Kiai Muhammad Nasri Hasan kecil lahir di daerah sungai Pinggan. Terdapat perbedaan data mengenai tempat kelahirannya. Versi Kartu Tanda Penduduk di Enok dan versi Ijazah beliau di sungai Pinggan. Setelah dikonfirmasi kepada putra-putri beliau, data validnya adalah dilahirkan di sungai Pinggan dan masa kecilnya di Sungai Lokan dan Tanjung Baru. Kiai Muhammad Nasri Hasan kecil mengenyam pendidikan di Madrasah Nurul Iman Jambi di bawah pimpinan Kepala Sekolah Agama H. M. Saman dengan Pengurus Umum Sekolah Agama Madrasah Nurul Iman H. M. Dja’far. Beliau tamat pada tanggal 6 Desember 1964 M (tanggal 2 Sya’ban 1384 H).

Setelah menamatkan pendidikan dari ponpes Nurul Iman beliau mendirikan beberapa lembaga, diantaranya mendirikan Madrasah Nurul Iman Sungai Lokan pada tahun 1964. Salah satu Kesamaan nama lembaga yang beliau dirikan dengan nama pesantren di Jambi (tempat beliau belajar) dalah mengambil berkah. Kemudian beliau membangun Pesantren Faturrohman parit Karyawan tepatnya pada tahun 1984 M. Lalu beliau membuka TK/MDTA Nurul Iman diparit 13 Tembilahan. Pada tahun 1994 mendirikan lagi pondok pesantren Sa’adatuddaraein di Syuhada Kecamataan Enok. Pada tahun 2007 membangun Pondok Pesantren Ummul Qur’an Al Islami di Tembilahan.

Meski tidak sezaman dengan Syaikh Abdurrahman Siddiq, KH. Muhammad Nasri Hasan belajar langsung dengan murid  Tuan Guru Sapat, yakni Tuan Guru H. Lukman di Enok dan Tuan Guru Jali di Sungai Perak. Diantara guru-guru beliau adalah KH. Abd. Qodir Ibrahim, KH. Saman Muhi, KH. Abd. Qodir Kuaf. Selain belajar dengan para guru tersebut, beliau belajar mengaji kepada ulama tersohor di kota Tembilahan seperti KH. Bustami Qadri (guru tilawah dan guru tajwid) dan KH. Thalhah Ara’i, dimana keduanya pernah belajar di Makkah al-Mukarramah.

Sebagai seorang guru sekaligus ulama beliau memiliki murid yang banyak meski tidak tercatat secara detail. Menurut informasi anak-anaknya, diantara murid beliau yang masih hidup sampai saat ini adalah Ustad KH. Romli di Rumbai dan KH. Sarbunus di sungai lokan.

Di antara kawan seperjuangan beliau ketika belajar di Madrasah Nurul Iman Jambi antara lain, alm. KH. Syarkawi Hasan (cucu Syekh Abdurrahman Siddiq) KH. Mukhtar Awang (mantan Kepala Kantor Departemen Agama Kab. Inhi) dan KH. Mukhtar Awang (alm) sejauh pengamatan penulis belum ditemukan karya beliau, namun banyak masyarakat datang menemui untuk meminta fatwa atau pertanyaan. Untuk menjawab pertanyaan tersebut beliau menulis jawaban dalam secarik kertas, lalu diserahkan langsung kepada penanya.

Menurut Ust. H. Mahili, al-Marhum mengumpulkan anak-anak dalam rentang satu minggu sekali untuk mendengar kajian beliau dan Ust. H. Mahili menyalin apa yang disampaikan dalam bentuk buku. Kitab yang dihafal dan diajarkan di pesantren setiap malam Rabu dan sore Minggu adalah Aqa’idul Iman karya Syekh Abdurraham Siddiq

Salah satu di antara banyak kelebihan beliau adalah sangat hafal tiga kitab. Pertama, kitab Asrar ash-Shalah Min Uddah kutub al Mu’tamadah (selesai ditulis tahun 1334 H/1915 M, diterbitkan di Singapura: Matba’ah Ahmadiah, 1931M). Kedua, kitab Aqaid al Iman (selesai ditulis 1919 M. diterbitkan di Banjarmasin, 1984 M). Kedua kitab ini merupakan karya Syaikh Abdurraham Siddiq. Ketiga, kitab Bainama Qishatul Mi’raj Karya Syaikh Imam Najmuddin al-Ghoity ad-Dardiri. Kekuatan hafalan ini dibuktikan dari informasi putra putri beliau, bahwa setiap satu minggu sekali beliau mengumpulkan mereka untuk mendengarkan kajian tiga kitab ini dan mereka mencocokkan apa yang beliau sampaikan sama persis dengan kitab aslinya serta tidak ditemukan kesalahan sedikitpun.

Ust. Ahmad Hafiz salah satu putra beliau menyampaikan pesan yang sering disampaikan almarhum kepada anaknya baik secara personal maupun saat bersama-sama, “abah tidak bisa mewariskan harta, kebun, tapi hanya bisa mewariskan pesantren, jaga!.”

Ulama kenamaan di Kabupaten Indragiri Hilir ini wafat pada 20 September 2020 dalam usia 78 tahun di RSUD Puri Husada. Selamat jalan Kiai…