Tuan Guru H. Rafai bin H. Mahmud berasal dari daerah Jaranih, sekitar 141 Km dari kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Ia dilahirkan pada tahun 1897. Ketika itu kondisi Tanah Banjar sedang mengalami kemelut perang menghadapi penjajah Belanda, perang ini dikenal dengan sebutan “Perang Banjar” (1859-1905). Peperangan ini mengakibatkan sulitnya perekonomian dan sosial masyarakat Banjar, sehingga mereka terpaksa bermigrasi secara besar-besaran ke luar pulau Kalimantan.

Menurut keterangan Anang Syukri (menantu Tuan Guru Rifai), setelah berbekal banyak ilmu pengetahuan agama selama di Tanah Banjar, Tuan Guru Rifai yang ketika itu masih bujangan memutuskan diri untuk merantau ke Batu Pahat, Johor, Malaysia. Di Batu Pahat ini beliau berkerja dan mencari kehidupan yang lebih baik dari yang sebelumnya, namun belum mendapatkan hasil yang diharapkan. Maka Tuan Guru Rafai kembali merantau ke Indragiri. Di Indragiri ini beliau mencari lahan perkebunan yang baik untuk bertanam kelapa.

Beliau menyinggahi sepanjang aliran Sungai Indragiri. Ia pernah singgah di Sapat dan Pulau Palas, tetapi tidak cocok. Akhirnya beliau menemukan lahan di Bantalan, parit 7 Tembilahan. Di Bantalan ini beliau membuka lahan baru dan menanaminya dengan kelapa hingga 14 baris atau sekitar 500-an pohon kelapa. Lahan ini sekarang telah banyak dijual oleh ahli waris beliau, karena lahannya terendam dan kelapanya tidak menghasilkan buah yang produktif lagi.

Keterangan dari H. Imran Syarif (murid Tuan Guru Rafai) yang disampaikan oleh Ustadz Rajuli (Pimpinan Pondok Pesantren Yasin Tembilahan), bahwa Tuan Guru Rafai sebelum ke Bantalan juga pernah menetap di Singapura.  Di Singapura beliau berguru kepada seorang alim yang berasal dari Tanah Sunda yang memelihara burung perkutut. Gurunya inilah yang menyarankan agar Tuan Guru Rafai belajar dan menambah ilmu kepada Tuan Guru Sapat Syekh Abdurrahman Siddiq al-Banjari (w. 1939) yang waktu itu menjabat sebagai mufti Kerajaan Indragiri, berkedudukan di Hidayat Sapat.

Tuan Guru Rafai menambah pengetahuan agamanya kepada Tuan Guru Sapat tetapi tidak menetap di Hidayat Sapat, melainkan pulang pergi bila ada pengajian saja, sebab ia juga sambil mengurus kebun kelapa di Bantalan. Di antara kawan seperjuangan Tuan Guru Rafai ketika menuntut ilmu di Hidayat Sapat adalah Tuan Guru H. Alamin (Sungai Piai) dan Tuan Guru H. Sabran Rahmat (Tembilahan).

Menurut Ustadz Rajuli, Tuan Guru Sapat pernah memberikan amalan: “hasbiyallah wa ni’ma al-wakil” kepada Tuan Guru Rafai. Bahkan Tuan Guru Sapat berpesan kepada orang-orang yang datang kepadanya, kurang lebih begini: “Kalau orang Tembilahan susah menemui aku nanti, temui saja Guru Rifai cukup juga sudah, sama saja”. Pesan Tuan Guru Sapat ini mengisyaratkan pengakuan tentang kealiman Tuan Guru Rafai.

Tuan Guru Rafai berangkat menunaikan ibadah haji melalui jalur laut menggunakan kapal  dari pelabuhan Batu Pahat, Malaysia. Menurut keterangan Ustadz Rajuli yang bersumber dari H. Sahlan (murid Tuan Guru Rafai) bahwa Gurunya itu sempat bermukim di Mekah kurang lebih selama 5 tahun. Dengan melihat masa yang relatitif lama ini, maka memungkinkan Tuan Guru Rafai sempat belajar dan mengikuti khalaqah-khalaqah di Masjidil Haram. Namun tidak diketahui secara pasti, siapa guru-guru beliau ketika di Mekah itu.

Selain bertani kelapa di Bantalan, Tuan Guru Rafai membuka pengajian atau yang disebut dengan istilah lokal “Babacaan”. Babacaan ini berlangsung pada pagi Jum’at untuk kaum Perempuan, dan malam Jum’at untuk kaum Laki-laki. Beberapa kitab yang diajarkan Tuan Guru Rafai pada majelis Babacaan tersebut antara lain, kitab Kifayat al-Ghulam fi Bayani Arkan al-Islam karya Syekh Ismail al-Khalidi al-Minangkabawi (w. 1858), kitab Sabilal Muhtadin li Tafaqquh fi Amriddin karya Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (w. 1812), dan kitab Perukunan karya Mufti Jamaluddin bin Syekh Arsyad al-Banjari, pendapat lain mengatakan bahwa Perukunan  merupakan karya dari Fatimah cucu Syekh Arsyad al-Banjari (w. 1828).

Dari beberapa kitab yang diajarkan oleh Tuan Guru Rafai disimpulkan bahwa kitab-kitab yang tersebut merupakan kitab-kitab beraksara Melayu-Jawi. Simpulan ini diperkuat oleh keterangan menantu beliau, Anang Syukri menuturkan bahwa Tuan Guru Rafai tidak pernah mengajarkan kitab berbahasa Arab atau Kitab Kuning kepada masyarakat. Beliau hanya mengajarkan kitab-kitab Melayu dan fokus kajian beliau adalah fiqih. Sehingga kealiman beliau di bidang fikih tidak dapat diragukan lagi, sayangnya beliau tidak meninggalkan karya tulis. Tetapi Tuan Guru Rafai pernah beberapa kali menuliskan tata cara bertahlil yang beliau salin dari kitab Kifayat al-Ghulam kepada masyarakat yang memintanya.

Menurut Ustadz Rajuli keahlian beliau di bidang Fiqih inilah yang membuat Tuan Guru Rafai berani mendirikan Masjid Jami’ Syuhada di Bantalan. Sebab aturan pendirian masjid dalam mazhab Syafi’i, satu Masjid Jami’ hanya dibenarkan ada pada sebuah kampung. Tentu pembangunan ini memperhatikan jarak antara masjid al-Huda di Tembilahan dengan Masjid Jami’ di Bantalan, sehingga dibolehkanlah untuk mendirikan shalat jum’at.

Tuan Guru Rafai merupakan anak tertua dari 12 bersaudara, beberapa orang saudaranya tersebut antara lain, H. Idar, Sulaiman, Salamiah, Aisyah, dan Salamah. Tuan Guru Rafai memiliki empat orang istri: Pertama, Siti Khadijah berasal dari Jaranih dinikahinya dan wafat di Batu Pahat Malaysia meninggalkan seorang anak perempuan bernama Khadijah. Kedua, Hamsah berasal dari Jaranih. Dari istrinya yang kedua ini, Tuan Guru Rafai memperoleh lima orang keturunan, yaitu Aisyah, Ruslan, Siti Sarah, Abdul Razak, dan Salasiah. Ketiga, Aisyah (berasal dari Kuala Muda) dan Keempat, Habibah (berasal dari Sungai Raya). Istrinya yang kedua, ketiga, dan keempat dinikahinya setelah mukim di Bantalan.

Semasa hidupnya, Tuan Guru Rafai kerap dijemput oleh masyarakat untuk mengisi pengajian dan berceramah pada peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi dan Isra’ Mi’raj, bahkan untuk menyembelih hewan sapi atau kambing. Selain itu, ada banyak orang yang berdatangan meminta doa dan amalan dari beliau, yang biasa disampaikan lewat lisan dan terkadang beliau tuliskan. Di antara murid-murid Tuan Guru Rafai yang setia dan meneruskan perjuangan beliau di Tembilahan antara lain adalah H. Imran Syarif, H. Satar, H. Alwi Syarif, H. Sahlan (Uuh), dan H. Muji.

Di akhir kehidupannya Tuan Guru Rafai menderita lumpuh sehingga sulit untuk berjalan, bahkan untuk mengimami shalat beliau hanya berduduk. Beliau wafat pada tahun 1987 dan dimakamkan di depan Masjid Jami’ Syuhada di Bantalan atau sekarang di kenal dengan Jalan Syuhada, Parit 7, Tembilahan. Penyelenggaraan jenazah Tuan Guru Rifai dilaksanakan oleh murid beliau H. Imran bin H. Syarif.

Sumber:

Wawancara dengan Anang Syukri (Menantu Tuan Guru Rafai, kelahiran 1947), 7 Januari 2021.

Wawancara dengan Salasiah (Anak Tuan Guru Rafai, kelahiran 1950-an), 7 Januari 2021.

Wawancara dengan Ustadz Rajuli (Pimpinan Pondok Pesantren Yasin Tembilahan, kelahiran 1979), 7 Januari 2021.