KHUTBAH PERTAMA
الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمُنَزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الَّذِي كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ. أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإِنِّي أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ الْمَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ.
أَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللّٰهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Jamaah sholat Jumat rahimakumullah….
Di siang hari yang penuh berkah ini, khatib mengajak jamaah sekalian dan diri khatib pribadi untuk senantiasa menjaga dan meningkatkan kualitas ketakwaan kita kepada Allah SWT. Sholawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Semoga kita mendapatkan syafaatnya di yaumil akhir nanti. Amiiin, allahumma, amiiin…
Jamaah kaum muslimin yang dirahmati Allah.
Dalam kesempatan khutbah kali ini, khatib ingin mengangkat topik “Bahaya Fatherless bagi Masa Depan Anak dan Keluarga”. Atau, bahayanya ketiadaan peran ayah terhadap perkembangan seorang anak. Kita perlu sekali menyadari bahwa peran seorang ayah itu sangat penting bagi kehidupan anak.
Relevansi topik bagi kehidupan mental anak
Topik ini semoga bermanfaat untuk kita semua, dan insya Allah ini tema yang relevan untuk menyikapi masalah yang muncul dan kita lihat di masyarakat atau kita simak di media saat ini, yakni kekerasan anak, bullying di sekolah, pelecehan seksual anak, mental health anak dan remaja, bahkan diberitakan mahasiswa di beberapa kampus terkenal melakukan bunuh diri. Dan mirisnya, itu bisa terjadi pada anak di perkotaan maupun di desa. Anak dari keluarga kelompok sosial manapun, entah menengah ke bawah ataupun keluarga kaya. Anak dengan ortu pendidikan formal yang tinggi ataupun tidak.
Jamaah sholat Jumat yang dirahmati Allah…
Beberapa hari yang lalu, istri khatib menghadiri pertemuan wali murid dan pihak sekolah, yang menghadirkan narasumber seorang pengacara perempuan. Pengacara khusus kasus-kasus kekerasan yang melibatkan anak. Mau tidak mau, dalam mendampingi kasus-kasus tersebut, narasumber tersebut harus mempelajari psikologi anak.
Ia membuat kesimpulan salah satunya adalah bahwa anak-anak melakukan kekerasan karena adanya faktor orangtua. Apa itu? Ketidakhadiran ayah dalam keluarga! Dalam arti, ayah tidak turut mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Anak tidak mendapat kasih sayang ayahnya, pendampingan untuk tumbuh percaya diri dan bagaimana bersikap terhadap orang lain.
Pada saat sesi istirahat, seorang wali murid curhat pada wali murid lainnya, bahwa ia sedih karena “anak yang tua suka memukul adiknya.” Lalu sambil menerawang, seakan meng-iya-kan apa yang didengar narasumber tadi, ibu tersebut mengatakan dalam Bahasa Jawa, “lha bapake ora tau ngomong kok karo anake. Bapake dolanan hape terus” (Lha sang bapak tidak pernah ngomong sama anaknya. Bapaknya main hape terus).
Jamaah Sholat Jum’at rahimakumullah
Ada buku berjudul “Fatherless: Andai Ayah Tahu Ini” (Reza 2024). Pertumbuhan anak dipengaruhi oleh didikan dan interaksinya dengan ibu, ayah, teman, sosial, pendidikan/pelatihan, hingga perjalanan hidupnya.
Mengutip psikolog Erik Erikson, Reza menjelaskan peran ibu sangat penting bagi anak usia 0-6 tahun dalam membangun kecerdasan, ayah pada usia 6-11 tahun untuk perkembangan kemampuan dasar anak, dan ayah berperan penting lagi bagi pemantapan identitas anak usia 18-21. “Tugas utama ayah adalah menjadi teladan (role model) bagi anaknya. Ayah menjadi referensi utama kita tentang bagaimana kita berinteraksi dengan ibu, bagaimana laki-laki melihat peran perempuan. Bagaimana kita menghadapi krisis dan kesulitan hidup, kestabilan emosi kita, dan bagaimana kita beraksi dengan dunia sekitar kita.” (hlm. 22-23).
Reza membuat pengelompokan tingkat kehadiran ayah (Matriks Kehadiran/Peran Ayah atau MKPA).
- Ayah hadir dan berpengaruh positif. Ini tipe ayah ideal. Ia hadir dalam menjalankan tugas di rumah dan bukan hanya mencari nafkah saja. Ia mendidik anak dan keluarganya, menjalankan peran bersama pasangannya.
- Ayah hadir namun tidak berpengaruh. Ini tipe ayah patung. Ayah yang pasif sebab tidak memberi pengaruh baik, buruk pun tidak. Ia bisa bergeser menjadi ayah ideal jika sedikit saja berusaha menjadi ayah aktif dan terbuka pada anak dan keluarganya.
- Ayah tidak hadir namun berpengaruh positif. Ini tipe ayah memori. Mantan ayah ideal meskipun kehadirannya singkat. Ayah yang sudah meninggal namun memberi kesan kuat bagi fondasi kepercayaan dan model anak.
- Ayah berpengaruh buruk. Ayah yang memberi pengaruh buruk bagi anak dan keluarga. Ini bisa menjadi ayah tipe hantu atau monster.
Kita perlu mawas diri dan mengevaluasi ada posisi manakah kita sebagai sosok ayah. Istri juga perlu mendampingi bahkan bersikap tegas jika pasangannya tidak bisa menjadi sosok pasangan dan ayah yang baik.
Jamaah sholat Jumat yang dirahmati Allah…
Dengan memahami berbagai tipologi ayah di atas, mari kita mencoba mengulasnya.
Pengasuhan seorang ayah terhadap anak-anaknya dalam satu keluarga sangatlah penting. Seorang ayah harus berinisiatif untuk menjalin hubungan dengan anak laki-laki dan anak perempuannya dengan memanfaatkan semua potensinya baik afeksi, fisik, dan kognisinya.
Beberapa tahun ini kita mendengar istilah Fatherless (ketiadaan bapak). Sosok ayah hilang dalam pengasuhan anak, baik secara fisik maupun psikologis. Betul bahwa seorang anak masih memiliki ayah, namun keterlibatannya dalam pengasuhan anak sangat rendah.
Fatherless dapat terjadi disebabkan beberapa faktor seperti kondisi sosial, ekonomi, maupun budaya yang hidup di tengah masyarakat. Dari sisi sosial dan ekonomi yang bersifat struktural, sekarang ini manusia dewasa seakan-akan dipisahkan dari keluarganya, dari anak-anaknya.
Manusia dewasa, orangtua, bergerak dari rumah ke jalan, menjadi tenaga-tenaga kerja industrial, dagang, ataupun perkantoran. Interaksi orangtua, khususnya ayah, dengan anak minim sekali. Lalu, ada weekend yang mengkompensasi keletihan itu.
Dengan kemudahan teknologi sebetulnya tidak ada alasan keterbatasan relasi ayah dengan anak. Berbagai keterbatasan jarak dan waktu bisa diatasi dengan teknologi, meskipun pertemuan fisik selalu lebih penting. Ada yang lebih penting yakni meningkatkan kualitas interaksi ayah-anak-istri.
Di antara efek negatif dari fatherless adalah turunnya tingkat kepercayaan diri pada anak. Anak menarik diri dari kehidupan sosial. Bisa pula anak cenderung melakukan tindakan kenakalan remaja, kekerasan, hingga kriminal. Belum lagi persoalan kesehatan mental mereka.
Peran ayah diperlukan dalam mendampingi anak-anak agar jangan sampai mereka mengalami depresi, ketakutan, kecemasan tatkala menghadapi masalah. Misalnya, masalah sekolah terkait pelajaran, pertemanan, organisasi, hubungan dengan guru atau mewujudkan cita-cita mereka. Juga masalah-masalah yang ada di keluarga dan di masyarakat. Pada tahap lanjut, sang anak dapat menjadi tidak bahagia dalam hidup. Kita tentu sedih jika melihat anak-anak kita tidak bahagia.
Ketiadaan peran ayah juga berdampak panjang. Kelak di kemudian hari, ia berpotensi memiliki hubungan yang rumit dengan pasangannya, dan juga sulit berkomunikasi dan memecahkan masalah. Ia tidak memiliki referensi bagaimana membina hubungan keluarga sebab orangtuanya tidak memberikan contoh.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah….
Terkait dengan peran ayah dalam rumah tangga, sebagai seorang Muslim kita memiliki pedoman Al-Qur’an dan Hadits. Kita bahkan memiliki teladan yang patut untuk ditiru dalam menjalankan bahtera rumah tangga beserta pengasuhan anak, yaitu baginda besar Nabi Muhammad saw.
Rasulullah merupakan contoh ideal bagi para ayah dalam pengasuhan anak. Nabi sangat menyayangi keluarga, istri, anak serta cucunya. Berikut ini, beberapa contoh pengasuhan anak oleh Nabi Muhammad SAW.
Pertama, penuh kasih sayang. Dalam kitab “Muhammad, al-Insanu al-Kamil”, karangan Sayyid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Husaini, terdapat bab yang membahas tentang “Kasih sayang Nabi terhadap anak-anak, para yatim, janda, orang sakit, dll.” (رحمته ﷺ بالصبيان واليتيم والأرملة والمريض وغيرهم). Dijelaskan dalam suatu riwayat Nabi sangat senang mengusap kepala dan mencium cucunya.
وَمِنْ رَحْمَتِهِ ﷺ بِالصِّبْيَانِ: أَنَّهُ كَانَ يَمْسَحُ رُؤُوسَهُمْ وَيُقَبِّلُهُمْ، كَمَا جَاءَ فِي الصَّحِيحَيْنِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَبَّلَ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ الْحَسَنَ وَالْحُسَيْنَ ابْنَيْ عَلِيٍّ، وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ، فَقَالَ الْأَقْرَعُ: إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا قَطُّ! فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللّٰهِ ﷺ ثُمَّ قَالَ: مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ
Secara ringkas hadits ini menggambarkan bahwa suatu waktu Nabi mencium Hasan dan Husein bin Ali. Saat itu shahabat al-Aqra’ ibn Habis di sisi Nabi. Melihat itu, Aqra berkata, “Aku mempunyai sepuluh anak, tapi tidak pernah seorang anak pun yang kucium.” Kemudian Nabi melihat padanya, lalu berkata, مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ, “Barang siapa yang tidak menyayangi, maka tidak akan disayangi.” Ini hadits diriwayatkan oleh istri Nabi, Aisyah RA. Hadits yang shahih menurut riwayat Imam Bukhari dan Muslim.
Nabi tidak hanya menunjukkan kasih sayang pada keluarganya di ruang keluarga, namun juga di tempat umum (publik). Ya’la ibn Murrah RA menceritakan bahwa beberapa orang pergi bersama Nabi SAW memenuhi undangan makan malam, dan di perjalanan mereka menemukan Husein sedang bermain. Jadi Nabi berlari mendahului para sahabat dan merentangkan tangan beliau lebar-lebar, sementara Husein lari sambil tertawa-tawa hingga akhirnya Nabi saw berhasil menangkapnya.
Lalu Nabi meletakkan salah satu tangan beliau di dagu Hasan, dan tangan lain di belakang kepalanya, lalu menciumnya. Kemudian beliau berkata: “Husein berasal dariku, dan aku dari Husein, semoga Allah mencintai siapa pun yang mencintai Husein, sebab Husein adalah sebuah bangsa dari dirinya sendiri.” Demikian hadits yang disitir dalam buku karangan Muhammad Shalih Al-Munajjid, Cara Nabi Memperlakukan Orang di Berbagai Level Sosial (hlm. 197).
Riwayat-riwayat lain memperlihatkan kelembutan Nabi pada anak kecil, bahkan ketika terpaksa harus kena halangan (najis), beliau tetap menunjukkan kelembutan itu. Abu Laila ra berkata, “Aku sedang bersama Nabi SAW dan Hasan atau Husein sedang berbaring di dada atau perut beliau. Aku memperhatikan kalau ia (bayi itu) mulai pipis, lalu aku berdiri untuk mengambilnya. Nabi saw bersabda, ‘Biarkan anakku, jangan buat dia takut sampai dia selesai pipis.’ Lalu beliau bangun dan membilasnya dengan air, dan aku melihat bekas pipis itu hilang dengan cepat.” Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (18580), dan Shu’aib al-Arnaut menilainya shahih.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Betapa penuh kasih-sayangnya Rasulullah pada anak-anak, dicontohkan bahkan dalam menjalankan ibadah mahdloh, yakni sholat. Nabi memperlama sujudnya karena cucunya, Hasan dan Husain naik di punggungnya. “Aku tak suka membuatnya tergesa-gesa hingga dia memenuhi hajatnya” (Hadis riwayat al-Nasa’i).
Bercanda atau bersenda-gurau yang berfaedah dengan anak-istri merupakan hal yang disarankan Nabi. Diriwayatkan bahwa malaikat-malaikat tersenyum senang melihat jika ada suatu rumah yang di dalamnya terdengar senda-gurau keluarga. Bahkan saking halusnya sikap ulama terdahulu, ada yang mengajarkan agar kita tidak meneruskan mengetuk pintu untuk bertamu jika di dalamnya ada keluarga yang sedang bersenda-gurau.
Jamaah sholat Jumat yang dirahmati Allah…
Kelembutan dan rasa sayang Nabi yang diekspresikan dalam bentuk mencium cucunya, mengusap kepala dan bersentuhan fisik lainnya itu, menurut Muhammad Shalih Al-Munajjid dalam kitab yang telah disebut di atas, merupakan suatu tindakan yang di luar kebiasaan masyarakat Arab saat itu, dengan budayanya yang masih sangat maskulin. Laki-laki cenderung gengsi terlihat lembut bersikap terhadap anak. Nabi ingin memberi contoh perlunya mengubah interaksi orangtua-anak dan pentingnya menunjukkan ekspresi kasih-sayang.
Jamaah sholat Jumat yang dirahmati Allah…
Bagi kita saat ini, quality time atau menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga, biasanya diwujudkan dalam bentuk jalan-jalan, makan di luar atau kulineran, wisata selama weekend dan seterusnya. Tentu ini tidak keliru. Namun, tidak harus dengan ‘kemewahan’ seperti itu. Artinya, tidak harus keluar dari rumah, mengeluarkan uang.
Maka, kita bisa mencoba melakukan kegiatan-kegiatan bersama di rumah atau di lingkungan sekitar rumah, dengan istri dan anak. Membersihkan sepatu atau tas sekolah, menyiangi tanaman kebun halaman, masak bersama, adalah hal-hal yang perlu dicoba. Mencuci atau menjemur baju sebagai kewajiban bersama antara suami dan istri, juga bisa dibiasakan mengajak bersama dengan anak-anak. Ajakan itu sekaligus memberi contoh agar bersikap adil terhadap kewajiban-kewajiban rumah tangga, antara ayah dan ibu mereka.
Jika anak-anak masih kecil, kita bisa bantu anak-anak menjaga kebersihan tubuhnya seperti memotong kuku, membersihkan kotoran kuping, dan seterusnya. Hal-hal demikian sepertinya sepele, namun dalam suasana seperti itulah orangtua bisa menasehati anaknya dengan rileks, mengobrol santai, mengetahui dan memahami perkembangan anak. Anak juga bisa terbuka curhat kepada orangtuanya pada saat-saat seperti itu.
Gambaran di atas itulah akan tercipta apa yang kita sebut sekarang sebagai ‘menciptakan bonding’ atau ikatan-hati dengan anggota keluarga. Itu hal pertama.
Jamaah sholat Jumat yang dirahmati Allah.
Hal kedua. Menciptakan bonding secara spiritual. Menciptakan kedekatan atau bonding dengan keluarga tentu saja yang paling penting adalah bonding secara spiritual. Maksudnya adalah, anak-anak memiliki tautan referensi ketika ia ingin berbuat sesuatu. Berbuat baik ada yang dicontoh. Paling dekat dan pertama-tama selayaknya adalah berasal dari orangtuanya. Ditambah kemudian ia belajar mencari rujukan pada orang lain.
Atau ketika anak-anak terbersit ingin berbuat jelek, ia berpikir “Jika aku melakukan ini, bapak-ibuku pasti akan kecewa”, sehingga sang anak urung melakukannya. Jadi, anak memiliki ikatan terus dengan orangtuanya. Dan itulah yang akan menjadi amal jariyah bagi orangtuanya, tatkala mereka berhasil mentradisikan hal baik pada anaknya.
مَنْ سَنَّ فِي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ
Dari sinilah akan tercipta rantai keteladanan atau tradisi kebaikan yang nantinya diamalkan di kehidupan sosial yang lebih luas. Dari latihan “mengingat orangtua” tersebut, anak belajar menuju derajat ihsan, yakni “melakukan sesuatu karena seakan-akan melihat Allah, atau Allah pasti melihat kita, mengawasi kita”. Inilah yang difirmankan oleh Allah sebagaimana dibacakan dalam kutipan ayat 6 surat at-Tahrim, yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu agar terhindar dari api neraka”. Ini pendidikan utama yang perlu ditanamkan Ayah kepada anak-anaknya: bertaqwa kepada Allah dengan melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya sehingga dengan itu dapat terhindar dari api neraka. Jika alas dasarnya diperkuat, maka di atas itu baru diletakkan pendidikan-pendidikan yang lain, diberikan pengetahuan dan aktivitas-aktivitas yang lain pada anak.
Jamaah sholat Jumat yang dirahmati Allah.
Jika kita sebagai anak dulu mungkin tidak menerima dengan cukup perhatian dari orangtua terutama ayah, dengan segala keterbatasan kondisi saat itu, maka langkah pertama adalah menerimanya dengan ikhlas. Dan mendoakan hal terbaik untuk orangtua kita. Kita menyadari bahwa tidak semua keluarga tumbuh dalam kondisi ideal tersebut. Tidak semata-mata faktor orangtua yang tidak mau, namun ada kondisi dan berbagai faktor yang kompleks di luar dirinya yang menyebabkan hal itu.
Seiring waktu kita berusaha memahaminya. Membuka diri dan mencoba menerima dan memaafkan atas ketidaksempurnaan itu. Apa yang lebih penting adalah menjadikan itu sebagai evaluasi agar tidak tercipta kembali saat kita menjadi orangtua/ayah dan berusaha menjadi ayah yang baik, menapaki masa depan yang lebih baik bersama keluarga yang dibangunnya.
Selanjutnya, untuk kondisi sekarang dan masa depan yang lebih baik, mari kita menekadkan diri jangan sampai nantinya tumbuh keluarga-keluarga yang fatherless. Apa jadinya jika generasi muda Indonesia nanti adalah generasi yang fatherless? Mahasiswa yang sekarang usia 19-23 atau 24 tahun, harus tumbuh menjadi generasi emas. Generasi yang membina keluarganya menjadi keluarga emas. Membangun tradisi baru, menjadi keluarga yang ‘FATHERFULL’, secara lahir, batin dan spiritual.
Amin ya rabbal ’aalamin.
Maka, mari kita berusaha menjadi ayah, menjadi pendidik anak, menjadi murabbi atau perawat anak, baik secara lahir, batin, dan spiritual.
بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ، أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا فَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْعَظِيمَ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلٰى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهٰى وَزَجَرَ. فَقَالَ تَعَالٰى: إِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤىِٕكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ

