Dalam salah satu hikayat pada bab puasa di dalam kitabIrsyād al-‘Ibād, karya ulama Syeikh Zainuddin al-Malibari, dikisahkan seorang lelaki bernama Muhammad. Ia bukan figur yang menonjol dalam kesalehan. Amal-amalnya biasa saja. Ia tidak dikenal sebagai zahid, bukan pula sebagai ahli ibadah yang menghabiskan malam dalam tahajud panjang. Bahkan disebutkan jika ia tipikal orang yang terkadang sholat dan terkadang tidak menjalankan sholat.

Namun ketika Ramadan tiba, ia berubah: mengenakan pakaian terbaiknya, memakai wewangian, memperbanyak puasa dan salat, serta menjaga dirinya dengan penuh hormat terhadap bulan suci. Ketika ditanya mengapa ia bersungguh-sungguh hanya pada bulan itu, ia menjawab sederhana: “Ini bulan tobat, rahmat, dan keberkahan. Aku berharap Allah mengampuniku.” Setelah wafat, dalam mimpi ia dikabarkan memperoleh ampunan karena memuliakan Ramadan.

Hikayat ini, sekilas, tampak sebagai cerita moral klasik tentang keutamaan menghormati bulan suci. Namun jika dibaca lebih dalam, ia menyimpan lapisan makna teologis dan sosiologis yang menarik.

Adab sebagai Infrastruktur Spiritual

Dalam tradisi keilmuan Islam, adab bukan sekadar sopan santun, tetapi bentuk kesadaran eksistensial terhadap yang sakral. Lelaki bernama Muhammad dalam kisah ini mungkin tidak memiliki kapital ibadah yang besar, tetapi ia menyimpan sesuatu yang sangat mendalam dan prinsip yakni sikap ta‘zhīm, pengagungan atau penghormatan terhadap syiar ibadah Ramadan.

Di sini, keselamatan tidak semata-mata diikat pada kuantitas amal, melainkan pada orientasi batin. Ramadan diposisikan sebagai ruang sakral yang menuntut perubahan sikap. Memakai pakaian terbaik dan wewangian bukan sekadar gestur estetik, melainkan simbol kesiapan batin menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Dalam bahasa teologi, sikap ini adalah bentuk raja’—harapan kepada rahmat Allah. Ia sadar akan keterbatasannya, tetapi tidak terjebak dalam keputusasaan. Kesadaran akan dosa justru melahirkan harapan. Ia memahami dirinya didalam pusaran ketidaksolehan, tetapi mencoba mendapatkan momentum untuk mendapatkan ampunan.

Ramadan dan Produksi Kesalehan Publik

Namun kisah ini juga dapat dibaca dalam kerangka sosial yang lebih luas. Ramadan bukan hanya ruang ibadah personal; ia adalah fenomena sosial yang membentuk etika kolektif. Kehadiran Ramadan mengubah ritme masyarakat, pola konsumsi, praktik ekonomi, hingga lanskap bermedia.

Dalam konteks itu, tindakan Muhammad mengenakan pakaian terbaik dan menunjukkan kesungguhan ibadah dapat dibaca sebagai partisipasi dalam produksi kesalehan publik. Ia menandai dirinya sebagai bagian dari komunitas yang memuliakan waktu suci.

Di sinilah kita melihat bahwa simbol—pakaian, wewangian, sikap lahiriah—memiliki fungsi penegas identitas diri. Ia bukan kepalsuan, tetapi ekspresi dan pernyataan identitas religius. Kesalehan tidak hanya dipraktikkan, tetapi juga ditampilkan sebagai bentuk pengakuan terhadap norma kolektif.

Namun hikayat ini menarik karena ia tidak berhenti pada upaya menonjolkan identitas. Ia menegaskan bahwa yang dinilai bukan sekadar tampilan, melainkan niat yang menyertainya. Simbol menjadi bermakna karena ia berakar pada harapan dan kesadaran diri.

Di era media sosial, Ramadan kerap menjadi panggung kesalehan digital. Konten religius bertebaran, ekspresi ibadah dipublikasikan, bahkan spiritualitas mengalami komodifikasi. Dalam situasi ini, kisah Muhammad menghadirkan pertanyaan penting: apakah memuliakan Ramadan masih menjadi ekspresi adab, atau sekadar strategi representasi diri?

Hikayat tersebut memberi satu kunci: orientasi batin. Muhammad tidak berkata, “Aku saleh.” Ia berkata, “Aku berharap Allah mengampuniku.” Ada kerendahan hati epistemologis dalam pernyataan itu. Ia tidak memonopoli kebenaran, tidak mengklaim keselamatan. Ia hanya menggantungkan diri pada rahmat dari Allah.

Di titik ini, kita melihat pertemuan antara etika individual dan simbol kolektif. Ramadan adalah struktur sosial sekaligus ruang transformasi personal. Memuliakannya berarti mengakui adanya hierarki nilai: ada waktu yang sakral, ada momen yang lebih mulia, ada kesempatan yang tidak boleh disia-siakan.

Optimisme Teologis di Tengah Ketidaksempurnaan

Yang paling kuat dari hikayat ini adalah pesan optimisme. Kesalehan tidak selalu lahir dari kesempurnaan, tetapi dari pengakuan akan kelemahan. Muhammad adalah representasi Muslim awam yang sadar diri. Dalam dunia yang sering memproduksi standar kesalehan tinggi—bahkan kadang eksklusif—kisah ini menghadirkan inklusivitas rahmat. Selama seseorang tidak meremehkan yang sakral, selama ia masih memiliki adab terhadap syiar Allah, pintu ampunan tetap terbuka.

Maka, memuliakan Ramadan bukan hanya praktik ritual, tetapi sikap epistemik: mengakui bahwa ada yang lebih besar dari diri kita. Ada waktu yang mengandung rahmat. Ada ruang yang mengandung pengampunan. Di tengah fragmentasi religiusitas kontemporer, mungkin yang kita perlukan bukan hanya intensifikasi ibadah, tetapi revitalisasi adab. Seperti Muhammad dalam hikayat itu—tidak sempurna, tetapi tidak kehilangan hormat dan selalu penuh harap.

Kita mungkin menjumpai sosok Muhammad di sekitar kita. Tipikal muslim yang tidak sempurna ibadahnya, tetapi tidak kehilangan harapan akan ampunan dan kasih sayang dari Allah. Dan bisa jadi, dalam ketulusan yang sederhana itulah, keselamatan justru menemukan jalannya.

Komentar