“Geertz menggunakan kisah RM. Said (Sunan Kalijaga) untuk menggambarkan perubahan itu. Meski pemu’alafan sang Sunan memang agak menunjukkan demikian, kenyataan itu lebih pada lapisan luar ketimbang dalam kehidupan batinnya” (Kejawen Moderen, 2009: 5).

Kutipan di atas berasal dari buku yang ditulis oleh Dr. Paul Stange berjudul Kejawen Moderen: Hakekat dalam Penghayatan Sumarah (Yogyakarta: LKiS, 2009). Meski buku ini baru dicetak sekali, sebagaimana yang ada di balik sampul bukunya, tertera tahun 2009, tetapi buku ini juga menjadi rujukan penting dalam kajian-kajian Jawa dan muslim Jawa. Dalam kutipan di atas, Paul Stange menyimpulkan bahwa kemusliman Sunan Kalijaga, lebih hanya pada aspek luarnya, dan bukan pada kehidupan batinnya. Kutipan ini ditulis untuk menambah argumentasinya bahwa “para peminjam dimanapaun menerima Islam dalam pengertiannya sendiri sambil mempertahankan kelangsungan ajaran lamanya”, yaitu sebelum Islam.

Paul Stange mengambil cerita Sunan Kalijaga dari Clifford Geertz dalam buku Islam Observed, yang di Indonesia telah diterjemah ke dalam bahasa Indonesia menjadi: Islam yang Saya Amati: Perkembangan di Maroko dan Indonesia (Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, 1982). Cerita tentang Sunan Kalijaga disinggung oleh Clifford Geertz dalam buku ini pada halaman 35-38. Masalahnya, Geertz hanya menceritakan dengan mengatakan demikian: “Sebagai satu simbol, satu perwujudan ide, Sunan Kalijaga menghubungkan Jawa-Hindu dengan Jawa Islam, dan di sanalah letak arti dirinya bagi kita dan bagi orang-orang Jawa” (1982: 35). Kemudian Paul Stange mengutip cerita yang dikemukakan Geertz soal Sunan Kalijaga, tetapi kemudian menambahnya lagi dengan suatu kesimpulan seperti yang dikutip di atas bahwa pemuallafan Sang Sunan: “Lebih pada lapisan luar ketimbang dalam kehidupan batinnya.”

Meskipun Paul Stange tidak membahas Sunan Kalijaga, dan lebih membahas soal Gerakan Sumarah, tetapi cara melihat muslim di Jawa melalui sosok Sunan Kalijaga di atas, digunakannya di bukunya, dan perlu ditilik secara kritis. Cara melihat yang demikian, digunakan sebagai justifikasi bahwa muslim Jawa, sebagaimana Sunan Kalijaga pun melakukan mu’allaf dan hanya terjadi pada bagian luarnya, ketimbang bagian dalamnya. Pembaca yang membaca buku ini, sangat mungkin, dapat terbawa oleh terlalu bersemangatnya para pengkaji Jawa, termasuk Paul Stange, untuk memisahkan Islam dan Jawa, akan menerima begitu saja anggapan yang demikian itu.

Dua hal yang penting ditilik adalah: apakah demikian adanya, bahwa Sunan Kalijaga masuk Islam hanya di luarnyanya saja, ketimbang aspek di dalamnya? Dan, apakah pertemuan Sunan Kalijaga dengan Sunan Bonang, betul adanya, dianggap sebagai masa awal pemu’alafaan untuk masuk Islam, sebagaimana disebutkan Paul Stange pada beberapa penjelasan berikutnya: “Kemu’allafan Sang Sunan terjadi setelah perjumpaannya dengan Sunan Bonang” (2009: 6).

Mengkaji sumber-sumber yang membicarakan Sunan Kalijaga, baik dari sumber babad atau kajian-kajian belakangan, menghasilkan kesimpulan, tidak cukup untuk mendukung argumentasi Paul Stange. Sumber-sumber babad menyebutkan, bahwa revolusi batiniah yang terjadi dalam diri Sunan Kalijaga, pertama setelah bertemu dengan Sunan Bonang, kemudian Sunan Gunungjati, Maulana Maghribi, dan Nabi Khidhir. Beberapa babad yang membicarakan ini di antaranya adalah Babad Segaluh (versi jilid I-3), Serat Suluk Walisana, beberapa babad yang lain, dan karya-karya yang dinisbahkan kepada Sunan Kalijaga sendiri yang bercerita tentang Nabi Hidhir dan Sunan Bonang.

Perjumpaan dengan para guru ini, adalah perjumpaan sampai terjadi perubahan batiniah mendasar, ke dalam kesadaran insaniyahnya, sebagaimana tempaan yang dilakukan dalam disiplin tarekat.

Salah satu gurunya, Maulana Maghribi oleh Babad Segaluh disebut sebagai murid rohani Syeh Abdul Qadir al-Jilani dan seorang Qadiri; Sunan Gunung Jati menurut sumber-sumber babad di Cirebon, salah satunya disebut sebagai Sadzili, selain oleh sumber lain disebut sebagai Syathari, dan menjadi murid Syeh Zakariya al-Anshari sebagaimana disebut oleh buku Mazhab Wasatiyah Sunan Ampel (2021: 31).

Sementara guru yang lain, Sunan Bonang, adalah murid sang ayah, Sunan Ampel, yang disebut oleh naskah Babad Tanah Jawi versi Drajat, berafiliasi dengan Naqsyabandiyah; dan pernah berguru kepada Maulana Ishaq bersama Sunan Giri di luar Jawa.

Terlebih lagi, Sunan Kalijaga adalah juga murid Sunan Ampel, seperti disebut oleh Babad Demak Pesisiran, yang menceritakan bawa Sunan Kalijaga mengikuti sholat jenazah Sunan Ampel. Dalam Babad Demak Pesisiran, dengan terjemah dari saya, disebut begini:

“[13]ganti ingkang cinarita, kocap Sunan Ngampel lalis, para wali dateng sedaya, pada nyalataken sami, Sunan Giri kang ngimami, para wali makmum sedarum, sawuse den salatena, inareaken tumuli, pasarehane ono lor wetane pendapa; [14]pepekan wali sedaya, Sunan Bonang lawan Sunan Giri, lawan Sunan Kalijaga, Derajat lan Gunungjati, Murya, Kudus lawan Wisi (wilis), Manyoran Demak lan Ngudung, Melaya lan Kertayasa, oneng dhukuh Ngampel Gading, pirembugan jenengaken ing khalifah” (BDP, 1984: 162, bait 13-14).

Terjemah:

“Ganti yang diceritakan, setelah Sunan Ampel wafat, semua wali datang semua, menyalatkan semua, Sunan Giri menjadi imam, para wali lain menjadi makmum semua, sesudah disholatkan, kemudian dimakamkan, tempat makamnya ada di utara-timur pendapa; [15]semua wali datang, Sunan Bonang bersama Sunan Giri, bersama Sunan Kalijaga, Sunan Drajat dan Sunan Gunungjati, Sunan Murya, Sunan Kudus, Sunan Wisi (mungkin maskudnya Wilis), Sunan Manyuran, Sunan Demak, Sunan Ngudung, Sunan Melaya, dan Sunan Kertayasa (mungkin amaksudnya Sunan Mertayasa), ada di dukuhg Ampel Gading, musyawarah soal pengangkatan pemimpin” (BDP, 1984: 162, bait 13-14).

Dari kutipan ini, dapat dipercaya bahwa Sunan Kalijaga sudah berguru kepada Sunan Ampel sebagai sesepuhnya para wali pada saat itu, sehingga ketika wafat Sunan Ampel, Sunan Kalijaga bersama para sunan lain, datang dan menshalatinya. Hal ini, bukan hanya masuk akal, ketika Sunan Ampel saat itu, yang disebut oleh sebagian babad di Cirebon, dengan mengutip Syeh Datuk Kahfi yang menasehati Syarif Hidayatullah agar pergi ke Ampel terlebih dulu sebelum menyebarkan Islam di tanah Jawa, sebagai satu-satunya wali yang dijadikan rujukan di Jawa, selain Syeh Hasanudin Quro. Lebih dari itu, Sunan kalijaga dan Sunan Ampel memiliki hubungan kekerabatan, karena Sunan Ampel menikah dengan anak Arya Teja di Tuban, sehingga sudah sering bertemu sejak dari awal antara Sunan Kalijaga dan Sunan Ampel, bahkan dengan Sunan Bonang sekalipun.

Arti penting dari beberapa data ini, adalah Sunan Kalijaga, dapat dipercaya telah mengalami perubahan batiniah secara dasar di dalam kerangka tarekat yang dikembangkan di Jawa, karena dia sendiri menjadi murid dari para guru tarekat, dan menjadi murid Sunan Ampel sendiri; dan kemudian menjadi mursyid tarekat yang membait para murid, yang di antaranya adalah Sunan Tembayat, dan salah satu jaringan dari mereka ini, oleh Serat Centihini disebut pula nama Syeh Sekar Delima di Gunung Slamet.

Bahwa beberapa istilah yang dipakai Sunan Kalijaga dalam menjelaskan konsep-konsep laku dan spiritual menggunakan bahasa Jawa, adalah juga dilakukan oleh Sunan Bonang dalam berbagai karyanya; juga Sunan Gunungjati dalam Serat Suluk Walisana, dan para sunan lain. Oleh karena itu, anggapan bahwa Sunan Kalijaga hanya mengalami perubahan lahirnya saja, sebagaimana disebut Dr. Paung Stange, ketimbang pada batinnya, tidak diukung oleh data-data yang kuat. Kemusliman Sunan Kalijaga adalah lahir dan batin.

Kedua, pemu’allafan Sunan Kalijaga yang disebut oleh Paul Stange berdasarkan cerita Clifford Geertz yang dikutipnya, adalah ketika bersama Sunan Bonang. Ini juga kesimpulan yang perlu diberi bacaan yang lebih kritis: apakah betul Sunan Kalijaga masuk Islam di dalam pangkuan Sunan Bonang, dengan mendasarkan cerita pertemuannya dengan Sunan Bonang, yang juga diceritakan banyak babad itu. Cerita babad tidak menyebutkan bahwa Sunan Kalijaga masuk Islam di pangkuan Sonan Bonang, tetapi lebih pada terjadi revolusi batiniah di pangkuan Sunan Bonang, yang masih berkerabat itu. Menurut tahqiq yang saya lakukan atas cerita babad dan dimensi lain, peristiwa itu sebenarnya adalah fase mengenal terhadap ajaran-ajaran marifat tasawuf yang diajarkan Sunan Bonang, bukan mu’allaf menjadi muslim.

Di antara beberapa argumentasinya, di antaranya dapat disebutkan bahwa Sunan Kalijaga adalah anak dari Penguasa Majapahit di Tuban, yang memang seorang muslim, dan karenanya sejak kecil sudah muslim, meskipun dalam perjalanan hidupnya mengalami kejutan-kejutan perubahan spiritual. Beberapa versi silsilah soal Sunan Kalijaga, yang saya kaji mendukung demikian itu.

Terlebiuh lagi, Paul Stange tidak berhasil mengungkapkan argumentasi wacana batiniah sebelum Islam datang ke Jawa seperti apa, dan aspek mana yang diteruskan; aspek mana yang dihilangkan; dan sama sekali tidak menyinggung tarekat Sunan Kalijaga, yang mendasar dari bangunan insaniyah rohani Sang Sunan. Karena tidak mengungkap dukungan-dukungan data, tentang khazanah batiniah sebelum Islam datang, maka kesimpulan-kesimpulan yang dikemukakan tentang pemualafan Sunan Kalijaga, dapat ditinjau ulang, sekaligus mengalami krisis.

Bahwa mencari justifikasi praktik sebagian muslim Jawa, atau orang Jawa, kepada Sunan Kalijaga adalah suatu yang tepat, di samping perlu diperluas dengan para wali yang lain, sebagaimana ini dilakukan Paul Stange. Akan tetapi mereduksinya menjadi kemuallafan lahir saja, ketimbang batinnya, merupakan koor nada sebagian pengkaji tentang Jawa yang menggunakan pendekatan sinkretik, yang berusaha memisahkan Islam dan Jawa.

Sebaliknya, dengan pendekatan dan cara pribumisasi Islam, melihat para sunan dan wali di Jawa, akan menghasilkan suatu kesimpulan-kesimpulan yang berbeda. Dengan mendekati melalui pribumisasi Islam, memperjelas bahwa apa yang dilakukan Sunan Kalijaga adalah mengolah Jawa, mengolah batin insaniyah dengan metode tarekat dan beritarakat sesuai dengan konteks di Jawa, sehingga muslim Jawa, tidak hanya rindu pada gebyar lahirnya srengat, tetapi juga mendasar ke dalam batinnya, dan dihayati dalam hidupnya, tanpa melepaskan srengat.

Dalam pribumisasi Islam, ada aspek-aspek yang dapat diolah, baik dalam manifestasi Islam atau Jawa, untuk menghasilkan satu keberislaman yang konstesktual di Jawa. Hasil dari pribumisasi Islam tidka perlu mengoposisikan, apa yang dilakukan Sunan Kalijaga sebagai Agama Jawa, yang berlawanan dengan praktik yang dilakukan sunan-sunan lain. Demikian pula, apa yang dilakukan sebagian muslim di Jawa tidak perlu dilihat sebagai agama tersendiri, yang tidak menjadi bagian dari sahabat-sahabat muslim lain.

Belum lagi, data lain bahwa Sunan Kalijaga adalah mentor pendirian Mataram Islam, dan hukum yang dipraktikkan dalam Mataram Islam berpedoman pada srengat yang difahami secara kontekstual di Jawa, adalah bukti yang lain lagi bahwa Sunan Kalijaga bukan hanya mengambil Islam sebagai nama, tetapi juga pengamalannya, dan hayat batiniahnya. Sunan Kalijaga juga sebagai mursyid tarekat yang diambil dari guru-gurunya, adalah hal yang penting, tetapi tidak pernah disinggung sebagian pengkaji Jawa yang menggunakan koor nada sinkretik.

Meski begitu, saya mengikuti pandangan bahwa makam Sunan Kalijaga ada di Tuban, dan tetap menghormati Kadilangu sebagai pusat rohani Muslim Jawa. Wallohu alam. []

Nur Kholik Ridwan, alumnus Pesantren Darunnajah Banyuwangi dan PP Inayatulloh Nandan Yogyakarta.