ACARA – Perkembangan teknologi informasi yang masif di era digital ternyata membawa tantangan baru yang kompleks bagi lanskap keagamaan generasi muda. Dalam acara diskusi daring “Bincang Santun #2 bertema “Literasi Islam dan Kelompok Muslim Milenial yang diselenggarakan Islam Santun pada Jumat (12/06), terungkap bahwa generasi muda saat ini tengah terjebak di antara melimpahnya informasi dan krisis validasi keagamaan.

Dedi Slamet Riyadi, Kasubdit Kepustakaan Islam Kemenag RI memetakan lima fenomena krusial yang mendominasi pola konsumsi literasi Islam digital di kalangan milenial.

Salah satu temuan yang paling menyita perhatian dalam diskusi tersebut adalah munculnya fenomena “Islam Buffet”. Istilah ini merujuk pada perilaku beragama yang pragmatis, yakni para milenial secara bebas ‘memilih dan mengambil’ berbagai pendapat keagamaan yang tersebar di media sosial secara acak.

Mereka kemudian menyusun sendiri konseptual atau pandangan “Islam ala gue sendiri.” Dedi Slamet Riyadi menegaskan bahwa pola konsumsi yang instan, subjektif, dan tanpa bimbingan otoritas guru yang jelas ini sangat berpotensi memicu permasalahan serius dari sudut pandang teologis.

Kondisi tersebut diperparah oleh adanya Krisis Otoritas Keagamaan Digital. Mayoritas mereka mengalami kesulitan besar untuk memverifikasi keabsahan, kredibilitas, maupun sanad keilmuan dari konten keislaman yang saban hari lewat di beranda gawai mereka.

Menurut Dedi, daya tarik utama narasi keagamaan bagi milenial diukur dari asas fungsionalnya. Generasi ini menuntut adanya relevansi kuat, dengan selalu mempertanyakan, “Apakah konten ini relate gak dengan kehidupanku?” sebelum mereka memutuskan untuk mengonsumsinya. Mereka jauh lebih tertarik pada konten yang adaptif terhadap isu-isu kesehatan mental, karier, dan problem sosial sehari-hari.

Di sisi lain, muncul sebuah kegelisahan psikologis terkait sentimen konten eksklusif. Para milenial mengaku merasa tidak nyaman saat terpapar konten-konten keagamaan yang bersifat kaku, radikal, atau menyalahkan kelompok lain. Ironisnya, akibat jebakan algoritma media sosial yang agresif, mereka merasa kesulitan untuk menghindari atau keluar dari lingkaran paparan konten eksklusif tersebut.

“Sebagai langkah mitigasi dari ancaman hoaks keagamaan dan information overload (banjir informasi), otoritas keagamaan harus mengambil peran untuk menjadi filter penting untuk menyaring, mendiskusikan, dan melakukan kurasi bersama agar konten keislaman yang milenial serap tetap sehat serta berada dalam koridor moderasi beragama,” sebutnya.

Diskusi virtual “Bincang Santun”diadakan setiap bulan sekali untuk membincangkan fenomena sosial dan kegamaan yang aktual di Indonesia. 

Komentar