“Puasa Ramadhan terasa ringan, padahal puasa di bulan-bulan lain mungkin terasa lebih berat. Rahasianya, karena ritual ini disunggi secara bersama oleh semua Muslim di seluruh penjuru dunia. Rahasia itu sekaligus pelajaran bahwa, setiap ucapan, pikiran, tindakan yang dilakukan di atas kesamaan visi, rasa, dan pikiran, pasti melahirkan energi besar yang mampu mengubah apa yang sulit menjadi mudah, yang tidak mungkin menjadi mungin, yang ilusi menjadi fakta. Kemajuan suatu umat, komunitas, atau bangsa, pastilah karena dipikul oleh manusia-manusia yang digerakkan oleh mimpi dan visi yang sama. Mereka menyatukan langkah menuju titik yang Satu” (Prof. Dr. Maftukhin, M. Ag, Rektor IAIN Tulungagung).

Core dari renungan Pak Rektor kali ini adalah tentang pentingnya kebersamaan. Kebersamaan melahirkan kesamaan visi. Kesamaan visi mendatangkan energi yang besar. Energi yang besar mampu mengubah banyak hal. Semua itu digiring lewat ilustasi tentang beratnya puasa di hari-hari non-Ramadhan, tapi terasa ringan selama bulan Ramadhan. Menurut Pak Rektor, yang membuat puasa Ramadhan dirasa ringan antara lain adalah kebersamaan; seluruh umat Muslim di dunia bersama-sama menjalankan ibadah puasa. Kebersamaan membuat hal berat jadi ringan. Kebersamaan selalu melahirkan energi dan kekuatan.

Berat dan ringan tidak selalu berlaku dalam hal yang bersifat benda. Berat dan ringan juga kerap terjadi dalam hal-hal yang bersifat psikologis. Puasa Ramadhan bagi kebanyakan umat Muslim dirasakan ringan meski di hari-hari biasa non-Ramadhan mungkin dirasa berat. Beberapa hal membuat puasa Ramadhan terasa ringan, antara lain orang-orang yang melaksanakannya bukan hitungan sepuluh-dua puluh atau seratus-dua ratus, melainkan milyaran umat Muslim sejagat.

Hal ini, secara psikologis memberi dorongan pada kita untuk menjalani puasa pada hari-hari Ramadhan dengan ringan dan bahkan suka-cita. Kebersamaan, apalagi kalau orang-orang yang terlibat di dalamnya mencapai jumlah yang luar biasa besar, menghembuskan kekuatan.

Puasa Ramadhan dan kekuatan kita untuk menjalankannya dengan perasaan ringan serta riang gembira, dalam hemat Pak Rektor, memberi pelajaran berharga kepada kita bahwa dalam hal apa pun—terutama hal-hal yang menyangkut masalahat dan hajat orang banyak—kebersamaan selalu mendatangkan kebaikan.

Ide-ide besar dan visioner selalu meniscayakan adanya ucapan, pikiran, dan tindakan. Yang dimaksid dengan ucapan adalah kemampuan kita mengartikulasikan kata-kata yang jelas dan jernih tentang masa depan yang ingin kita wujudkan. Yang dimaksud dengan pikiran adalah bahwa kata-kata yang artikulatif itu tidak mungkin muncul tanpa topangan pikiran-pikiran konseptual (ide) tentang bagaimana masa depan yang ideal dirintis dan dibangun.

Sedang yang dimaksud dengan tindakan adalah, tentu saja, pembuktian atau pengejewantahan dari ucapan yang telah terartikulasi di lisan serta pikiran yang sudah terpatri di benak. Tanpa tindakan, ucapan akan menguap begitu saja; tanpa tindakaan, pikiran akan mengendap lalu lenyap tak berbekas.

Bayangkan orang-orang yang memiliki ide-ide besar dan visioner itu berkumpul jadi satu, menatap masa depan yang sama, memiliki tujuan yang sama, memiliki ghirah yang sama, lalu secara bersama-sama pula berpikir dan bertindak demi mewujudkan cita-cita bersama. Tentu hasilnya akan dahsyat beberapa kali lipat dibanding dengan masa depan yang dibangun hanya oleh satu orang saja, terlebih jika satu orang itu tidak memiliki ide besar dan visi masa depan yang jelas.

Memang tidak dinafikan adanya individu secara perseorangan yang memiliki ide besar dan visioner. Akan tetapi, poin yang hendak disampaikan renungan Pak Rektor kali ini, selalu saja kebersamaan lebih dapat diharapkan ketimbang perseorangan dalam menjaring ide, gagasan, visi, energi, dan aksi-aksi nyata dalam membangun masa depan yang cemerlang.

Kebersamaan bukan hanya melahirkan kekuatan tapi bahkan “keajaiban”. Dalam kata-kata Pak Rektor: “Setiap ucapan, pikiran, tindakan yang dilakukan di atas kesamaan visi, rasa, dan pikiran, pasti melahirkan energi besar yang mampu mengubah apa yang sulit menjadi mudah, yang tidak mungkin menjadi mungin, yang ilusi menjadi fakta.” Tunjuk satu capaian kemajuan sains dan teknologi yang kita lihat dan kita manfaatkan hari ini. Tidak harus mundur terlalu jauh untuk menyebut bahwa capaian-capaian itu dulunya kita anggap tidak mungkin; khayalan belaka. Dulu, beberapa tahun yang lalu, handphone yang cuma untuk nelpon dan SMS saja sudah dianggap paling maju dan modern. Bandingkan dengan hari ini di mana handphone lebih identik dengan kamera dan media agar yang bersangkutan tidak ketinggalan berita. Sisanya gaya hidup modern dan kelas sosial. Apa yang membuat handphone begitu cepat bermetamorposis? Ide, gagasan, visi, kebersamaan dan kekompakan orang-orang yang ada di pabrikan-pabrikan handphone itu.

Handphone hanya satu gambaran yang dapat dianalogikan dengan capaian-capaian lainnya dalam semua level kehidupan. Bisa organisasi, lembaga, yayasan, perkumpulan atau serupa itu. Bisa pula, seperti kata Pak Rektor, “suatu umat, komunitas, atau bangsa.” Jika semua itu ingin maju, maka semuanya harus “dipikul oleh manusia-manusia yang digerakkan oleh mimpi dan visi yang sama. Mereka menyatukan langkah menuju titik yang Satu.” Dan, jika kita sebuah bangsa, tentu tak ingin seperti bangsa dalam salah-satu puisinya Kahlil Gibran yang berjudul “Bangsa Kasihan”.