Memang harus diakui, ada semacam kesukaran tersendiri ketika setiap kali hendak memotret dan menarasikan sosok K.H Abdurrahman Wahid atau yang lebih kita kenal dengan panggilan Gus Dur dan gagasan pemikirannya. Kesukaran tersebut karena tema-tema dan topik yang dinarasikan Gus Dur sangat luas dan mendalam serta komprehensif.

Namun, yang pasti, Gus Dur, sebutan yang barang kali tak akan pernah lekang oleh waktu dan zaman. Serpihan-serpihan gagasan pemikiran dan pandangannya selalu memiliki relevansinya dengan konteks keindonesiaan saat ini.

Tak heran jika berbagai kalangan dan tokoh di negeri ini menyematkan namanya dengan berbagai sebutan. Dan tak khayal pula banyak karya-karya bahkan ratusan karya tulis yang lahir dari pandangan dan pemikiran Gus Dur.

Pandangan dan pemikiran Gus Dur sebagai intelektual publik dengan pengetahuan ensiklopedik, dan topik, serta tema yang disajikan sangat luas. Keluasan tema dan topik sebagaimana sudah terdokumentasi seperti, konsep pribumisasi Islam, pluralisme, modernisasi pesantren dan tema-tema lain terkait agama, kebudayaan, seni, musik dan lingkungan, serta tata nilai dan lain-lain.

Lanskap dokumentasi gagasan dan pemikiran Gus Dur tersebut masih akan tetap melekat dalam pergulatan sejarah ide dan ruang kontestasi masa depan Indonesia. Lanskap dokumentasi gagasan dan pemikiran Gus Dur tersebut seolah-olah tak banyak berubah dengan aksen kondisional negeri ini tampak sangat terasa terutama beberapa tahun belakangan ini.

Insya Allah saya serius

Bentang gagasan dan pemikiran tersebut terdokumentasi dalam manuskrip Gus Dur atau KH. Abdur Rahman Wahid berjudul, Insya Allah Saya Serius: NU, Muhammadiyah dan Budaya Arab (2024). Karya yang awalnya berasal tulisan sebuah laporan panjang di majalah Wahyu, dan makalah, seminar, pokok-pokok diskusi yang dijalani Gus Dur sepanjang hayatnya ini, cukup menarik untuk dibahas dan dikaji ulang secara serius.

Potret dokumentasi pertautan relasi dua organisasi besar Indonesia dalam persinggungan tarik-ulur antara budaya lokal, budaya Arab dan budaya Islam, paling tidak telah memberikan kita gambaran umum sekaligus cara pandang kritis. Walaupun, tentu sebagaimana pengakuan penyunting buku ini tidak sepenuhnya merangkum dan mewakili gagasan Gus Dur yang sangat luas terkait polemik NU dan Mahammadiyah dan Budaya Arab tersebut.

Dalam pandangan Gus Dur kebudayaan Arab dan kebudayaan Islam keberadaan keduanya tak bisa disangkal dan tidak bisa disejajarkan secara penuh, sehingga menjadi satu konotasi. Keduanya merupakan dua hal sangat berbeda. Demikian dalam prosesnya selalu memperhatikan akomodasi, oleh sebab itu, tidak bisa membaurkan antara budaya dan agama karena akan menghilangkan nilai-nilai yang ada pada agama.

Meski begitu, keduanya harus berjalan secara beriringan dan seimbang. Keberadaan sejarah kebudayaan Arab merupakan ekspresi dari wajah kekayaan kebudayaan Islam itu sendiri, oleh karena itu agak sulit dipisahkan antara keduanya.

Dalam diktum pribumisasi Islam yang digagas Gus Dur misalnya, keberadaan NU, Muhammadiyah adalah menghargai dan menghormati budaya Arab, dengan saling mempertegas identitas budaya keduanya, apalagi budaya Islam. Sebab, NU, Muhammadiyah dan budaya Arab bersifat relatif bersumber atau dibagun oleh manusia yang bisa berubah-ubah, tergantung sosial, budaya, ekonomi, bahkan politik. Sedangkan budaya Islam berasal dari wahyu.

Sebab itu, diktum yang selama ini berkembang di tengah-tengah kita, “Arab adalah Islam”, seringkali berakibat pada pemahaman Islam adalah Arab yang tak jarang menjadi semacam cara berpikir sehingga menjadi kabur dalam melihat realitas Islam itu sendiri.

Berwatak sektarian

“Berwatak sektarian” demikian istilah yang digunakan Gus Dur dalam menggambarkan gejala budaya keagamaan negeri ini yang belakangan semakin meresahkan masyarakat. Dalam pandangan Gus Dur, kelompok masyakarat yang terbelit dengan watak sektarian ini masih belum mampun menemukan wajah keagamaan Indonesia sebagai suatu identitas pemahamaan kebangsaan.

Sebab, sikap-sikap demikian sangat berlawanan dengan kebutuhan kebangasaan karena identitas keagamaan tidak berlangsung terkait pada pandagan kebangsaan yang bersifat integral, sehingga tidak jarang dan sering kali menimbulkan perpecahan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dengan kata lain, kelompok masyarakat yang masih menganut watak seKtarian ini tidak bisa memverifikasi Islam harus tetap Islam dan Al-Quran harus tetap berbahasa Arab. Sementara itu, NU, Muhammadiyah dan budaya Arab adalah identitas berbeda, di mana dalam konteks keindonesiaan keduanya berjalan secara beriringan dan berimbang dengan verifikasi unsur-unsur kebudayaan Arab, seperti unsur kebudayaan yang melekat pada diri NU dan Muhammadiyah sebagaimana yang dimiliki bangsa ini.

Bagi Gus Dur, NU adalah sebuah paham (hal.151) yang lebih banyak menekankan pada proses perwujudan dari nilai-nilai Islam melalui budaya lokal. Pemahaman seperti ini selaras dengan kaidah fikih yang sering kali diajarkan di pondok-pondok pesantren NU berupa “kebiasaan atau adat bisa menjadi hukum”.

Oleh karena itu, keberadaannya harus bisa menerima ideologi yang datang dari luar dirinya, sebab NU bukan suatu ideologi yang tidak bertentangan atau tidak perlu dipertentangkan dengan ideologi negara ini, atau dengan kata lain harus tuntuk pada ideologi negara Pancasila.

Terlepas dari semua itu, tentu, keberadaan dokumentasi berupa serpihan-serpihan gagasan dan pemikiran Gus Dur ini penting untuk dibaca oleh setiap generasi bangsa saat ini, baik tua maupun muda. Dan, bagi siapa pun yang hendak mengenal dan menyelami gagasan dan pemikiran Gus Dur.

Memang Gus Dur telah tiada secara fisik di dunia ini 15 sejak tahun yang lalu. Namun dari darinya kita banyak menerima warisan wawasan kearifan seperti kenegaraan, keagamaan, dan kemanusiaan dan warisan wawasan lainnya untuk generasi berikutnya untuk dilanjutkan.

Pada akhirnya, paling tidak dengan membaca potret dokumentasi setebal 200 halaman yang dihadirkan untuk mengenang 15 tahun kepergian Gus Dur ini kita sudah bisa mengenal dan melihat kondisi, gambaran sejarah, sosial, kebudayaan, seni, dan politik, lingkungan, serta zakat yang memiliki relevansi dengan konteks saat ini. Gitu.

 

Tentang buku

Judul Buku      : Insya Allah, Saya Serius: NU, Muhammadiyah dan Budaya Arab

Penulis            : K.H. Abdurrahman Wahid

Penerbit           : Gading

Cetakan           : Desember 2024

Tebal               : xviii+200 Halaman

QRCBN          : 62-1359-7284-207

Komentar