Mungkin Anda tidak mengenalnya. Dia tidak seperti mbah Minto Klaten yang sedang viral di media sosial. Saya pun mengenalnya sekitar satu tahun terakhir ketika pindah rumah ke kampung Gerjen di wilayah Kartasura dekat kampus IAIN Surakarta.

Saya mulai akrab dengan mbah Warso ketika simbah berumur sekitar 88 tahun ini mulai aktif menjadi jamaah salat Subuh di musola al-Iman yang terletak di kampung Gerjen. Sebelumnya, kata tetangga, mbah Warso dipasrahi menjaga sebuah masjid milik sekolah Muhammadiyah di jalan Slamet Riyadi, Kartasura.

Tapi lambat laun mbah Warso sudah tidak lagi kesana. Konon, ketika masih aktif menjaga, beliau berangkat sekitat jam 2.30 dini hari ke masjid tersebut. Bila berjalan kaki, mungkin butuh sekitar 30 menit dari rumah. Ketika tidak aktif di sana, beliau lalu aktif di musola kampung.

Selepas salat Subuh berjamaah, biasanya saya jalan-jalan pagi muter kampung. Kadang berakhir makan bubur jenang khas Solo di salah satu warga kampung sebelah. Tetapi sejak adanya Covid-19, kebiasaan ini tidak lagi jalan. Biasanya, kami jalan-jalan sendiri dan tidak bersama-bersama seperti kebiasaan sebelumnya.

Suatu waktu, ketika sedang jalan pagi, beliau bertanya soal tata cara salat jenazah terutama apa yang dibaca pada rokaat pertama dan seterusnya. Tak terhitung beberapa kali mbah Warso bertanya hal ihwal urusan ibadah. Saya melihat mbah Warso betapa sangat antusias jika sudah bertanya perihal tata cara beribadah.

Jalan-jalan Subuh tidak hanya jadi ruang untuk mengaji, tapi juga bercerita banyak hal mulai dari anaknya yang mulai gemar bersedekah dan antusiasnya angon bebek di rumah.

Beliau terbilang sregep mendatangi acara tahlilan dan yasinan. Seperti Ramadan kemarin ada undangan tahlilan, saya sudah janjian berangkat bersama pada sore jam 15.30. Hingga jam tersebut mbah Warso tidak datang akhirnya saya putuskan berangkat sendiri. Ternyata, kata istri, mbah Warso datang ke rumah untuk mengajak bareng walaupun telat. Akhirnya, saya ketemu di tempat shohibul hajat yang mengundang tahlilan.

Pada Ramadan kali ini, mbah warso terbilang rajin tarawih dan menyimak tadarusan. Musola kami memang mengadakan tarawih dengan menerapkan protokol kesehatan dan meniadakan tradisi jaburan, yakni makan bareng setelah tarawih. Tadarusan juga dilakukan dengan menjaga jarak.

Mbah Warso hingga subuh terakhir Ramadan masih ke musola. Dengan membawa sajadah sendiri dari rumah dan biasanya tidak langsung pulang ketika habis salat subuh. Beliu, biasanya duduk sambil menyandarkan tubuhnya yang kurus ke tembok musola.

Itulah terakhir saya bertemu mbah Warso. Ketika pengumpulan zakat fitrah di musola pada siang hari, ternyata mbah Warso jatuh saat cari makan bebeknya. Akhirnya, dibawa ke rumah sakit karena tiba-tiba badannya tidak bisa digerakkan lagi.

Malam lebaran dan malam takbiran yang semestinya mbah Warso ikut serta seperti rencananya pada malam-malam Ramadan harus dilewatinya di rumah sakit.

Tanggal 2 Syawal ini, melalui grup WA Rt, pagi hari saya terima kabar mbah Warso meninggal dunia. Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Tidak hanya kampung kami kehilangan sesepuhnya, tapi juga kehilangan salah satu orang tua yang rajin ke musola tiap subuh.

Ketika sedang menunggu kedatangan jenazah, seorang tetangga kampung yang lebih lama tinggal dari saya bercerita demikian. “Saya belum pernah menyaksikan ada orang tua di kampung yang ketika meninggal, berbulan-bulan sebelumnya begitu rajin ibadah seperti mbah Warso”, katanya.

Testimoni itu bagi saya sudah cukup menjadi sebuah contoh. Saya yakin beliau husnul khotimah. Pada Ramadan ini beliau ikut tiga kali khataman Al-Quran di musola. Semoga Al-Quran menjadi temannya di alam kubur dan memberi syafaat kelak di hari kiamat.

Di pojok musola di mana mbah Warso biasa bersandar untuk salat dan menyimak tadarus insyaallah menjadi saksi kelak di akhirat.

Sungguh bahwa semua adalah milik Allah dan Allah pula yang akan mengambilnya.

Sugeng tindak mbah…