Masa Lahir dan Menuntut Ilmu

KH. Ahmad Dardiri lahir di Ponorogo pada tanggal 17 Desember 1938. Pendidikan beliau dimulai dari Sekolah Dasar di Sekolah Rakyat sampai Aliyah di Kembangsawit. Selain mengeyam pendidikan formal, beliau juga mondok di beberapa pesantren, seperti di Mbacem Mediun, Ngedongsari Nganjuk, dan di Lasem asuhan KH. Ma’shum (1868-1972). Pesantren terakhir inilah tempat beliau menimba ilmu paling lama. Selain mondok, beliau juga mengikuti kajian setiap ramadhan (kajian poso’an) di Lirboyo Jawa Timur.

Menjadi Pengasuh Pesantren

KH. Dardiri datang ke Mugomulyo bersama KH. M. Mahfudz dan Husni (H. Amin) ke Mugomulyo pada bulan November 1967 untuk dijadikan pengasuh Pondok Pesantren Mugomulyo. Kedatangan mereka bertiga atas usulan masyarakat yang mengutus H. Mansur untuk menghadap kepada K. Munirul Ichwan di pondok pesantren Kembangsawit yang meminta tenaga pengasuh pondok pesantren Mugomulyo yang baru saja didirikan.

Menunaikan Ibadah Haji

Pada tahun 1971 KH. Dardiri menunaikan ibadah haji. Menurut Informasi Gus Hakam (putra ke tiga) bahwa saat di Makkah beliau ditawari untuk tinggal di Makkah dan menjadi imam disana serta akan diberikan kesempatan mengajar di masjidil haram. Permintaan ini datang dari Ulama bugis yang bernama Syaikh Yasin Yasur al-Bugisi. Permintaan ini beliau tolak secara halus lantaran di Mugomulyo sedang membangun pesantren dan disaat yang sama mengkader sepuluh orang. Bahkan beliau mendapat ijazah untuk membaca kitab-kitab dari Syaikh Maliki.

Kitab-kitab yang diajarkan di Pesantren

Berdasarkan wawancara penulis dengan KH. Masyhuri yang saat ini menjadi pengasuh dan alumni perdana, bahwa saat di Mugomulyo beliau banyak mengajar kitab, seperti, bidang tafsir adalah Tafsir Jalalain, bidahg hadis kitab Riyadhusshalihin, bidang Fiqh kitab Fathul Muin, bidang Tasawuf kitab Ihya ulumuddin, kajian puasa menggunakan kitab al-Azkar al-Nawawi, Bulughul Maram, Bidayatul Hidayah dan masih banyak kitab-kitab lain yang beliau ajarkan.

Karya Tulis

 Banyak diantara karya-karya beliau yang belum diterbitkan, diantaranya adalah kumpulan khutbah Jum’at yang beliau tulis lebih dari 50 tema, kemudian catatan-catatan kecil yang digunakan untuk mengajar, dan sampai saat ini naskah-naskah itu masih tersimpan rapi di rumah beliau yang berada di Ponorogo.

Menjadi Anggota dewan dan Keistimewaan

Selain mengasuh pesantren, beliau pernah menjadi Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari partai Golkar (1977- 1982). Disaat menjadi dewan ini beliau sering kali menjadi sumber rujukan terkait persoalan-persoalan agama. Diantara sekian banyak kelebihan beliau adalah mampu mengajarkan berbagai kitab dengan banyak cabang ilmu dan dikenal memiliki penguasaan ilmu nasab yang  luar biasa, hafal nasab ulama dan juga masyarakat sekitar.

Wafat

Salah seorang tokoh segudang ilmu ini Allah panggil keharibaan-Nya pada Jum’at malam pukul 12:30  tanggal 15 April 2006 setelah dirawat di RSUD Ponorogo. Diakhir hayat, beliau meninggalkan seorang istri bernama Hj.wafirotin  Binti KH. Masykur, tiga putra dan tiga putri yakni, Mamluatul Hikmah, Atina Abidah, Hakam Fuadie istri Rosita Elyati, Ahmad Dzakirillah, Royya Maftuhah, dan Akrimi matswah.