi dan pelaku sejarah turunnya Al-Quran. Mereka adalah generasi terbaik yang telah mengejawantahkan ajaran Al-Quran, maqamnya sudah pada tahapan haalan dzauqiyyan.

Karenanya, filsuf asal Pakistan, Sir Muhammad Iqbal pernah diberi nasihat oleh ayahnya, “bacalah Al-Quran seolah-olah ia diturunkan kepadamu”.

Meski demikian, Al-Quran pun memberikan jaminan bahwa kitab suci ini adalah hudan lin nas, petunjuk bagi umat manusia, lintas zaman dan tempat. Sehingga meskipun di satu sisi Al-Quran kaya dengan konteks sejarah yang mengitari, namun di sisi lain Al-Quran juga membawa ide moral, maghza, maqasid yang universal, sehingga relevan dengan tantangan modern.

Tugas umat Islam saat ini adalah menarik pesan yang kontekstual. Proses turunnya Al-Quran secara sejarah telah usai. Namun, proses pemaknaan, pembumian ajaran Al-Quran tak kan pernah selesai. Termasuk yang akan dilakukan malam ini, refleksi malam nuzulul Quran yang diselenggarakan oleh “negara” mengambil tajuk Al-Quran dan Spirit Perdamaian bersama Buya Kyai Ahsin Sakho Muhammad. Silakan merapat sekaligus ngalap barokah, setidaknya kita bayangkan bagaimana kondisi psikologis kanjeng Nabi dan sahabat ketika menerima wahyu dari Tuhan, kebahagiaan yang tiada tara tentunya. Begitu juga selayaknya kita melalui malam-malam nuzulul Quran ini, seolah-olah Al-Quran turun kepada kita.

Wallahu a’lam.