islamsantun.org-,Secara pribadi, saya tak mengenal secara langsung dengan Gus Ulil Abshar Abdalla, tapi saya sudah mengenalnya melalui tulisan yang saya baca dalam buku ‘Membakar Rumah Tuhan’ di tahun 2009, atau tepatnya saat semester 2 kuliah S1. Bagi saya, gagasan Gus Ulil tentang wacana keagamaan (yang kemudian juga banyak dituliskan di islamlib) menjadi gagasan yang sangat segar. Apalagi waktu itu saya baru semester 2, lagi seneng-senengnya dengan membaca buku-buku wacana. Termasuk soal Islam liberal.

Sayangnya teman-teman saya, apalagi yang waktu itu aktif di organisasi kemahasiswaan yang ‘ke kanan-kananan’ dan semacamnya merasa keberatan dengan bacaan saya. Padahal kan saya baca sendiri, beli buku sendiri, dan untuk saya sendiri.

Apalagi saya waktu sempat tinggal di asrama kampus untuk beberapa semester dalam program beasiswa pengembangan bahasa, dengan sesama penerima beasiswa kita jadi sering diskusi. Akhirnya, diskusi soal Islam Liberal itu sering muncul dalam waktu-waktu santai di luar jadwal resmi asrama.

Soal perdebatan itu saya kira tak penting, mahasiswa memang harus berdinamika dalam wacana sebelum terjun ke aksi nyata. yang jadi masalah adalah buku saya yang berjudul ‘Membakar Rumah Tuhan’ itu dipinjam oleh teman saya dan sampai sekarang ngga tahu ujungnya. Itu masalahnya. J

Buku lain yang juga menegaskan pemikirannya soal Islam Liberal Gus Ulil termuat dalam buku berjudul ‘Menjadi Muslim Liberal’. Saya juga punya buku lain yang di dalamnya juga memuat tulisan Gus Ulil. Judulnya ‘Islam Liberal & Islam Fundamental; Sebuah Pertarungan Wacana.’ Saya dapat buku ini juga tak berselang lama dari buku ‘Membakar Rumah Tuhan’.

Saya memang suka dengan gagasan-gagasan Islam yang terbuka seperti yang disampaikan Gus Ulil. Ya, seger dan terbuka.

Seiring berjalannya waktu, saya ‘hijrah’ ke Jakarta, tepatnya tahun 2012. Selain bekerja, saya juga membantu sebuah riset soal Muktamar NU di Makassar tahun 2010 yang digagas oleh Pak Caswiono Rusydy CW. Waktu itu, saya dapat tugas untuk mewawancarai beberapa narasumber; K.H. Miftachul Akhyar, Alm. KH. Slamet Efendi Yusuf, Alm. Gus Sholahudin Wahid, Prof. Ali Maschan Moesa dan Gus Ulil. Sementara teman saya, Mas  Muhammad Robbah Nala Yudha kebagian untuk wawancara dengan Alm. Mbah Moen di Sarang, Rembang.

Saya sangat antusias untuk wawancara dengan beliau-beliau waktu itu. Saya sowan satu per satu dan alhamdulillah Gus Ulil juga memberikan waktu untuk saya wawancarai di sekitar Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat. Waktunya juga cukup lama dan itu pertemuan pertama secara empat mata dengan Gus Ulil, ngobrol soal kontestasi dan dinamika Muktamar Makassar.

Sayang, sepertinya itu pertemua empat mata pertama yang kemudian sampai sekarang belum pernah terulang lagi. Hehe.. Kalau ngaji online kan rasanya sih seperti empat mata karena kita serasa berhadapan langsung dengan beliau, tapi sebenarnya kan banyak yang ngikut. Jadi bisa ribuan mata. Hehe…

Dan dari tulisan Gus Ulil yang saya baca baik di buku ‘Membakar Rumah Tuhan,’ maupun ‘Islam Liberal dan Islam Fundamental’, kini saya juga punya bukunya juga yang berjudul ‘Menjadi Manusia Rohani: Meditasi-meditasi Ibnu Atha’illah dalam Kitab al-Hikam.”

Lalu saya berkesimpulan (tentu tidak sambil ngopi, karena siang-siang bulan ramadhan. Hehe…), kalau kita mau membaca secara utuh karya-karyanya, kita akan bisa melihat transformasi pemikiran beliau. Dari yang dikenal sebagai ‘dedengkotnya’ Islam liberal di Indonesia, bahkan sampai ada fatwa yang memvonis Gus Ulil halal darahnya, kini beralih menjadi penyaji keilmuan sufi.

Tak tanggung-tanggung Gus Ulil berhasil menyajikan Kitab Ihya ‘Ulumuddin yang merupakan karya fenomenal Imam al-Ghazali dengan konteks yang sangat kekinian, mudah dicerna, dan juga mengajak santrinya untuk mendengar lebih banyak soal pemikiran dunia Barat yang mungkin bagi sebagian orang itu ‘asing’.

Sebuah hal yang menurut saya ‘menampar’ secara halus kelompok-kelompok yang sempat memfatwakan Gus Ulil halal darahnya, sesat dan sebagainya. Belum tentu mereka yang koar-koar begitu ilmunya sekaliber Gus Ulil. Ya kan? Hehe.

Saya jadi inget, teman saya yang dapat kesempatan wawancara dengan Alm. Mbah Moen di Sarang sempat menyampaikan jawaban dari Alm. ketika ditanya pandangan beliau perihal Gus Ulil dan gagasannya. Apa kata beliau, beliau berpesan “ngono yo ngono neng ojo ngono, ngono ngono Ulil yo santriku,” begitu sedikit potongannya. Lanjutannya masih ada tapi saya tidak perlu tulis di sini.

Ya, membaca tulisan Gus Ulil adalah membaca transformasi pemikiran dan membaca perubahan. Jadi ingat ngendikane Gus Mus, “Orang yang tidak mampu melihat kekurangannya sendiri, sulit bisa melihat kelebihan orang lain. Boleh berhenti sekolah, tapi jangan berhenti belajar.

Salam sungkem

Batavia, 20 April 2021